Feature

Menulis Itu Merayakan Diri: Perempuan Belajar Jujur di Bulan Bahasa

37
×

Menulis Itu Merayakan Diri: Perempuan Belajar Jujur di Bulan Bahasa

Sebarkan artikel ini
Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, Subhan Setowara (kiri), memberikan sambutan pembuka pada Kelas Menulis Pengalaman Perempuan bersama Kalis Mardiasih di Aula RBC Institute, Malang, Sabtu (12/10/2025). Kegiatan ini digelar untuk merayakan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia melalui refleksi dan penulisan pengalaman hidup perempuan.

RBC Institute dan Kalis Mardiasih membuka ruang belajar yang ramah bagi perempuan untuk menulis tanpa takut salah. Dari pengalaman pribadi, lahirlah cerita-cerita yang memerdekakan.

Tagar.co – Di tengah semarak Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia, RBC Institute A. Malik Fadjar menggelar kegiatan yang berbeda: Kelas Menulis Pengalaman Perempuan bersama penulis dan aktivis feminisme Kalis Mardiasih.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan komunitas Belajar Literasi ID ini dihadirkan bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi ruang aman untuk bertukar cerita, mengolah pengalaman hidup, dan merayakan bahasa Indonesia sebagai bahasa empati.

Baca juga: Ruang Pulang Perempuan: Saat Kalis Mardiasih dan RBC Institute Mengubah Luka Jadi Karya

Peserta datang dari berbagai daerah—mulai Probolinggo hingga kota-kota lain—dengan latar yang beragam: mahasiswa, pendidik, pegiat komunitas, pekerja kreatif, hingga ibu rumah tangga. Di ruang belajar yang hangat itu, mereka saling berbagi kisah, menulis dengan hati, dan menemukan kembali makna keberanian dalam setiap pengalaman yang pernah dialami.

Literasi yang Memerdekakan

Dalam sambutan pembuka, Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, Subhan Setowara, menegaskan komitmen lembaga terhadap literasi yang memerdekakan.

Baca Juga:  Refleksi Awal Tahun PSIB UMM: Menakar Jalan Indonesia Emas 2045

“Bagi kami, literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tapi keberanian mengungkapkan pengalaman—terutama pengalaman perempuan—dengan martabat,” ujarnya.

Kolaborasi ini, lanjutnya, menjadi jembatan antara cerita pribadi dan pengetahuan publik yang mencerahkan. “Beginilah cara kami merayakan Bulan Bahasa: dengan praktik nyata yang memanusiakan.”

Dari Cerita Pribadi ke Gagasan Tulisan

Selama kelas berlangsung, Kalis Mardiasih mengajak peserta memetakan momen-momen kunci dalam hidup—baik yang menggembirakan, menyulitkan, maupun yang selama ini dinormalkan—untuk diolah menjadi tulisan reflektif.

Ia menekankan tiga fondasi penting dalam menulis pengalaman perempuan: kejujuran sudut pandang, empati terhadap diri dan orang lain, serta etika bercerita.

“Setiap cerita punya nyawa, tapi penulisnya harus menjaga kehidupan di dalamnya,” tutur Kalis.

Melalui latihan journaling dan sesi berbagi kelompok kecil, peserta belajar mengenali emosi, memberi nama pada peristiwa, dan menulis tanpa takut dihakimi.

Bahasa yang Inklusif dan Menyembuhkan

Nuansa Bulan Bahasa semakin terasa saat diskusi menyinggung pentingnya bahasa Indonesia yang inklusif. Pilihan diksi yang hemat tapi bermakna, struktur paragraf yang runut, serta kepekaan terhadap istilah gender menjadi bahan refleksi bersama.

Baca Juga:  Mobil Terbang RBC Tanamkan Literasi dan Edukasi Lingkungan sejak Dini di TK Cahaya Permata

Kelas ini bukan ajang kritik naskah, melainkan ruang tumbuh yang memuliakan setiap suara. Tak ada tuntutan untuk “sempurna”—yang utama adalah keberanian untuk jujur, tulus, dan bertanggung jawab.

Komitmen Literasi yang Berkelanjutan

Kolaborasi antara RBC Institute A. Malik Fadjar dan Belajar Literasi ID ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan memperluas akses pembelajaran menulis yang peka gender dan relevan dengan keseharian. Cerita-cerita yang lahir dari kelas diharapkan menjadi pijakan awal bagi peserta untuk terus menulis, berbagi, dan memperkaya percakapan publik—agar pengalaman perempuan hadir utuh, terdengar, dan berdampak. (#)

Jurnalis Manda Danastri Penyunting Mohammad Nurfatoni