Tagar.co – Tak sedikit orang yang merasa cukup hanya dengan berakhlak baik, bersedekah, dan bermuamalah secara lembut kepada sesama, lalu mengabaikan salat. Padahal, dalam pandangan Allah, akhlak yang tidak dibingkai oleh ketaatan mendasar seperti salat bisa kehilangan nilainya. Inilah sebabnya agama menuntut keseimbangan antara ḥablunminallāh dan ḥablunminannās.
Di tengah masyarakat kita, kerap terdengar ungkapan seperti, “Yang penting hatinya baik,” atau, “Dia memang tidak salat, tapi akhlaknya bagus dan suka membantu.”
Ucapan semacam ini seolah menjadi pembenaran atas kelalaian terhadap kewajiban paling pokok dalam Islam: salat. Padahal, Islam adalah agama yang menuntut tauhid dan amal berjalan beriringan, bukan secara parsial.
Baca juga: Ujub: Racun Halus yang Menghapus Cahaya Ibadah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
من عمل خيرا وتصدق، وحسن خلقه، ووصل رحمه، لكنه لا يصلي، فإن ذلك لا ينفعه عند الله.
“Seseorang yang mengerjakan kebaikan, lalu bersedekah, baik pergaulannya, baik akhlaknya, menyambung silaturahmi, dan seterusnya, tetapi tidak mengerjakan salat, maka semua perbuatan baiknya tersebut tidaklah bermanfaat bagi dirinya di sisi Allah.” (Dar’ut Ta‘ārudh al-‘Aql wan-Naql, 1/187)
Mengapa demikian? Karena salat adalah pilar utama agama ini. Ia adalah kunci pembuka seluruh amal. Bila kunci itu rusak atau bahkan tidak ada, maka pintu-pintu kebaikan lainnya akan tetap tertutup di hadapan Allah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ
“Pokok dari urusan (agama) ini adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad.”
(H.R. Tirmizi, no. 2616; disahihkan oleh Al-Albani)
Tiang sebuah bangunan, bila runtuh, maka tak tersisa apa pun dari bangunan itu kecuali puing-puing. Demikian pula dengan orang yang meninggalkan salat. Seindah apa pun akhlaknya terhadap sesama, bila ia memutuskan hubungan vertikalnya dengan Allah, maka akarnya tercabut dan batangnya tumbang.
Dalam ayat yang sangat tegas, Allah Swt. berfirman:
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَٱتَّبَعُوا ٱلشَّهَوَٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datanglah setelah mereka, generasi pengganti yang menyia-nyiakan salat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menyandingkan dua hal: meninggalkan salat dan mengikuti hawa nafsu. Karena saat seseorang mulai menyepelekan salat, ia lebih mudah tergelincir dalam maksiat lainnya. Akhlaknya yang tampak indah di permukaan bisa jadi hanyalah kepalsuan tanpa ruh keimanan.
Nabi Muhammad Saw. bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (H.R. Tirmizi, No. 2621; hasan sahih)
Ini bukanlah pernyataan yang ringan. Para ulama pun sepakat bahwa meninggalkan salat secara sengaja dan terus-menerus merupakan dosa besar. Bahkan, sebagian ulama menyebutnya sebagai bentuk kekufuran yang nyata.
Pertanyaannya: mungkinkah seseorang yang tidak mengakui otoritas Allah dalam perintah salat benar-benar memiliki akhlak yang baik? Akhlak sejati lahir dari hati yang tunduk kepada aturan Ilahi. Jika akhlaknya hanya berdasar pada norma sosial, sementara ia mengabaikan panggilan Rabb-nya lima kali sehari, maka itu bukan akhlak dalam makna yang hakiki.
Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. pernah berkata:
إنّ الصلاةَ لحَقٌّ، فمن ضيّعها فهو لما سواها أضيع
“Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang pasti. Barang siapa menyepelekannya, maka terhadap kewajiban lainnya ia akan lebih menyepelekan lagi.”
Jadi, tak cukup hanya menjadi “orang baik”. Islam tidak berhenti pada adab horizontal antar manusia. Ia mewajibkan kita untuk menyambungkan adab itu kepada langit, kepada Allah. Hanya dengan demikian, akhlak menjadi ibadah, dan amal menjadi bermakna.
Alangkah indahnya apabila seseorang yang berhati lembut, penyayang, dermawan, dan disenangi masyarakat juga berdiri khusyuk di hadapan Rabb-nya dalam salat. Maka lengkaplah ia: baik di mata manusia dan mulia di sisi Allah.
Semoga Allah menjaga kita dari tipu daya amal tanpa iman, dan membimbing kita menjadi hamba yang baik kepada sesama, dan lebih baik lagi kepada-Nya.
اللهم اجعلنا من المحافظين على الصلاة، ومن أهل الخشوع والخضوع لك، وارزقنا حسن الخاتمة
Penyunting Mohammad Nurfatoni













