Feature

Anak Yatim Piatu Itu Akhirnya Ditangani Lazismu

1173
×

Anak Yatim Piatu Itu Akhirnya Ditangani Lazismu

Sebarkan artikel ini
Hidup Telantar, Anak Yatim Piatu Itu Ditangani Lazismu
Rama didampingi kepala desa, kepala dusun di Kantor Lazismu Lumajang. (Tagar.co/Kuswantoro)

Anak yatim piatu, Rama, menyedihkan. Orang tua meninggal dunia. Disusul kakek neneknya. Kepala desa membawa ke Lazismu Lumajang untuk menjamin pengasuhannya.

Tagar.co – Siang itu sebuah mobil hitam berhenti di depan Kantor Lazismu Lumajang di Jalan Diponegoro No. 64, Kelurahan Jogoyudan, Rabu (9/7/2025).

Kepala Desa Tempeh Lor, Suyono, turun dari mobil. Dia bersama Kepala Dusun Tulus Rejo II, Hafidz Susanto, membawa seorang anak lelaki berusia 11 tahun. Namanya Ahmad Ridho Ramadani. Baru naik kelas 6 SD. Biasa disapa Rama. Anak yatim piatu.

Ibunya, Lilis Setyowati, dan ayahnya, Arif Sujono, telah wafat. Ibunya wafat tahun 2022. Disusul sang ayah beberapa bulan kemudian.

Sejak itu Rama tinggal bersama kakek dan neneknya. Namun ujian belum berhenti. Tiga bulan lalu neneknya meninggal dunia. Lalu kakeknya menyusul wafat juga.

Lantas Rama ikut pamannya, Agus. Namun kehidupan pamannya juga kekurangan. Dia bahkan mencari uang sampai keluar kota.

Melihat kondisi anak yatim piatu itu membuat Kepala Desa Suyono dan Kepala Dusun Hafidz tergerak. Mereka menemui Lazismu Lumajang berharap ada jalan keluar terbaik untuk hidup anak itu. Berharap Rama bisa masuk ke Panti Asuhan Muhammadiyah sehingga pengasuhan lebih terarah.

Baca Juga:  Muhammadiyah Lumajang Terjunkan Tim Kesehatan ke Bencana Semeru

”Bagaimanapun, anak-anak seperti Rama adalah tanggung jawab kami sebagai perpanjangan tangan negara,” ujar Suyono. “Kami sangat terbantu dengan adanya Lazismu dan Panti Muhammadiyah.”

Dia percaya pada kerja sosial Muhammadiyah yang jujur dan profesional. Dia sering bekerja sama dengan Lazismu di berbagai kegiatan sosial. Bersyukur Rama bersedia masuk panti.

Dari Kantor Lazismu, Rama diantar menuju Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Putra Muhammadiyah Lumajang. Panti asuhan ini terletak di Jalan Pisang Emas Timur, tak jauh dari Stadion Semeru dan Masjid Al-Furqon.

”Kami mohon dengan sangat hormat, Rama ini dididik dengan baik agar kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi umat dan negara. Kalau butuh sesuatu, jangan ragu hubungi kami. Kolaborasi seperti ini harus terus kita perkuat,” tutur Suyono.

Rama dan pamong desa diterima ketua LKSA Muhammadiyah Putra Lumajang. (Tagar.co/Kuswantoro)

Setibanya di panti, Ketua LKSA Putra Muhammadiyah Lumajang, Ustaz Hasan Ali Mansyur datang menyambut.

Pertemuan berlangsung hangat dan akrab sejak langkah pertama memasuki gerbang.

”Saat dihubungi amil Lazismu, saya masih di Puger, Jember,” cerita Ustaz Hasan. “Tapi saya langsung mengiyakan. Tidak perlu survei seperti biasanya, karena ini rekomendasi dari Lazismu, dan yang mengantar kepala desa dan perangkatnya. Saya langsung semangat dan percaya penuh.”

Baca Juga:  Omah Balam Pacitan, Fokus Bantu Masyarakat

Dia mengatakan, Rama satu-satunya anak yang masuk LKSA Muhammadiyah ini melalui jalur koordinasi resmi dengan pamong desa. Ini jadi pelajaran berharga bahwa sinergi dan kolaborasi itu penting.

Dia menjamin anak-anak dididik sebaik-baiknya. ”Nanti Pak Kades dan Pak Kasun jangan sungkan nyambangi anak-anak kami, syukur-syukur membawa sesuatu untuk mereka,” ucapnya sambil tertawa ringan mencairkan suasana.

Sebelum berpamitan, Ustaz Hasan mengajak Suyono dan Hafidz melihat kamar tempat Rama tidur. Kamar itu bersih, terang, dan tertata rapi.

”Ini tempat tidurnya, Pak. Insyaallah nyaman dan bersih,” kata Hasan sambil membuka pintu kamar.

Suyono menghampiri Rama, lalu merangkulnya hangat. ”Enak, Le. Bersih tempatnya. Kerasan ya di sini,” ujarnya. Rama mengangguk pelan.

Lalu Ustaz Hasan memperlihatkan hasil karya anak-anak asuh.

“Ini, Pak. Anak-anak kami ajari juga membuat bonsai. Ada yang diajari ternak, bahkan ada yang suka karawitan. Kita fasilitasi sesuai minat mereka.”

Suyono terkesan. “Wah, lengkap keterampilannya ya. Pulang dari sini harus jadi anak pinter kamu, Le,” ucapnya menatap Rama.

Baca Juga:  MDMC Jatim Kirim Tiga Tim Bantu Bencana Sumatra

Hari itu bukan sekadar penyerahan seorang anak. Tapi peristiwa kecil yang bermakna: tentang sinergi antarlembaga, tentang cinta kasih yang tak memandang garis darah, dan tentang masa depan yang dibangun bersama.

Di bawah langit Jalan Pisang Emas Timur, Rama memulai hidup baru. Dalam pelukan Muhammadiyah, ia tak hanya menemukan tempat tinggal, tapi juga ruang untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi lagi. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto