Feature

Zakat dan Pemberdayaan Mustahik

15
×

Zakat dan Pemberdayaan Mustahik

Sebarkan artikel ini
Zakat dan pemberdayaan mustahikZakat tidak hanya meringankan mustahik, tetapi juga mampu mendorong mustahik menuju kemandirian ekonomi
Zakat dan pemberdayaan mustahik (Foto ilustrasi freepik.com)

Zakat dan pemberdayaan mustahik. Zakat tidak hanya meringankan mustahik, tetapi juga mampu mendorong mustahik menuju kemandirian ekonomi

Oleh Yekti Pitoyo, Amil Lazismu

Tagar.co – Sebagai amil, kami menyadari bahwa perolehan angka zakat maal di Lazismu tidak semestinya berhenti pada capaian nominal semata. Lebih dari itu, zakat perlu didesain agar benar-benar berdampak dan berkelanjutan pada pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup mustahik.

Pertanyaan ini perlahan menjadi ruang refleksi yang terus kami bawa, terutama di momentum Ramadan.

Bulan Ramadan selalu menjadi puncak aktivitas lembaga zakat. Pada fase ini, mayoritas muzakki menunaikan kewajiban zakatnya, khususnya zakat maal. Nilainya beragam, beberapa hingga ratusan juta per muzakki.

Tahun ini, Lazismu Jawa Timur mencatat perolehan sebesar 36,4 miliar rupiah. Angka yang patut disyukuri, sekaligus menghadirkan tanggung jawab yang tidak ringan.

Produktif Berdampak Berkelanjutan 

Di balik capaian tersebut, muncul pertanyaan yang terus kami renungkan. Dari total dana yang terhimpun, berapa bagian yang benar-benar diarahkan untuk program produktif yang berdampak dan berkelanjutan? Ataukah sebagian besar masih terserap pada pentasyarufan konsumtif yang sifatnya jangka pendek dan cepat selesai seiring berakhirnya Ramadan?

Baca Juga:  Kolaborasi Lazismu–Baznas Sidoarjo Bedah Rumah Warga Terdampak Atap Ambruk

Kami memahami bahwa kebutuhan konsumtif tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Ada kondisi-kondisi yang memang membutuhkan respon cepat. Di saat yang sama, ada harapan yang lebih panjang. Bagaimana zakat bisa menjadi jalan bagi mustahik untuk perlahan keluar dari ketergantungan.

Di titik inilah kami mulai melihat pentingnya akurasi data untuk merancang arah program. Angka tidak lagi sekadar laporan, tetapi menjadi kompas yang membantu kami menentukan langkah.

Zakat yang dikelola dengan baik semestinya tidak hanya meringankan, tetapi juga mampu mendorong mustahik menuju kemandirian ekonomi.

Desain program pemberdayaan kemudian menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Bukan hanya tentang berapa yang terkumpul, tetapi bagaimana dana tersebut diolah menjadi intervensi yang terukur dan berdampak.

Karena itu, pembangunan database mustahik yang valid menjadi kebutuhan mendasar. Disertai dengan upaya pemantauan yang terus berjalan terhadap penerima manfaat.

Perubahan Kecil Tapi Nyata

Dari proses itu, kami mulai belajar melihat zakat tidak hanya dari sisi penyaluran, tetapi dari perubahan yang dihasilkan.

Baca Juga:  Ketua Lazismu Jatim Tekankan UMKM Harus Berkelanjutan

Apakah ada peningkatan kondisi finansial? Apakah ada penguatan dalam aspek spiritual? Apakah kehidupan sosial mustahik menjadi lebih baik?

Barangkali, di situlah letak tujuan yang sesungguhnya. Bahwa di balik setiap angka yang terkumpul selama Ramadan, ada harapan tentang perubahan—meski kecil, tetapi nyata.

Dan sebagai amil, kami percaya, ketika zakat mulai diarahkan dengan kesadaran seperti ini, maka zakat tidak hanya berhenti sebagai bantuan, tetapi perlahan tumbuh menjadi kekuatan yang menggerakkan. Mengangkat martabat mustahik tanpa banyak drama. (#)

Penyunting Sugiran.