Cerpen

Aib Lama yang Kembali Mengetuk

7
×

Aib Lama yang Kembali Mengetuk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cerpen Aib Lama yang Kembali Mengetuk
Ilustrasi cerpen Aib Lama yang Kembali Mengetuk (Al)

Malam terasa semakin sunyi namun bukan lagi sunyi yang menakutkan. Untuk pertama kalinya Arman mengerti bahwa kebaikan yang ia lakukan bukan sekadar pilihan melainkan jawaban perlahan atas hutang masa lalu yang tak pernah ia sadari sepenuhnya.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Tagar.co – Pada suatu pagi yang tampak biasa Arman menatap layar ponselnya dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Sebuah pesan singkat dari kantor membuat dadanya terasa berat seperti ditindih sesuatu yang tak terlihat.

Ia belum memahami sepenuhnya apa yang sedang bergerak menuju hidupnya namun hari itu diam diam menjadi awal dari perubahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Arman dikenal sebagai lelaki pendiam di kantor kecil tempat ia bekerja. Ia jarang terlibat percakapan panjang dan lebih sering menyelesaikan persoalan tanpa suara.

Ketika seorang rekan melakukan kesalahan besar dalam laporan keuangan Arman memperbaikinya diam diam sebelum sampai ke meja pimpinan. Ia tidak mencari pujian. Baginya menjaga aib orang lain adalah cara sederhana menjaga ketenangan hidupnya sendiri.

Namun ketenangan tidak selalu berjalan lurus.

Suatu siang kabar tentang manipulasi data menyebar cepat di seluruh ruangan. Wajah wajah tegang saling memandang dengan curiga.

Pimpinan memanggil setiap karyawan untuk dimintai penjelasan. Ketika giliran terakhir tiba nama Arman disebut sebagai orang yang tercatat mengubah laporan. Ruangan mendadak terasa sempit.

Baca Juga:  25 Tahun Menjaga Cahaya di Ruang Kelas

Tatapan rekan kerja berubah pelan pelan. Bisik pelan yang dulu ramah kini terdengar seperti jarak. Lelaki yang terbiasa menolong tanpa suara tiba tiba berdiri di pusat kecurigaan.

Arman tidak banyak membela diri. Ia hanya mengatakan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Kalimat sederhana itu justru terdengar seperti pengakuan bagi sebagian orang. Dalam beberapa hari ia dipindahkan sementara sambil menunggu penyelidikan selesai.

Malam malam menjadi panjang dan sunyi. Untuk pertama kalinya ia merasakan kecewa yang benar benar menyentuh bagian terdalam dirinya.

Ia duduk di kamar kontrakan sempit memandangi dinding kusam sambil mengingat kebaikan kecil yang pernah ia lakukan tanpa diketahui siapa pun. Pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya apakah setiap kebaikan sungguh akan kembali.

Hari hari berlalu lambat namun Arman tetap menjalani rutinitas sederhana. Ia membantu tetangga yang sakit mengantar anak kecil menyeberang jalan dan memperbaiki keran rusak di mushala dekat rumahnya. Tidak ada yang tahu bahwa ia sedang kehilangan pekerjaan. Ia memilih diam sebagaimana biasanya.

Suatu sore hujan turun deras. Setelah memastikan atap mushala tidak lagi bocor Arman duduk di teras menunggu reda.

Dari kejauhan ia melihat seorang lelaki tua kebingungan mencari tempat berteduh. Tanpa banyak berpikir Arman menghampiri lalu memayunginya hingga ke rumah sederhana di ujung gang.

Baca Juga:  Sepeda Kecil, Semangat Besar

Lelaki tua itu tidak banyak bicara. Matanya menatap Arman lama seolah membaca sesuatu yang tersembunyi.

Sebelum pintu ditutup ia berbisik pelan dunia memang berputar dan tidak pernah keliru menghitung. Kalimat itu terdengar aneh namun meninggalkan rasa tenang yang sulit dijelaskan.

Keesokan paginya telepon dari kantor datang tiba tiba. Suara pimpinan terdengar berbeda lebih lembut dan penuh penyesalan.

Penyelidikan menemukan kerusakan sistem lama sebagai penyebab perubahan data. Nama Arman muncul hanya karena ia orang terakhir yang membuka berkas. Bukan karena ia memanipulasi.

Nama Arman bersih sepenuhnya. Bahkan pimpinan mengetahui bahwa selama ini Arman sering memperbaiki kesalahan orang lain tanpa melapor. Dalam rapat mendadak diputuskan ia dipanggil kembali dan dipercaya memimpin divisi baru.

Permintaan maaf datang dari berbagai arah. Arman menerimanya dengan tenang tanpa menyimpan luka terbuka. Ia hanya mengatakan bahwa setiap orang pernah keliru dan kesempatan memperbaiki diri selalu ada.

Malam setelah kembali bekerja Arman berjalan pulang melewati gang yang sama. Ingatannya tertuju pada lelaki tua yang ia temui saat hujan. Ada dorongan kuat untuk kembali ke rumah di ujung gang itu.

Namun rumah tersebut kosong. Pagar berkarat tertutup debu tebal seperti tak pernah disentuh berbulan bulan. Tetangga sekitar mengatakan tidak ada yang tinggal di sana sejak lama.

Arman berdiri lama tanpa suara. Angin malam berembus membawa aroma tanah basah yang mengingatkannya pada hujan beberapa hari lalu. Ia yakin tidak sedang salah mengingat.

Baca Juga:  Subuh Ketiga yang Diam-Diam Mencairkan Hati

Tangannya masuk ke saku kemeja dan menemukan secarik kertas kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dengan napas tertahan ia membukanya perlahan.

Di sana hanya ada satu kalimat pendek aibmu telah lebih dulu ditutupi sebelum engkau belajar menutupi aib orang lain.

Tubuh Arman seketika lemas. Ingatannya melompat jauh ke masa yang selama ini ia kubur rapat rapat. Bertahun tahun lalu ia pernah melakukan kesalahan yang seharusnya menghancurkan hidup orang lain sekaligus hidupnya sendiri. Kesalahan itu lenyap tanpa jejak seolah dunia memberi kesempatan kedua yang tak ia pahami.

Malam terasa semakin sunyi namun bukan lagi sunyi yang menakutkan. Untuk pertama kalinya Arman mengerti bahwa kebaikan yang ia lakukan bukan sekadar pilihan melainkan jawaban perlahan atas hutang masa lalu yang tak pernah ia sadari sepenuhnya.

Ia menatap langit gelap tanpa bintang dengan perasaan yang berbeda. Bukan lagi tentang tuduhan atau pembelaan melainkan tentang keseimbangan yang bekerja diam diam dalam hidup manusia.

Saat ia melangkah pergi samar samar terdengar suara langkah lain menjauh dari arah berlawanan. Ketika Arman menoleh gang itu kembali kosong sepenuhnya seakan tidak pernah ada siapa pun sejak awal. (#)

Penyunting Ichwan Arif