
Para siswa Smamio menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga Desa Latukan sebagai wujud pengabdian masyarakat dalam rangkaian program Spiritual Journey.
Tagar.co — Pelataran Masjid Nurul Huda, Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, mendadak riuh pada Kamis malam (23/4/2026). Sesaat setelah jarum jam menunjuk pukul 18.00 WIB, puluhan warga mulai merapat.
Kali ini warga bukan sekadar hendak menunaikan ibadah, melainkan antusias menyambut rombongan remaja berseragam yang membawa peralatan medis sederhana. Inilah fragmen hangat dari program Spiritual Journey (Suju) yang diinisiasi oleh SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio).
Bukan sekadar kunjungan biasa, para siswa ini datang membawa misi kemanusiaan. Dalam durasi 30 menit yang padat, mereka menyulap sudut halaman masjid menjadi posko kesehatan mini. Warga dari berbagai usia tampak mengantre dengan tertib. Ada yang ingin mengecek kadar gula darah, ada yang penasaran dengan angka kolesterolnya, hingga mereka yang mengeluhkan linu di persendian dan ingin memastikan kadar asam uratnya.
Implementasi Ilmu di Balik Layanan
Kegiatan ini bukan sekadar bagi-bagi layanan gratis. Di balik meja pemeriksaan, para siswa tampak cekatan mengoperasikan alat tes digital. Mereka mempraktikkan langsung ilmu yang selama ini mereka serap di bangku sekolah, khususnya melalui peminatan International Class (IC) Healthy. Gerakan jemari mereka saat mengambil sampel darah ujung jari warga menunjukkan ketelitian dan empati yang terasah.
Penanggung jawab kegiatan, Amirah Nur Syafiyah S.Pd., mengamati setiap interaksi tersebut dengan saksama. Baginya, momen ini adalah ujian sesungguhnya bagi para siswa.
“Kegiatan ini merupakan upaya untuk mempraktikkan materi pembelajaran di IC Healthy Smamio sekaligus sebagai bentuk bakti sosial kepada masyarakat Desa Latukan,” ungkapnya di sela-sela kesibukan acara.
Amirah menekankan, sekolah ingin membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial. Melalui program ini, siswa belajar secara langsung bagaimana memberikan pelayanan kesehatan dasar.
“Lebih dari itu, mereka belajar berkomunikasi dan menyapa masyarakat dengan santun, sebuah keterampilan yang tidak selalu bisa didapatkan di dalam ruang kelas yang kaku,” imbuhnya.
Baca Juga: Smamio Gandeng MCE Singapura Persiapan Kelas Internasional
Manfaat Nyata di Ambang Pintu
Respons positif mengalir deras dari penduduk setempat. Salah satunya datang dari Sabiq Fajar Rozaq. Warga Desa Latukan ini mengaku sangat terbantu dengan inisiatif para siswa Smamio. Bagi warga desa yang memiliki kesibukan tinggi, menyempatkan diri pergi ke puskesmas atau laboratorium klinik sering kali menjadi tantangan tersendiri. Kehadiran posko kesehatan di halaman masjid ini menjadi solusi praktis yang menjemput bola.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga sekitar, khususnya jamaah masjid. Kami jadi bisa mengetahui kondisi kesehatan tanpa harus pergi jauh,” tutur Sabiq dengan nada penuh apresiasi. Ia menilai program seperti ini memberikan dampak psikologis yang baik, di mana warga merasa diperhatikan oleh generasi muda.
Meskipun berakhir pada pukul 18.30 WIB, jejak manfaat yang tertinggal terasa begitu mendalam. Interaksi yang tercipta antara siswa dan warga melahirkan suasana hangat yang edukatif.
Smamio membuktikan, sinergi antara dunia pendidikan dan kebutuhan sosial dapat terjalin manis melalui aksi nyata. Program ini menjadi bukti, pengabdian masyarakat adalah jembatan terbaik untuk mendekatkan siswa pada realitas kehidupan yang sebenarnya. (#)
Jurnalis Bagus Rifani Penyunting Sayyidah Nuriyah












