Utama

Utusan Khusus PBB Retno Marsudi: Inovasi Air UMM Berdampak Besar bagi Dunia

129
×

Utusan Khusus PBB Retno Marsudi: Inovasi Air UMM Berdampak Besar bagi Dunia

Sebarkan artikel ini
Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Retno Lestari Priansari Marsudi, menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (28/4/2026). Dalam pidatonya, ia menyoroti krisis air global sekaligus mengapresiasi inovasi dan kontribusi UMM dalam pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. (Tagar.co/Humas UMM)

Utusan Khusus PBB Retno Marsudi mengapresiasi inovasi air UMM usai meraih mandat Unesco. Ia menegaskan peran strategis kampus dalam menjawab krisis global dan mendorong solusi berkelanjutan bagi masyarakat dunia.

Tagar.co — Di tengah ancaman krisis air global yang kian nyata, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatat capaian penting di panggung internasional.

Kampus yang dikenal sebagai “Kampus Putih” ini resmi ditetapkan sebagai pemegang mandat Unesco Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026, sebuah pengakuan prestisius yang menempatkan UMM di garis depan upaya pelestarian ekosistem air dunia.

Penghargaan tersebut mendapat perhatian langsung dari Retno Lestari Priansari Marsudi, Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, yang hadir dalam Wisuda Ke-121 UMM, Selasa (28/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Retno Marsudi, nama populer Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024—menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata kampus dalam riset dan pengabdian masyarakat di bidang pengelolaan air.

Baca juga: UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

“UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” ujarnya di hadapan ribuan wisudawan dan keluarga.

Baca Juga:  UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

Dalam orasi ilmiahnya, Retno memaparkan kondisi krisis air global yang semakin mengkhawatirkan. Ia menyinggung hilangnya 600 gigaton gletser dunia sepanjang 2023 sebagai indikator serius dampak perubahan iklim. Menurutnya, dunia saat ini menghadapi tiga ancaman utama: banjir ekstrem, kekeringan berkepanjangan, dan keterbatasan akses air bersih.

Data menunjukkan, 80–90 persen bencana alam dalam satu dekade terakhir berupa banjir. Sepanjang 2024, bencana ini berdampak pada 400 juta jiwa dan menimbulkan kerugian hingga 550 miliar dolar AS.

Di sisi lain, kekeringan diproyeksikan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030, serta berpotensi memengaruhi tiga perempat populasi global pada 2050. Sementara itu, sekitar 2,2 miliar penduduk dunia masih belum memiliki akses terhadap air minum yang aman.

Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Retno Lestari Priansari Marsudi (kanan), menerima cenderamata dari Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam prosesi Wisuda Ke-121 di Dome UMM, Selasa (28/4/2026). Kehadiran Retno menjadi penanda pengakuan global atas capaian UMM sebagai pemegang mandat Unesco Chair di bidang keberlanjutan ekosistem air. (Tagar.co/Humas UMM)

Retno juga menekankan bahwa krisis air berimplikasi langsung terhadap ketahanan pangan global, mengingat sekitar 70 persen penggunaan air tawar terserap oleh sektor pertanian. Ia berharap mandat Unesco yang diterima UMM dapat menjadi pengungkit lahirnya inovasi di bidang efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin hemat air.

Baca Juga:  Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan

Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa arah pengembangan kampus kini berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan kebutuhan riil, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air.

“Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan akses air yang lebih layak, terutama bagi wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan.

Menurutnya, capaian ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.

Menutup sambutannya, ia berpesan kepada para lulusan untuk membawa semangat pelestarian lingkungan dalam setiap langkah mereka. Mandat Unesco, tegasnya, bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.

UMM pun kini tidak hanya dikenal sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai aktor strategis dalam menjawab tantangan global—khususnya dalam menjaga keberlanjutan air sebagai sumber kehidupan. (#)

Baca Juga:  UMM Buka Jalur Beasiswa Khusus Aktivis OSIS/MPK/IPM

Penyunting Mohammad Nurfatoni

KPK kembali mengemuka setelah muncul revisi undang-undangnya. Ini pertaruhan besar mengenai arah pemberantasan korupsi di Indonesia. Negara ini makin bersih atau malah bejat.
Opini

‎KPK kembali jadi bahasan posisinya setelah muncul revisi…