Feature

Bersih-Bersih Geng Solo Dimulai?

38
×

Bersih-Bersih Geng Solo Dimulai?

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto melantik empat jabatan menteri dan satu wakil menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 8 September 2025. (Foto: BPMI Setpres)

Reshuffle Kabinet Merah Putih kali ini bukan hanya soal bongkar pasang kursi menteri, tetapi juga memunculkan spekulasi: benarkah Presiden Prabowo mulai merapikan jejak geng Solo?

Oleh Ulul Albab Ketua ICMI Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Reshuffle kabinet selalu membawa drama. Tapi kali ini, drama itu terasa lebih kental. Bukan hanya karena Sri Mulyani turun, bukan sekadar karena ada kementerian baru bernama Haji dan Umrah, melainkan karena terselip aroma lain: rumor bahwa Presiden Prabowo mulai melakukan “bersih-bersih geng Solo.”

Dari Siang ke Sore

Sejak siang hari isu reshuffle sudah ramai. Nama-nama yang digeser beredar di grup WhatsApp politisi, wartawan, sampai tukang ojek langganan.

Baca juga: Lima Menteri Direshuffle

Dan benar saja, Senin sore itu, pukul empat, di Istana Negara, Sri Mulyani resmi turun. Bersama beberapa nama lain, kursinya berpindah.
Namun yang lebih menarik justru bukan siapa yang masuk, melainkan siapa yang keluar.

Geng Solo dan Kekuasaan

Dalam lima tahun terakhir, kita sering mendengar istilah “geng Solo.” Sebutan itu lahir karena banyak figur penting di pemerintahan sebelumnya berasal dari lingkaran dekat Presiden Jokowi. Ada yang lahir di Solo, ada yang berkarier di sana, ada pula yang sekadar ikut terbawa arus.

Baca Juga:  Viral WNI Berjilbab Jadi Tentara Amerika, Fenomena Apa?

Kini, satu per satu dari mereka mulai kehilangan kursi. Ada yang digeser ke posisi lain, ada yang dibiarkan kosong, ada pula yang pelan-pelan dipinggirkan. Publik pun menafsirkan: Prabowo sedang merapikan rumahnya.

Satir Politik

Dalam politik, tak ada istilah “teman abadi.” Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Maka tak heran bila rumor “bersih-bersih” ini makin ramai. Prabowo mungkin tak akan pernah mengakuinya, tetapi publik bisa membaca bahasa tubuh kekuasaan.

Baca juga: Sosok Gus Irfan, Menteri Haji dan Umrah Pertama RI

Kursi Menko Polhukam yang ditinggalkan Budi Gunawan? Kosong. Kursi Menpora? Kosong. Publik bertanya-tanya: kosong sementara, atau memang sengaja dikosongkan untuk menandai babak baru?

Ekonomi dan Simbol

Pencopotan Sri Mulyani punya bobot lebih dari sekadar ganti menteri. Ia adalah simbol. Di dalam negeri, ia sering dipandang sebagai “penjaga kas” yang kerap membuat politisi frustrasi karena tak mau menuruti permintaan dana. Di luar negeri, ia simbol kredibilitas.

Baca juga: Abdul Kadir Karding Direshuffle, Benarkah gara-gara Main Domino?

Baca Juga:  Uzbekistan dan Kebangkitan Jalur Sutra Baru dalam Diplomasi Wisata Islam

Maka ketika Sri turun, publik tak hanya melihat sisi ekonomi. Mereka juga membaca sisi politik: apakah ini tanda bahwa Prabowo ingin memutus rantai lama, termasuk rantai geng Solo?

Reshuffle sebagai Pesan

Reshuffle Senin sore itu terasa bukan sekadar administrasi, tetapi pesan politik yang terang-benderang: Presiden ingin kabinetnya bersih dari bayangan masa lalu dan lebih berwajah Prabowo sendiri.
Pertanyaannya: apakah ini langkah awal menuju konsolidasi penuh? Ataukah hanya penyesuaian sesaat untuk meredam tekanan pasar dan publik?

Penutup

Senin sore itu, Sri Mulyani turun. Tapi yang naik bukan sekadar Purbaya di kursi Menkeu, atau Irfan Yusuf di kursi Menteri Haji dan Umrah. Yang naik adalah sinyal bahwa Prabowo mulai membersihkan kabinet dari jejak lama.

Entah benar, entah hanya rumor, publik sudah lebih dulu percaya: era geng Solo di kabinet mulai redup, dan babak baru di bawah komando penuh Prabowo sedang dimulai. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni