Feature

Bahaya LGBT, Seks Bebas, Pornografi Ancam Generasi Muda

60
×

Bahaya LGBT, Seks Bebas, Pornografi Ancam Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Bahaya LGBT, seks bebas, dan pornografi disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, di acara Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah.
Menteri Yusril Ihza Mahendra berbicara di Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah di Serang, Banten, Kamis (4/9/2025).

Menteri Yusril Ihza Mahendra membahas tema Hukum, Gender, dan Moralitas: Perlindungan Perempuan di Tengah Perdebatan LGBT dan Perilaku Menyimpang dalam Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah.

Tagar.co – Bahaya LGBT, seks bebas, dan pornografi disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, di acara Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah.

Menteri Yusril membahas tema Hukum, Gender, dan Moralitas: Perlindungan Perempuan di Tengah Perdebatan LGBT dan Perilaku Menyimpang.

Acara berlangsung di Hotel Horison, Kota Serang, Banten, Kamis (4/9/2025).

Dalam Talk Show Kebangsaan Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah, Menteri Yusril menegaskan pentingnya perlindungan hukum bagi generasi muda dari perilaku LGBT dan penyimpangan seksual.

Dia menyoroti ancaman serius yang dihadapi generasi muda akibat bahaya LGBT, seks bebas, pornografi, hingga narkoba yang semakin mudah diakses melalui media sosial dan budaya populer.

”Generasi muda adalah aset bangsa yang harus dijaga moral dan akhlaknya. Jika perilaku menyimpang ini dibiarkan, masa depan bangsa bisa terancam,” tegasnya Yusril menekankan, Indonesia sebagai negara hukum yang berlandaskan Pancasila memiliki kewajiban menjaga nilai moral dan agama.

Baca Juga:  Deepfake dan Keterlambatan Hukum

Ia menyebutkan sejumlah perangkat hukum yang sudah ada, mulai dari KUHP, UU Pornografi, hingga aturan KPI. Namun menurutnya perangkat hukum tersebut belum cukup untuk mencegah penyebaran LGBT secara menyeluruh.

Karena itu, ia mendorong hadirnya regulasi lebih tegas, termasuk melalui RUU Anti Penyimpangan Perilaku Seksual yang pernah diusulkan di DPR.

Lebih lanjut, Yusril juga mengingatkan bahwa upaya melindungi generasi muda tidak bisa hanya bertumpu pada instrumen hukum, melainkan juga memerlukan dukungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan organisasi keagamaan.

”Pendidikan agama, pengawasan orang tua, serta lingkungan sosial yang sehat adalah benteng utama agar anak-anak kita tidak terjerumus,” ujar pakar Hukum Tata Negara ini.

Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah mengangkat tema Memajukan dan Mengokohkan Peradaban. Berlangsung Kamis-Sabtu 4-6 September 2025.

Kegiatan ini menjadi momentum bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk menegaskan komitmen advokasi moral, keadilan, dan perlindungan generasi muda di tengah tantangan global.

Ketua Umum PPNA, Ariati Dina Puspitasari, menyampaikan persiapan agenda ini telah terlaksana dengan baik dan matang.

Baca Juga:  DANA dan Pertaruhan Ideologi Kader Nasyiatul Aisyiyah

Menurut dia, agenda ini merupakan ruang konsolidasi sekaligus transformasi gerakan perempuan muda yang berdaya, inklusif, dan mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

“Tanwir II adalah momentum untuk menegaskan bahwa perempuan muda merupakan subjek penting dalam membawa perubahan. Kehadirannya dalam ruang strategis akan berdampak besar bagi masa depan peradaban yang adil, setara, dan berkemajuan,” ungkap Ariati.

Tanwir II NA merupakan konsolidasi organisasi, dan membuka ruang dialog dengan berbagai pihak eksternal.

Untuk itu, PPNA menghadirkan sejumlah lembaga negara, mulai dari kementerian hingga unsur eksekutif dan legislatif, guna memberikan wawasan terkini terkait isu-isu strategis.

Ariati menyebut Tanwir II NA juga menjadi ajang penting dalam menyiapkan agenda besar organisasi, yakni Muktamar dan pemilihan pimpinan NA periode 2026–2030.

Dengan begitu, Tanwir II NA ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan-rumusan dan rekomendasi yang relevan untuk dibawa ke Muktamar Nasyiatul Aisyiyah di 2026 yang akan datang. (#)

‎Penyunting Sugeng Purwanto