Opini

Abraham Shield dan Wajah Prabowo

48
×

Abraham Shield dan Wajah Prabowo

Sebarkan artikel ini
Billboard yang menampilkan Presiden Indonesia Prabowo Subianto bersama para pemimpin AS, Israel dan Arab dipajang di Tel Aviv, Israel. (X/AbrahamShield25)

Israel menampilkan Prabowo dalam baliho provokatif. Apakah ini balon uji coba, manuver psikologis, atau tanda Indonesia mulai memainkan peran baru di Timur Tengah?

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Munculnya foto Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, di sebuah baliho raksasa di Tel Aviv, Israel, sungguh mengagetkan. Di sana, wajah Prabowo disejajarkan dengan Benjamin Netanyahu, Donald Trump, Mohammed bin Zayed, Raja Abdullah II, Mohammad bin Salman, Abdul Fattah al-Sisi, hingga Mahmoud Abbas. Tulisan yang tertera pun provokatif: “Pak Presiden, Israel berdiri di samping rencanamu.”

Baca juga: Baliho Prabowo di Tel Aviv: Simbol Normalisasi dan Ujian Konstitusi

Bagi publik Indonesia, berita ini jelas menimbulkan kehebohan. Sejak era Bung Karno, sikap Indonesia konsisten: tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel sebelum Palestina merdeka dan berdaulat.

Maka, munculnya baliho ini tentu memunculkan spekulasi: apakah Prabowo sudah berubah haluan? Apakah ini bentuk manuver Israel? Atau sekadar strategi perang opini?

Konteks Pidato Prabowo di PBB

Kita tidak bisa memisahkan kemunculan baliho ini dari pidato Prabowo di Sidang Majelis Umum Ke-80 PBB, 23 September 2025. Prabowo menyatakan Indonesia terbuka mengakui Israel, tetapi dengan syarat: Israel harus lebih dulu mengakui kemerdekaan Palestina.

Baca Juga:  Jika Malam Ini Lailatulqadar, Sudahkah Kita Siap?

Pernyataan ini—meski masih penuh syarat—bagi Israel merupakan angin segar. Netanyahu pun langsung menanggapi, menyebut ucapan Prabowo sebagai “sinyal positif.”

Pada level ini, kita melihat ada celah interpretasi. Bagi rakyat Indonesia, ucapan itu adalah penegasan syarat: “tidak ada pengakuan tanpa Palestina merdeka.” Tetapi bagi Israel, kata “terbuka” saja sudah cukup ditangkap sebagai pintu.

Apa itu Abraham Shield?

Abraham Shield adalah proyek geopolitik besar yang digagas koalisi keamanan Israel. Intinya, rencana ini hendak mengubah peta politik Timur Tengah pascaperang Gaza. Prinsip-prinsipnya meliputi: pembebasan sandera, stabilisasi Gaza, rekonstruksi, demiliterisasi, normalisasi hubungan Israel–Arab Saudi, hingga pembentukan aliansi keamanan Abraham Alliance.

Dengan kata lain, Abraham Shield adalah payung besar yang berusaha menyatukan negara-negara Arab moderat dengan Israel, berlandaskan rencana yang dulu digagas Donald Trump dalam Abraham Accords.

Menampilkan Prabowo di baliho itu artinya: Israel mencoba menarik Indonesia masuk ke orbit wacana Abraham Shield.

Balon Uji Coba atau Manuver Psikologis?

Pertanyaannya: apakah Prabowo betul-betul terlibat? Belum tentu, dan saya pribadi yakin Prabowo tetap konsisten membela Palestina. Bisa jadi ini hanya “balon uji coba” Israel untuk mengukur reaksi publik, baik di dalam negeri Indonesia maupun di dalam negeri mereka, dan juga di dunia internasional, terutama dunia Islam.

Baca Juga:  Surah Qaf dan Bisikan Lembut Allah kepada Manusia

Israel punya tradisi kuat dalam propaganda visual dan perang psikologis. Dengan menampilkan wajah Prabowo, pesan yang ingin mereka sampaikan kira-kira begini: “Bahkan negara Muslim terbesar pun sedang kami dekati.” Itu saja sudah bisa menciptakan ilusi diplomasi, sekalipun kenyataannya belum ada komunikasi resmi.

Dampaknya bagi Politik Indonesia

Bagi rakyat Indonesia, betapapun, ini jelas sesuatu yang sensitif. Dukungan terhadap Palestina bukan hanya sikap politik, tetapi juga bagian dari identitas kebangsaan dan konsensus nasional. Semua presiden Indonesia sejak Bung Karno hingga Jokowi menegaskan hal itu.

Munculnya baliho ini bisa dimanfaatkan lawan politik di dalam negeri: seolah-olah Prabowo “terlalu dekat dengan Israel.” Padahal, bisa saja (dan saya pribadi pun yakin) Prabowo tidak pernah memberi izin namanya dipajang. Tetapi dalam politik, persepsi sering lebih kuat daripada fakta.

Diplomasi di Persimpangan Jalan

Pidato Prabowo di PBB memang memberi sinyal baru: Indonesia mulai membuka kemungkinan peran lebih aktif dalam isu Palestina–Israel. Namun garis merah tetap jelas: tidak ada pengakuan Israel tanpa Palestina merdeka.

Baca Juga:  Ramadan dan Jalan Mengenal Allah: Tafakur dari Surat Al-Hadid

Israel kemungkinan mencoba “menggiring” narasi agar terlihat bahwa Prabowo sudah setengah jalan menuju normalisasi. Inilah yang perlu dijaga dengan hati-hati oleh diplomasi Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono sudah menegaskan kembali syarat mutlaknya. Namun tetap saja, opini publik perlu dikelola.

Penutup

Apakah Prabowo benar mendukung Abraham Shield? Jawabannya: terlalu dini untuk disimpulkan. Yang jelas, Israel sedang memainkan kartu psikologis lewat baliho tersebut.

Di satu sisi, Indonesia ingin menunjukkan peran globalnya—Prabowo ingin tampil sebagai mediator, bukan sekadar penonton. Tetapi di sisi lain, rakyat kita punya komitmen historis yang kuat terhadap Palestina.

Inilah dilema yang harus dihadapi: bagaimana tetap teguh membela Palestina, sekaligus tidak menutup pintu diplomasi yang bisa membuka jalan bagi perdamaian.

Sementara itu, baliho di Tel Aviv itu akan terus menghantui percakapan politik kita, setidaknya sampai ada klarifikasi resmi dari Istana. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni