
Goresan pena dalam dinding gubuk penyair adalah sajak keabadian dalam merangkai sajak kehidupan. Puisi kebahagiaan tergores dalam gubuk baru penyair, bukan kemewahan sebagai jalan kedamaian tetapi mampu menuangkan kegundahan merupakan sajak keabadian.
Oleh Deny Kurniawan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo
Tagar.co – Penyair jalanan kini memiliki gubuk baru untuk mengekspresikan pena syairnya. Ia menuliskan sajak di dinding-dinding rumah: sajak peradaban, sajak perubahan, dan sajak kemanusiaan.
Penyair jalanan tidak membutuhkan atap untuk bersyair. Ia tidak memerlukan tepuk tangan meriah, bahkan tak butuh pujian dari pendengar atau pembacanya. Baginya, kebahagiaan adalah saat mampu menuangkan kegundahan hidup dan perilaku manusia dalam goresan pena—sebuah sajak keabadian yang dinilai oleh malaikat bersayap kepatuhan.
“Kosim, ya namaku Kosim. Penyair jalanan yang tak kunjung padam hasratnya dalam menuangkan kata. Mereka memanggilku Sim—patahan nama yang terjalin mesra dalam rangkaian sajak. Aku tidak akan menuliskan syair jika itu belum menjadi beban pikiranku dan masyarakat di daerahku, meskipun kini aku sudah memiliki rumah penyair dekat sawah seberang desa ini.”
“Terus, apa yang menjadi bebanmu dan masyarakatmu?” tanya Paijo sambil melihat coretan sajak di dinding.
“Iri sesama manusia yang sampai saat ini belum terurai,” jawabku, sesekali menengok ekspresi Paijo.
Sifat manusia yang tak manusiawi menjadi penyebab gegernya negeri. Gesekan antarmasyarakat sering terjadi.
Apa mereka tidak tahu bahwa setiap orang memiliki bagiannya masing-masing dan saling melengkapi? Itu semua adalah bagian dari kebesaran Tuhan. Bahkan perbedaan suku ada agar manusia saling mengenal dan memperbaiki diri dalam keberagaman yang sejati, bukan untuk mencari-cari perbedaan.
“Iri itu apa, Sim?” tanya Paijo lagi.
“Iri adalah ketidaknyamanan hati dalam menjalani hidup,” ucapku sambil menghela napas dalam.
Orang yang iri akan terus mencari tahu tentang orang lain. Mereka bertanya ke sana kemari demi mendapatkan kabar.
Semakin banyak berita yang didapat, semakin berat pula beban pikirannya. Mereka tidak pernah puas melihat kesuksesan orang lain.
Padahal, sebagai sesama makhluk Tuhan, kita memiliki hak dan kewajiban yang sama: saling menghormati, menjaga, dan menghargai apa pun yang dimiliki serta diyakini orang lain.
Jika kebahagiaan tetanggamu terasa seperti musibah bagimu, maka yang perlu diperbaiki adalah hatimu sendiri.
“Lha, bagaimana jika tiba-tiba kita merasa iri pada tetangga, Sim?” sahut Paijo dengan nada serius.
“Kuberikan contoh nyata, Jo.” Aku menyeruput kopi dari cangkirku, lalu mengembuskan napas panjang.
“Misalnya, tetangga kita, Pak Bagio, membeli mobil baru minggu lalu. Itu rezekinya. Kita tidak perlu bertanya: kerjanya apa, dapat uang dari mana, atau halal tidak. Pertanyaan seperti itu hanya menambah beban batin. Sebagai tetangga, seharusnya kita bersyukur dan ikut bergembira, bahkan mendoakan agar mobil itu bermanfaat bagi banyak orang. Selesai, titik.”
“Contoh lain, anak Pak Kateno naik jabatan di perusahaannya. Ia pun mengadakan syukuran kecil. Kita tidak perlu bertanya gajinya berapa, bagaimana cara naik jabatannya, atau apa jalannya. Pertanyaan seperti itu tidak akan ada habisnya dan justru menjauhkan kita dari kebahagiaan karena terlalu mencampuri urusan orang lain.”
“Lho, memangnya ada kebaikan yang tidak membuat orang lain iri?” tanya Paijo sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Ada,” jawabku singkat.
Ibadah yang berkaitan langsung dengan Sang Pencipta jarang menimbulkan iri. Hal-hal yang tidak terkait dengan dunia, kekayaan, atau jabatan biasanya berjalan tenang tanpa gangguan.
Sebaliknya, banyak kerusakan terjadi karena harta, tahta, dan wanita. Rumah tangga bisa runtuh karenanya, persaudaraan pun bisa hancur. Bahkan konflik di masyarakat sering berakar pada tiga hal tersebut.
Namun, tidak pernah ada konflik karena persaingan jumlah rakaat tahajud, banyaknya puasa sunah, atau jumlah istigfar. Dari sini jelas bahwa sebagian besar masalah manusia berputar pada urusan dunia.
Aku teringat masa kecilku. Aku diajari untuk menerima apa yang dimiliki, tanpa memaksakan diri mengejar yang tidak ada. Waktu terasa berjalan cepat—pagi ke pagi lagi seperti berlari dalam roda kehidupan.
Dulu, saat kecil, waktu terasa lama. Menunggu Ramadan dan Lebaran seakan tak kunjung tiba. Bahkan putaran jam terasa lebih lambat. Kini, apakah waktunya yang lebih cepat, atau kita yang terlalu sibuk?
Barangkali karena sekarang kita dipenuhi aktivitas: bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga, hingga lupa waktu untuk keluarga, ibadah, dan mendidik anak.
Dulu, keinginan tidak banyak. Permainan pun sederhana—permainan tradisional yang mendekatkan persaudaraan. Jika bertengkar hari ini, besok sudah baikan lagi. Jika lapar, kami pergi ke kebun, mencari singkong, lalu membakarnya bersama di tepi sungai.
Kini semuanya berubah. Namun, perubahan seharusnya tidak menghilangkan jati diri kita sebagai masyarakat yang bermoral dan berakhlak. Kita tidak perlu menyalahkan orang lain. Perbedaan justru adalah kekayaan dalam membangun peradaban yang beradab—peradaban yang memanusiakan manusia.
Gubuk penyair ini adalah tempat baruku berkarya: melafalkan ayat-ayat cinta kepada Sang Pencipta, sekaligus menuliskan ilmu dalam balutan kata.
Kataku pada Paijo sambil menyuguhkan telo goreng. “Monggo, disambi, Kang Jo. Telo gorengnya.” (#)
Penyunting Ichwan Arif












