
Belajar dari kemampuan Cina menyaingi ekonomi dan teknologi Barat, Presiden Prabowo Subianto mencoba meniru dengan membangun kemandirian ekonomi meski kritikan datang bertubi-tubi.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Sepekan terakhir Cina menggetarkan dunia dengan meluncurkan inovasi teknologi. Kali ini memperkenalkan internet 10G pertama di dunia.
Pekerjaaan kolaborasi Huawei dan Unicorn yang di-backing oleh Presiden Xi Jinping.
Teknologi internet 10G mampu menyajikan kecepatan download 9834 Mbps dan upload hingga 1008 Mbps. Kecepatan internet 10G Cina itu melebihi kecepatan internet yang digunakan Arab Saudi dan Singapura.
Xi Jinping mendorong akselerasi industri drone di negaranya. Tak pelak kemudian Cina dijuluki sebagai raksasa drone di dunia.
Cina juga dikenal sebagai pencetus kereta api cepat dan stabil bahkan bisa melewati landasan pasir yang labil dan rawan kecelakaan.
Salah satu contoh kereta cepat itu adalah Shanghai Maglev Train dengan kecepatan 300 Km/jam. Merupakan kereta listrik komersial tercepat di dunia dengan rute Pudong International Airport ke Stasiun Longyang, Shanghai.
Kereta ini mulai beroperasi pada tahun 2004 dan menjadi contoh keberhasilan Cina dalam mengadopsi teknologi Maglev dari Jerman.
Xi Jinping mewujudkan cita-cita Cina yang mandiri pangan, mandiri energi, mandiri teknologi.
Demikianlah akselerasi Cina modern yang selalu sukses bikin dahi Donald Trump mengkerut.
Trump sulit melintasi inovasi besar Xi Jinping yang punya pengalaman keras di masa kecil karena ayahnya, Xi Zhongxun, terlibat kemelut politik dengan Mao Zedong, hingga dipenjara. Ayahnya dituduh anti komunis karena menolak praktik Revolusi Kebudayaan.
Belajar dari perjalanan politik ayahnya, Xi Jinping merangkak pelan-pelan saat diterima masuk Partai Komunis. Dia pelajari sosialisme dan komunisme hingga bisa menempati posisi penting partai.
Dia bisa menyusun konsep politik ekonomi untuk kemajuan Cina dalam beberapa bukunya. Akhirnya dengan langkah tegap Xi Jinping memimpin Cina modern yang lincah dan menggoda Barat.
Kini dia menjadi simbol raksasa Tiongkok yang disegani dan ditakuti dunia. Liku-liku kepemimpinannya mengguncang zaman.
Tidak terdengar tiba-tiba Cina membangun proyek-proyek raksasa. Pada akhirnya negaranya dipilih menjadi kiblat negara di dunia dalam model pembangunan dan inovasi teknologi.
Visi kemandirian ekonominya melaju bagi kesejahteraan rakyat dalam sistem pemerintahan yang solid. Pemerintahan menganut komunis sentralistik, tapi ekonominya sistem liberal kapitalistik.
Ganti Kiblat
Presiden Prabowo Subianto mencoba menengok dan belajar dari Xi Jinping. Sikapnya merendah untuk membawa negaranya mandiri ekonomi dan teknologi.
Pulang dari Tiongkok dia mengambil keputusan reshuffle kabinet. Dari lima menteri yang diganti tiga nama menjadi sorotan. Budi Gunawan, Sri Mulyani, dan Budi Arie Setiadi.
Tiga nama ini bayang-bayang kekuatan politik ekonomi dari Megawati Sukarnoputri, IMF, dan Jokowi. Bayang-bayang kekuatan lama yang dihapus di masa setahun pemerintahannya.
Paling mencolok posisi Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mampu bertahan di tiga rezim: SBY, Jokowi, dan Prabowo akhirnya diganti.
Dia disebut mewakili kekuatan IMF. Presiden Prabowo menggantinya demi pindah poros rezim ekonomi IMF dan Bank Dunia kepada poros BRICS. Suatu kelompok ekonomi yang terdiri dari negara-negara berkembang dengan potensi ekonomi besar.
BRICS awalnya kumpulan negara Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan yang bekerja sama meningkatkan ekonomi dan perdagangan. Mencoba mengurangi ketergantungan pada dolar AS dengan menciptakan sistem ekonomi yang lebih seimbang dan adil.
Probowo membawa Indonesia masuk BRICS belajar dari kecerdasan Xi Jinping yang punya positioning hidup dalam ekonomi yang mandiri dan maju.
Xi Jinping adalah guru kedua. Guru ideologi dan kultural pertama adalah ayahnya sendiri, Profesor Soemitro Djojohadikoesoemo. Menteri ekonomi di era Presiden Soeharto yang punya slogan hidup dengan ekonomi mandiri. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












