OpiniUtama

Pagi Janji Damai, Sore Kobarkan Perang

2225
×

Pagi Janji Damai, Sore Kobarkan Perang

Sebarkan artikel ini
Pagi Janji Damai, Sore Kobarkan Perang
Para petugas layanan darurat berupaya mengevakuasi para korban serangan Israel di Al-Mazraa, Kota Beirut, Lebanon, 8 April 2026.

Gencatan senjata perang Iran-Israel seperti pepatah isuk kedele sore tempe. Israel plin-plan melanggar perjanjian damai dengan menyerang Lebanon.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.

Tagar.co – ‎Iran kembali menunjukkan kemarahannya dengan menutup Selat Hormuz hanya dalam hitungan jam.

‎Amarah terjadi setelah Israel melanjutkan serangan ke Lebanon dan Donald Trump melontarkan tekanan daripada diplomasi.

Apa yang sebelumnya diklaim sebagai langkah de-eskalasi justru berubah menjadi eskalasi berlapis.

Memperlihatkan bahwa fondasi kesepakatan yang dibangun sejak awal jadi rapuh dan tidak pernah benar-benar solid dan dilanggar Trump.

‎Selat Hormuz merupakan titik krusial dalam sistem energi global. Sekitar 17 hingga 20 juta barel minyak per hari. Hampir 20% pasokan dunia melewati jalur ini.

Ketika Iran mengganggunya, dampaknya tidak menunggu lama. Harga minyak langsung bergejolak, premi asuransi tanker meningkat, dan biaya distribusi energi melonjak tajam.

Efek berantainya cepat terasa. Negara-negara importir mulai menghadapi tekanan inflasi. Biaya transportasi meningkat, dan harga kebutuhan pokok perlahan terdorong naik.

Dalam hitungan jam, konflik regional berubah menjadi persoalan global yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat luas. Bahkan di negara yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan konflik tersebut.

Baca Juga:  RRI: Visi Nasional, Misi Lokal

‎Sementara serangan Israel ke Lebanon tetap berlangsung di tengah narasi gencatan senjata.

Ratusan korban sipil dan kerusakan infrastruktur menjadi bukti bahwa konflik tidak dihentikan, melainkan hanya dipindahkan titik tekanannya.

Ini memperjelas bahwa perdamaian yang diumumkan tidak pernah benar-benar menyentuh realitas di lapangan.

‎Studi Kasus

‎Kasus Lebanon memperlihatkan bagaimana konflik modern bekerja dalam pola berlapis.

Ketika satu front diklaim mereda, front lain justru dibuka. Serangan ke wilayah sipil di Lebanon bukan hanya memperluas konflik, tetapi juga memicu reaksi strategis dari Iran yang memilih menjawab melalui jalur ekonomi global, bukan sekadar militer langsung.

‎Di sisi lain, Selat Hormuz menjadi kartu truf yang sangat efektif. Tanpa perlu konfrontasi terbuka, Iran cukup mengganggu jalur distribusi energi dunia untuk menciptakan tekanan maksimal.

Ini adalah bentuk baru dari konflik. Di mana penguasaan titik strategis lebih menentukan daripada kekuatan tempur konvensional.

‎Kombinasi antara serangan di Lebanon dan tekanan di Hormuz menciptakan efek ganda: ketegangan geopolitik meningkat, sementara ekonomi global ikut terguncang.

Baca Juga:  Lautan Duka di Teheran, Warga Iran Tangisi Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei

Dunia menjadi saksi bahwa konflik hari ini tidak lagi linear, tetapi saling terhubung dalam jaringan dampak yang luas dan kompleks.

‎Analisis

‎Peristiwa ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya perang Iran-Israel, tetapi kegagalan dalam mengendalikan arah konflik itu sendiri.

Ketika satu pihak berbicara tentang perdamaian, sementara sekutunya tetap menyerang, maka pesan yang muncul bukanlah komitmen, melainkan inkonsistensi.

‎Dalam konteks ini, Donald Trump menghadapi kritik tajam karena pendekatan yang lebih menekankan tekanan dibanding koordinasi.

Diplomasi yang seharusnya menjadi alat pengendali justru terlihat seperti berjalan sendiri-sendiri, tanpa keselarasan antara pernyataan dan tindakan di lapangan.

Lebih dalam lagi, Iran justru berhasil memanfaatkan celah ini. Dengan memegang kendali atas Hormuz, Iran tidak hanya merespons tekanan, tetapi juga membalikkan posisi menjadi pihak yang memiliki leverage strategis.

Ini menunjukkan dalam konflik modern, kekuatan tidak selalu dimiliki oleh yang paling dominan secara militer, tetapi oleh yang paling mampu mengendalikan titik-titik krusial dalam sistem global.

‎Kontradiksi antara narasi dan realitas semakin terlihat jelas. Di satu sisi ada klaim keberhasilan diplomasi, di sisi lain data menunjukkan eskalasi, korban bertambah, dan pasar global bergejolak.

Baca Juga:  Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

Jurang ini memperlihatkan bahwa masalahnya bukan sekadar kebijakan, tetapi kredibilitas dari kebijakan itu sendiri.

‎Pada akhirnya, dunia kembali dihadapkan pada ironi yang berulang. Perdamaian diumumkan dengan penuh keyakinan, tetapi runtuh bahkan sebelum sempat dipercaya.

‎Yang bergerak cepat bukanlah stabilitas, melainkan ketidakpastian. Yang menguat bukanlah kepercayaan, melainkan keraguan.

‎Dan mungkin yang paling satir dari semua ini adalah kenyataan bahwa di tengah klaim kepemimpinan global yang kuat, justru arah konflik terlihat semakin sulit dikendalikan. Bahkan oleh mereka yang mengaku paling mampu mengendalikannya. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto