
RBC A. Malik Fadjar Institute menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis board game untuk membawa gagasan Abdul Malik Fadjar lebih dekat dengan generasi muda secara interaktif dan kontekstual.
Tagar.co – Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute kembali menghadirkan inovasi di bidang pendidikan. Kali ini, mereka mengembangkan media pembelajaran berbasis board game yang mengangkat pemikiran serta perjalanan tokoh pendidikan nasional, Abdul Malik Fadjar.
Inisiatif ini menjadi langkah segar dalam menjawab tantangan pembelajaran masa kini. Di tengah perubahan karakter generasi muda yang semakin visual, interaktif, dan berbasis pengalaman, pendekatan konvensional dinilai belum cukup. RBC pun mencoba menghadirkan metode belajar yang lebih kontekstual, partisipatif, dan relevan.
Baca juga: Ruang Pulang Perempuan: Saat Kalis Mardiasih dan RBC Institute Mengubah Luka Jadi Karya
Board game ini tidak sekadar dirancang sebagai permainan hiburan. Lebih dari itu, ia menjadi medium edukasi yang mengajak pemain memahami gagasan besar Abdul Malik Fadjar secara aplikatif. Melalui alur permainan, pengguna akan dihadapkan pada berbagai situasi yang merefleksikan dinamika kebijakan pendidikan, nilai keislaman berkemajuan, hingga tantangan transformasi pendidikan yang pernah dihadapi sang tokoh.
Proyek ini resmi dimulai melalui kegiatan kick off pada Jumat, 17 April 2026. Tahap awal ini menjadi pintu masuk bagi proses pengembangan yang mencakup perancangan konsep, desain permainan, hingga uji coba kepada pengguna.
Dalam pengembangannya, RBC tidak berjalan sendiri. Mereka menggandeng Lets Play Indonesia sebagai mitra strategis yang berpengalaman di industri board game edukatif. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan produk yang tidak hanya kuat dari sisi konten, tetapi juga menarik dari segi mekanika permainan.

Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menegaskan bahwa pengembangan ini merupakan bentuk adaptasi terhadap kebutuhan belajar generasi saat ini.
“Board game ini kami rancang sebagai jembatan antara gagasan besar tokoh dengan cara belajar generasi sekarang. Kami ingin nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Abdul Malik Fadjar tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dirasakan melalui pengalaman bermain yang reflektif dan menyenangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan ini sekaligus menjadi upaya untuk keluar dari pola lama. Selama ini, kajian tokoh pendidikan lebih sering disajikan dalam bentuk teks akademik atau ceramah satu arah. Melalui board game, proses belajar diubah menjadi pengalaman aktif—di mana pemain terlibat dalam pengambilan keputusan, memahami konsekuensi, dan merefleksikan nilai-nilai yang terkandung.
Ke depan, board game ini ditargetkan dapat digunakan di berbagai ruang belajar, baik formal maupun nonformal. RBC A. Malik Fadjar Institute juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkaya konten sekaligus memperluas jangkauan distribusi.
Dengan pendekatan yang lebih segar, inovatif, dan adaptif, inisiatif ini diharapkan mampu mendekatkan kembali generasi muda dengan warisan pemikiran pendidikan nasional, sekaligus menjawab tuntutan pembelajaran di era digital yang semakin dinamis. (#)
Jurnalis Manda Danastri Penyunting Mohammad Nurfatoni












