Opini

Memuliakan Kembali Guru sebagai Murabi

130
×

Memuliakan Kembali Guru sebagai Murabi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di tengah tekanan administrasi dan tuntutan sistem, peran guru perlahan bergeser menjadi sekadar pelaksana. Padahal pendidikan sejatinya membutuhkan lebih dari sekadar pengajaran—ia memerlukan keteladanan, perhatian, dan kehadiran seorang murabi yang menumbuhkan manusia seutuhnya.

Oleh Bagus Suminar; Wakil Ketua ICMI Jatim, Mentor Budaya Mutu

Tagar.co – Kadang kita ini aneh kepada guru. Kita ingin guru sabar, kreatif, memahami teknologi, dekat dengan murid, dan tetap hangat di kelas. Tapi pada saat yang sama, guru dikejar laporan, nilai, kurikulum, aplikasi, dan administrasi yang tidak sedikit.

Lama-lama, guru lebih sibuk membuktikan bahwa ia sudah bekerja daripada benar-benar mendidik.

Mungkin di situlah masalahnya. Kita berharap guru membentuk manusia, tetapi sering memperlakukannya seperti petugas sistem.

Baca juga: K-Shaped Economy: Ketika Dompet Kelas Menengah Mengecil

Di banyak sekolah, guru makin sering dilihat sebagai pelaksana sistem. Materi harus selesai. Nilai harus masuk. Laporan harus lengkap. Bukti kerja harus ada. Semua itu tentu perlu. Sekolah tidak mungkin berjalan tanpa keteraturan.

Tapi kalau peran guru direduksi hanya sebagai pengantar materi dan pengisi administrasi, pendidikan kehilangan sesuatu yang paling manusiawi: perjumpaan yang mendidik.

Guru sebagai Murabi

Dalam tradisi Islam, guru tidak hanya disebut mualim, orang yang mengajarkan ilmu. Ada juga istilah murabi, yang menumbuhkan; mudib, yang menanamkan adab; mursyid, yang memberi arah; dan uswah, yang menjadi teladan. Istilah ini bukan untuk membuat pembicaraan terasa berat. Justru ia mengingatkan bahwa mendidik manusia tidak sesederhana membalik telapak tangan.

Guru sebagai murabi tidak hanya bertanya, “Anak ini paham atau belum?” Ia juga bertanya, “Anak ini sedang tumbuh ke arah mana? Punya minat dan bakat apa? Ilmunya membuat dia lebih baik atau tidak? Adabnya ikut terbentuk atau hanya nilainya yang naik?”

Baca Juga:  K-Shaped Economy: Ketika Dompet Kelas Menengah Mengecil

Kalau memakai bahasa Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah penanaman adab. Anak tidak cukup dibuat “tahu” saja. Ia juga perlu belajar menempatkan diri: kepada Allah, guru, orang tua, ilmu, waktu, tubuhnya sendiri, dan orang lain.

Di sinilah guru punya peran yang sangat penting. Ia menjaga agar ilmu tidak berhenti sebagai kepintaran, tetapi berubah menjadi adab, tanggung jawab, dan cara hidup yang benar.

Imam Al-Ghazali juga memberi perhatian besar pada adab guru dan murid. Ilmu, dalam tradisi beliau, berhubungan dengan hati, niat, dan akhlak. Guru bukan sekadar orang yang lebih dulu membaca buku. Ia pembimbing yang ikut menjaga arah hati murid. Menegur, tetapi tidak menghina. Mengarahkan, tetapi tidak merendahkan. Mengajar, tetapi tidak mematikan keberanian murid untuk bertanya.

Tentu tidak semua guru otomatis menjadi murabi. Guru juga manusia. Bisa lelah, kecewa, marah, kehilangan semangat, atau merasa sendirian menghadapi kelas dan sistem. Maka memuliakan guru bukan berarti menutup mata dari kekurangan guru. Guru pun perlu ruang untuk tumbuh, belajar, memperbaiki diri, dan dirawat martabatnya.

Masalahnya, sistem kita sering lebih cepat meminta bukti daripada memberi ruang. Guru diminta membentuk karakter, tetapi waktunya habis untuk mengisi formulir. Guru diminta dekat dengan murid, tetapi dikejar target. Guru diminta kreatif, tetapi ruang geraknya sempit. Lama-lama guru sibuk membuktikan bahwa ia bekerja, sementara kesempatan untuk benar-benar hadir bersama murid makin terbatas.

Ki Hadjar Dewantara menyebut pendidikan sebagai tuntunan. Prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani rasanya dekat dengan makna murabi.

Albert Bandura, lewat teori belajar sosial, menunjukkan bahwa manusia banyak belajar dari contoh yang dilihat. Di kelas, murid menjadi pemerhati yang hebat. Ia memperhatikan cara guru berbicara, marah, bercanda, menepati janji, memperlakukan murid yang lambat, juga cara guru mengakui kesalahan.

Baca Juga:  Rambut Pirang, Guru, dan Krisis Epistemologi Keadilan

Kita mungkin pernah punya pengalaman yang sama. Ada guru yang materinya biasa saja, tetapi cara beliau memperlakukan murid membuat kita merasa berharga. Ada pula guru yang sangat pintar, tetapi satu kalimat kasarnya sangat membekas dan sulit dilupakan. Dari sini kita paham, guru tidak hanya mengajar lewat papan tulis. Cara ia memperlakukan murid pun ikut menjadi pelajaran.

Ki Hadjar Dewantara menyebut pendidikan sebagai tuntunan. Prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani rasanya dekat dengan makna murabi. Di depan memberi teladan. Di tengah membangun semangat. Di belakang memberi dorongan. Guru tidak memaksa anak tumbuh sesuai seleranya, tetapi membantu anak menemukan jalan tumbuhnya.

Paulo Freire pernah mengkritik pendidikan yang memperlakukan murid seperti celengan kosong. Guru bicara, murid menerima. Guru tahu, murid tidak tahu. Padahal pendidikan yang hidup memerlukan dialog, memerlukan percakapan. Guru tetap mengajar, tetapi ia juga mendengar. Ia membaca dan memperhatikan perkembangan murid, bukan hanya yang tertulis di lembar jawaban.

Carl Rogers juga mengingatkan pentingnya empati dalam proses belajar. Murid lebih mudah tumbuh ketika ia merasa dilihat sebagai manusia, bukan hanya sebagai nilai, peringkat, atau catatan pelanggaran.

Di era AI, diskusi ini menjadi makin penting. Hari ini, sebagian besar tugas memang bisa dibantu teknologi. Rumus bisa dicari. Rangkuman bisa dibuat. Latihan dan studi kasus bisa muncul dalam hitungan detik. Tapi tetap ada sesuatu yang tidak datang dari layar: rasa diperhatikan, dituntun, dan diteladani.

Dalam warisan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, ilmu tidak boleh berhenti sebagai kecerdasan. Ilmu seharusnya melahirkan tawadu, khidmah, cinta kepada guru, dan kedekatan kepada Allah. Kalau anak makin pintar tetapi makin kasar, mungkin ada yang kurang dari cara kita mendidiknya.

Baca Juga:  Guru: Penjaga Nyala Harapan

Karena itu, memuliakan kembali peran murabi bukan nostalgia masa lalu. Ini justru menjadi kebutuhan penting hari ini.

Namun, pemuliaan guru jangan berhenti pada ucapan manis saat peringatan hari guru saja. Jangan hanya berupa poster, lagu, atau seremoni. Memuliakan guru berarti memberi ruang agar ia bisa mendidik, mengurangi beban yang tidak perlu, menjaga adab murid kepada guru, juga adab guru kepada murid, serta menjadikan orang tua sebagai mitra, bukan pelanggan yang hanya menuntut.

Guru sendiri juga perlu terus merawat dan meluruskan niatnya. Memperbaiki cara menegur. Memperbaiki cara mendengar. Berani meminta maaf. Tidak mempermalukan murid. Tidak menjadikan nilai sebagai satu-satunya cara mengevaluasi anak.

Kita juga tidak boleh lupa soal kesejahteraan guru. Sulit meminta guru hadir dengan sabar dan teduh jika kebutuhan dasarnya sendiri belum cukup aman. Ikhlas itu penting, tetapi ikhlas tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak hidup yang layak. Memuliakan guru harus tampak juga dalam gaji, waktu kerja, perlindungan, dan beban yang manusiawi.

Mungkin dari hal-hal kecil itu peran murabi mulai hidup lagi. Dari cara guru masuk kelas dengan wajah yang cukup teduh. Dari cara ia menyebut nama murid dengan hormat. Dari kesabarannya menghadapi anak yang lambat. Dari doa-doanya yang tidak pernah masuk laporan mana pun.

Menjadi murabi bukan berarti menjadi guru yang tanpa cela. Yang penting, ia terus berusaha menjaga ilmu agar tetap beradab, menjaga murid agar tetap tumbuh, dan menjaga dirinya agar tidak kehilangan ruh mendidik. Sebab di tengah dunia yang makin penuh ketidakpastian, sosok seperti inilah yang justru makin sulit digantikan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni