Cerpen

Zada yang Tak Pernah Diam

22
×

Zada yang Tak Pernah Diam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi cerpen Zada yang Tak Pernah Diam
Ilustrasi cerpen Zada yang Tak Pernah Diam (Al)

Awalnya tidak mudah. Zada masih beberapa kali lupa. Ia masih berlari tiba-tiba atau berbicara terlalu keras. Namun sekarang, setiap kali ia melakukan kesalahan, ia mulai menyadarinya.

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; guru TK IT Handayani Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Libur sekolah hampir usai. Sebentar lagi saya akan kembali disibukkan dengan aktivitas di sekolah bersama dengan malaikat-malaikat kecil, termasuk Zada.

Bocah lima tahun dengan rambut klimis, mata yang selalu berbinar, dan tubuh yang seolah tidak pernah kehabisan energi.

Setiap pagi, begitu sampai di sekolah, Zada langsung berlari dari gerbang menuju kelas, melompat-lompat seperti kelinci kecil yang baru dilepas dari kandang.

Teman-temannya sering berkata, “Zada itu seperti punya mesin di dalam tubuhnya, nggak pernah habis baterainya!”

Saat anak-anak lain duduk rapi untuk belajar, Zada menggoyang-goyangkan badannya, mengetuk meja, atau tiba-tiba berdiri tanpa alasan.

Ketika saya bercerita di depan kelas, Zada kadang menyela dengan suara keras, atau berjalan ke depan karena ingin melihat buku cerita lebih dekat.

Awalnya, tingkah Zada membuat suasana kelas terasa ramai dan menghibur. Ia suka membuat wajah lucu, pura-pura menjadi robot, atau menirukan suara hewan.

Banyak teman tertawa melihatnya. Zada pun senang, karena merasa dirinya bisa menghibur semua orang.

Namun, lama-kelamaan, tingkahnya mulai berlebihan. Suatu hari, saat kegiatan mewarnai, semua anak sedang duduk tenang.

Areta mewarnai gambar bunga dengan hati-hati, sementara Bima sibuk memilih warna langit. Tiba-tiba, Zada berlari mengelilingi meja sambil membawa pesawat kertas buatannya.

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

“Lihat! Pesawatku terbang tinggi!” teriaknya penuh semangat.

Karena terlalu bersemangat, Zada tidak memperhatikan ruang di sekitarnya. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol kotak krayon milik Areta hingga jatuh berserakan, beberapa bahkan patah.

“Zada!” seru Areta kaget.

“Aku belum selesai mewarnai.”

Zada hanya tersenyum kecil. “Nanti bisa dipakai lagi,” katanya ringan, lalu kembali berlari.

Saya mencoba mengingatkannya, tetapi Zada hanya diam sesaat, lalu kembali mengulangi hal yang sama sesudahnya.

Keesokan harinya, saat jam bermain, Zada berlari lebih cepat dari biasanya. Ia mengejar bola kecil yang menggelinding ke dalam kelas.

Tanpa melihat sekeliling, ia menabrak Areta yang sedang berdiri. Areta pun terjatuh dan lututnya terbentur lantai.

Tangis Areta pecah. Kelas mendadak sunyi.

Zada terdiam. Ia belum pernah melihat temannya menangis seperti itu karena dirinya. Tangannya sedikit gemetar, namun ia tidak tahu harus berbuat apa.

Saya segera menghampiri Areta untuk menenangkannya, lalu menatap Zada dengan serius.

“Zada, kamu perlu lebih berhati-hati, ya.”

Mendengar itu, Zada menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas atau tersenyum.

Namun, perubahan tidak terjadi seketika.

Beberapa hari kemudian, Zada kembali bertindak tanpa kontrol saat bermain, sehingga membuat Bima merasa kesakitan. Bima langsung menarik tangannya dan meringis.

“Zada, sakit…” katanya pelan.

Kejadian serupa mulai dirasakan juga oleh beberapa teman lainnya. Teguran yang saya berikan sebelumnya belum sepenuhnya dipahami oleh Zada. Sebelum pulang, saya mengajak anak-anak berbicara bersama.

Baca Juga:  Mitos Ular Cabe

“Teman-teman, siapa yang hari ini merasa tidak nyaman karena tindakan Zada?”

Beberapa anak mengangkat tangan dengan ragu. Zada melihat sekeliling, wajahnya mulai berubah. Saya kemudian mengajak Zada memahami perasaan temannya dengan cara yang lebih sederhana.

“Zada, bagaimana ya rasanya kalau kita diperlakukan dengan cara yang tidak menyenangkan?” tanya saya lembut.

Zada terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Saya melanjutkan, “Teman-temanmu ingin bermain dengan aman dan nyaman, sama seperti kamu.”

Zada pun mulai menangis pelan. Ia mengangguk, seolah mulai mengerti. Setelah teman-temannya pulang, saya duduk di sampingnya.

“Kamu tahu kenapa teman-teman sedih?” tanya saya. Zada mengangguk pelan. “Karena aku sering bikin mereka sakit…” Saya tersenyum lembut.

“Kamu anak yang baik, Zada. Tapi kamu punya energi yang sangat besar. Kalau tidak digunakan dengan hati-hati, bisa membuat orang lain tidak nyaman.”

“Terus aku harus gimana, Ustazah?” tanya Zada dengan suara bergetar.

“Belajar mengendalikannya. Kita coba pelan-pelan, ya.”

 

Sejak hari itu, Zada mulai berusaha berubah. Setiap pagi sebelum kelas dimulai, saya mengajaknya berlari, melompat, jalan cepat atau apapun agar energinya tersalurkan.

 

Di dalam kelas, Zada sengaja saya beri tugas-tugas kecil seperti membagikan buku, menghapus papan tulis, atau merapikan mainan.

 

Saat Zada mulai terlihat gelisah, saya mengajaknya berhenti sejenak. “Ayo tarik napas… satu… dua… tiga…”

Baca Juga:  Suara Hati Rina

Awalnya tidak mudah. Zada masih beberapa kali lupa. Ia masih berlari tiba-tiba atau berbicara terlalu keras. Namun sekarang, setiap kali ia melakukan kesalahan, ia mulai menyadarinya.

“Maaf…” katanya suatu hari, setelah hampir menjatuhkan pensil temannya.

Hal kecil, tetapi sangat berarti. Hari demi hari, perubahan mulai terlihat.

Suatu siang, saat anak-anak bermain di halaman, Areta tersandung batu kecil dan hampir jatuh. Dengan cepat, Zada berlari menghampiri—kali ini bukan untuk bermain, tetapi untuk membantu. Ia memegang tangan Areta agar tidak terjatuh.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya cemas.

Areta menggeleng.

“Tidak… terima kasih, Zada.”

Zada tersenyum kecil. Ia merasakan sesuatu yang berbeda—perasaan hangat karena bisa membantu.

Dari kejauhan, saya memperhatikan dan tersenyum bangga.

Zada masih anak yang aktif. Ia tetap suka berlari, tertawa, dan bermain. Namun sekarang, ia mulai belajar kapan harus berhenti.

Ia belajar melihat sekeliling sebelum bertindak. Ia memahami bahwa kesenangan tidak boleh membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Teman-temannya pun perlahan kembali mendekat.

“Zada, main bareng, yuk!” ajak Bima suatu hari. Zada mengangguk semangat, tetapi kali ini ia berkata, “Pelan-pelan saja ya, biar aman.”

Semua tersenyum.

Dan hari itu, Zada belajar satu hal penting, menjadi anak yang menyenangkan bukan hanya tentang keceriaan, tetapi juga tentang kepedulian.

Sejak saat itu, Zada bukan lagi anak yang dijauhi, melainkan teman yang disukai. (#)

Penyunting Ichwan Arif