Panduan

AI Masuk Tanah Suci: Saatnya Penyelenggara Haji–Umrah Bertransformasi

43
×

AI Masuk Tanah Suci: Saatnya Penyelenggara Haji–Umrah Bertransformasi

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

Robot pemandu tawaf dan asisten AI kini hadir di Masjidilharam. Ini bukan sekadar perubahan teknis, tapi ujian kesiapan spiritual dan kelembagaan dalam menyambut masa depan haji dan umrah yang digital.

Menyongsong Mukernas Amphuri 20 Juli 2025 (Seri 2); Oleh: Ulul Albab; Akademisi, Ketua Litbang DPP Amphuri, Ketua ICMI Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Beberapa waktu lalu, publik dunia Islam dibuat kagum sekaligus tertegun saat menyaksikan kehadiran nyata teknologi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Masjidilharam. Robot pemandu tawaf, asisten AI yang menjawab pertanyaan fikih dalam berbagai bahasa, hingga sistem deteksi kerumunan secara real-time kini menjadi pemandangan biasa di Tanah Suci.

Arab Saudi kini tidak lagi hanya mengelola haji dan umrah sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai eksperimen futuristik dalam tata kelola digital berskala global. Mereka menargetkan 30 juta jamaah umrah pada 2030, dan AI menjadi tulang punggung pencapaian ambisi itu.

Baca juga: Pelayanan Jemaah di Era AI: Refleksi dan Ijtihad Menjelang Mukernas Amphuri 2025

Pertanyaannya: Apakah kita di Indonesia—sebagai negara pengirim jamaah haji dan umrah terbesar di dunia—siap merespons gelombang perubahan ini? Ataukah justru akan tertinggal dalam pusaran disrupsi teknologi yang tak menunggu kesiapan siapa pun?

Baca Juga:  Timur Tengah Memanas: Membaca Arah Konflik dan Risiko Kawasan

AI bukan lagi sekadar teknologi baru. AI saat ini adalah cara berpikir baru. Sistem berbasis AI mampu mengolah data besar (big data), mengenali pola perilaku, menjawab pertanyaan jamaah dengan cepat, bahkan memprediksi potensi risiko selama berada di Tanah Suci. AI bahkan telah digunakan untuk membuat manasik virtual, simulasi ibadah, hingga perencanaan logistik secara presisi.

Dalam konteks penyelenggaraan haji dan umrah oleh PPIU dan PIHK, AI membuka banyak pintu inovasi. Mulai dari manajemen keberangkatan, sistem komunikasi jamaah, edukasi manasik digital, layanan customer service otomatis 24 jam, hingga pemantauan kesehatan jamaah lansia melalui wearable devices.

Namun, di sisi lain, AI juga menghadirkan tantangan serius. AI bisa menggantikan sebagian peran penyelenggara. Jika jamaah sudah bisa mengakses semua informasi, memesan sendiri layanan lewat aplikasi, bahkan memperoleh bimbingan ibadah secara personal dari chatbot, lalu apa peran utama PPIU?

Apakah kita akan membiarkan peran kita direduksi menjadi sekadar agen tiket dan akomodasi? Atau justru memosisikan diri sebagai mitra spiritual-digital yang membimbing jamaah secara holistik?

Baca Juga:  Detik-Detik Turunnya Surah Al-Mulk di Langit Sunyi Makkah

AMPHURI perlu menjadi pelopor dalam merespons tantangan ini—bukan hanya dalam bentuk wacana, tetapi juga aksi konkret, melalui pelatihan, riset, integrasi sistem digital, hingga sertifikasi digitalisasi layanan PPIU.

Kami di Litbang DPP AMPHURI memandang bahwa adaptasi terhadap AI bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Karena itu, dalam rangka menyambut Mukernas Amphuri 2025, kami tengah merumuskan peta jalan (roadmap) transformasi digital penyelenggaraan haji dan umrah yang relevan, bertahap, dan aplikatif bagi seluruh anggota.

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengembangkan sistem manasik digital berbasis AI, yang memungkinkan jamaah berlatih ibadah secara personal sebelum keberangkatan.

  2. Menyusun profil digital jamaah untuk memudahkan personalisasi pelayanan.

  3. Mendorong integrasi aplikasi PPIU dengan sistem digital Arab Saudi, seperti Nusuk, Eatmarna, dan Visa Bio.

  4. Membuka kerja sama dengan startup teknologi syariah untuk pengembangan solusi digital berbasis nilai-nilai Islam.

Tentu, semua itu harus tetap berada dalam koridor syar’i, memperhatikan etika digital, dan menjunjung tinggi perlindungan data pribadi jamaah.

Namun lebih dari itu, kita harus menyadari bahwa teknologi hanyalah alat. Yang utama tetaplah manusia dan niatnya. AI tidak akan pernah menggantikan ketulusan seorang pembimbing ibadah yang memeluk jamaah lansia yang menangis di tempat-tempat mustajab.

Baca Juga:  Surah Qaf dan Bisikan Lembut Allah kepada Manusia

AI tidak bisa menggantikan peran doa dan zikir yang tulus dibisikkan oleh mutawif kepada jamaah yang gugup menjelang thawaf. Teknologi hanya akan berguna jika digunakan oleh orang-orang yang berkomitmen pada misi suci: melayani umat karena Allah—lillahita’ala.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dengan menyebut nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak ada satu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dengan semangat ini, kita songsong era baru penyelenggaraan ibadah haji dan umrah—bukan dengan rasa takut, tetapi dengan visi, ilmu, dan kesiapan. AI boleh canggih, tetapi yang memimpin arah tetap harus kita: mereka yang punya hati, punya ilmu, dan punya tekad untuk mengabdi. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni