
Ketika notifikasi menguasai perhatian, literasi kehilangan ruang. Inilah kegelisahan tentang generasi cepat respons namun minim kedalaman.
Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
Tagar.co – Setiap pagi, banyak orang membuka mata bukan dengan doa, bukan dengan membaca satu halaman ilmu, melainkan dengan memeriksa notifikasi. Bunyi pesan, unggahan baru, video singkat, breaking news, promosi, dan aneka pemberitahuan digital datang bertubi-tubi mengetuk perhatian.
Kita hidup dalam zaman ketika notifikasi menjadi panggilan paling sering terdengar. Sementara itu, literasi menjadi suara lirih yang makin jarang disapa.
Yang mengkhawatirkan, banjir informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pengetahuan. Kita tahu banyak hal, tetapi memahami sedikit. Semakin cepat merespons, tetapi lambat merenung. Rajin menggulir layar, tetapi malas membuka buku. Akibatnya lahirlah generasi yang akrab dengan update, tetapi asing dengan insight; dekat dengan sensasi, tetapi jauh dari substansi.
Allah SWT menurunkan wahyu pertama bukan perintah bekerja, bukan pula perintah berbicara, melainkan perintah membaca: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Perintah iqra bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca kehidupan, membaca realitas, membaca ilmu, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah. Dalam tafsir Mafātīḥ al-Ghayb, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan, ayat ini menunjukkan kemuliaan akal yang dihidupkan oleh ilmu.
Peradaban besar lahir bukan dari kebiasaan bereaksi cepat, tetapi dari tradisi berpikir dalam. Rasulullah SAW pun menegaskan: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibn Majah) Perhatikan: yang diwajibkan adalah mencari ilmu, bukan mengejar notifikasi.
Baca Juga: Panggung Digital dan Godaan Ujub
Krisis Fokus di Era Banjir Informasi
Hari ini, riset global menunjukkan rata-rata orang mengecek ponselnya puluhan hingga ratusan kali sehari. Sementara waktu membaca buku mendalam terus menurun. Banyak yang mengalami continuous partial attention—pikiran selalu sibuk, tetapi tidak benar-benar fokus pada apa pun. Ini melahirkan generasi yang cepat lelah secara mental, mudah terdistraksi, dan kesulitan berpikir panjang.
Imam Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menulis, kemajuan sebuah umat ditentukan oleh tradisi ilmu, budaya membaca, dan kekuatan berpikir kritis. Bukan oleh kemewahan alat, melainkan kualitas akal yang menggunakannya. Jika hari ini teknologi kita maju, tetapi minat baca kita mundur, maka sesungguhnya yang tumbuh hanyalah perangkat—bukan peradaban.
Ada kisah menarik tentang Bill Gates. Di tengah kesibukannya, ia rutin menjalani Think Week—mengasingkan diri selama sepekan hanya untuk membaca, mencatat, dan merenung. Banyak ide besar lahir bukan dari rapat tanpa henti atau notifikasi tanpa putus, tetapi dari keheningan yang diisi literasi.
Demikian pula Warren Buffett yang terkenal menghabiskan sebagian besar harinya untuk membaca. Mereka memahami satu hal: informasi memberi kabar, membaca memberi kedalaman.
Memilih Jalan Literasi
Maka pertanyaannya sederhana namun menggugat: kita sedang membangun kebiasaan apa—ketergantungan pada notifikasi atau kedekatan dengan literasi? Notifikasi memang memberi tahu apa yang baru. Tetapi literasi memberi tahu apa yang benar. Notifikasi memancing perhatian sesaat.
Literasi membentuk cara berpikir sepanjang hayat. Notifikasi membuat kita terus menoleh keluar. Literasi mengajak kita masuk ke dalam—merenung, memahami, lalu bertumbuh.
Barangkali yang perlu kita biasakan setiap pagi bukan pertama-tama membuka gawai, tetapi membuka bacaan. Bukan mengejar kabar tercepat, tetapi mencari ilmu yang tepat. Bukan sekadar terkoneksi dengan dunia, tetapi terhubung dengan hikmah.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling cepat menerima notifikasi, melainkan bangsa yang paling kuat tradisi literasinya. Dan manusia yang matang bukan yang paling responsif terhadap bunyi ponsel, tetapi yang paling peka terhadap panggilan ilmu. (#)
Penyunting Sayyidah Nuriyah












