
Ia tidak menyerang, tidak pergi—hanya menatap. Sejak perjumpaan itu, kampung kecil kami tak pernah sama, dan aku baru paham: ada rahasia alam yang tak boleh diambil semuanya.
Oleh Qosdus Sabil
Tagar.co – Setiap musim liburan akhir tahun tiba, kami—anak-anak kampung—memiliki kegembiraan yang barangkali sulit dipahami oleh anak-anak kota. Mereka pergi berlibur dengan jadwal rapi, kendaraan nyaman, dan foto-foto kenangan. Kami tidak. Kami hanya punya waktu luang, kaki telanjang, dan alam yang terbentang tanpa pagar.
Namun justru dari sanalah kebahagiaan kami tumbuh. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, kami tidak pernah merasa kekurangan kegembiraan. Desa memberi kami ruang untuk bertualang, dan rasa ingin tahu kami menjadi kompas perjalanan.
Baca cerpen lainnya: Telaga Kesambi
Liburan kami isi dengan petualangan kecil—jauh sebelum televisi memperkenalkan Bolang si Bocah Petualang. Kami sudah lebih dulu mengenal panas batu kapur, tajamnya ilalang, dan dinginnya air sendang yang tak pernah kering.
Suatu hari kami menyusuri perbukitan kapur, melewati bongkahan-bongkahan raksasa bekas tambang rakyat. Kala itu, galian C masih diizinkan secara terbatas. Alam belum sepenuhnya diserahkan kepada mesin-mesin rakus.
Pegunungan kapur menyimpan rahasia besar: cadangan air yang melimpah, gua-gua tua dengan stalaktit dan stalagmit yang tumbuh sabar selama ribuan tahun. Gua Maharani di Paciran, Lamongan, dan Gua Akbar di Tuban menjadi salah satu contoh keindahan alam bawah tanah pegunungan kapur.
Namun, keserakahan industri semen menjadi ancaman nyata bagi kelestarian pegunungan kapur. Masyarakat yang menyadari bahaya kerusakan ekosistem pegunungan kapur menolak keras eksplorasi batuan kapur sebagai bahan baku pabrik semen di daerah mereka.
Aku baru memahami nilainya bertahun-tahun kemudian—ketika mendengar kabar tentang tanah-tanah serupa yang mulai diukur, ditandai, dan dihitung nilainya. Orang-orang dari luar datang membawa peta dan janji. Mereka berbicara tentang kemajuan, lapangan kerja, dan masa depan.
Tak satu pun dari mereka berbicara tentang air.
Hari itu, kami berjalan telanjang kaki di bawah matahari yang terik membakar. Untuk menghindari telapak kaki melepuh, kami mengolesinya dengan getah pepaya. Tak seorang pun tahu siapa yang pertama kali menemukan cara itu.
Kami hanya tahu, getah pepaya melunakkan daging—sebab itulah daun pepaya selalu ramai dicari saat Iduladha. Hari ketika anak kampung seperti kami bisa makan daging tanpa menghitung potongan.
Tujuan kami adalah hutan jati—kadang ke Sugio, kadang ke Modo. Di sanalah, kata orang tua, Patih Gajah Mada pernah dilahirkan. Entah benar atau tidak, tetapi cerita itu membuat hutan terasa lebih tua, lebih khidmat.
Di pinggiran desa, ada sendang dengan mata air yang tak pernah surut. Airnya mengalir deras dari pipa besi besar, peninggalan program ABRI Masuk Desa. Tentara-tentara itulah yang dulu menembus medan sulit demi menjangkau sumber air. Masyarakat menganggap tempat itu keramat, apalagi mata air berada tepat di bawah pohon besar yang selalu disebut angker.
Sejenak aku menatap ke arah pohon besar yang dianggap angker itu. Kurasakan ada desiran lembut di samping bahuku, seolah memanggilku untuk mendekatinya. Aku melangkah perlahan. Sesaat aku sempat ragu, namun akhirnya kumantapkan kakiku berjalan selangkah demi selangkah hingga aku berada persis di bawahnya. Aku berjongkok, menangkupkan kedua telapak tangan, meraup airnya dan membasuhkannya ke wajahku yang seharian diterpa debu jalanan. Airnya jernih menyegarkan.
Kuraup lagi airnya dan kuteguk, sungguh nikmat dan terasa manis di lidah. Lalu, saat akan kuraup lagi airnya, muncul sesosok ular cabe yang berderik lembut seolah hendak menyambut kedatanganku. Ular cabe tersebut seukuran betis anak remaja dengan ujung ekornya yang merah menyala seperti bara yang belum padam.
Ia tidak menyerang. Tidak pula pergi.
Ia hanya ada.
Aku tercekat, bukan oleh takut, melainkan oleh perasaan seperti sedang diawasi oleh sesuatu yang lebih tua dari diriku, lebih sabar dari manusia. Aku paham, di hadapanku bukan sekadar ular. Ia seperti penanda. Penjaga. Sejenis isyarat bahwa tempat ini tidak sepenuhnya milik kami.
Orang-orang desa menyebutnya ular penunggu.
Aku baru mengerti kemudian: bukan ularnya yang mereka takuti, melainkan kemungkinan bahwa bila penjaga itu dilanggar, alam akan menuntut balasnya sendiri.
Biasanya, saat kami bertualang menyusuri sawah dan rawa, jika bertemu ular cabe kami justru gembira. Kami memiliki keyakinan bahwa perjumpaan dengan ular cabe akan membawa hoki. Dan sering kali, setelah itu, buruan hasil ikan yang kami dapatkan lebih banyak dari biasanya.
Aku penasaran. Kupanggil Udin, Edi, dan Mamat. Kami menyusuri sumber mata air lebih dalam. Benar saja—lele-lele besar berenang malas, mujair berkilau di sela akar, udang-udang kecil berkejaran. Kami saling pandang, takzim dan takjub.
Kami saling berpandangan heran melihat ikan-ikan begitu banyaknya. Sementara penduduk desa tidak ada yang berani mendekatinya, apalagi mengambil ikannya. Konon, ada penduduk desa yang nekat mengambil ikan lele dan memakannya. Tidak lama kemudian penduduk itu muntah-muntah seperti orang keracunan. Hal itu semakin menambah keyakinan penduduk desa tentang betapa angkernya tempat mata air itu.
“Mat, kau tangkap udang-udang kecil itu,” ujarku sembari membuat bendungan kecil dari dedaunan dan ranting pohon.
“Hei… nggak bahaya ta kita ambil ikannya?” tanya Edi kepadaku.
Belum sempat aku menjawab, Udin menyahut, “Nggak apa-apa, Ed. Takut amat jadi orang. Mamat saja nggak takut. Hahahaaaaa….”
Kami pun sepakat untuk mengambil ikan-ikan secukupnya. Hanya udang-udang kecil dan beberapa mujair. Lele besar kami biarkan. Lagi pula ikan lele yang sudah terlalu besar dagingnya terasa hambar, berbeda dengan lele yang masih tanggung—lebih gurih dan lembut.
Kini, ikan lele menjadi maskot kota kelahiranku. Menu lele goreng krispi maupun bakar menjadi kuliner unggulan. Keberadaan warung pecel lele menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.
Daging ikan lele berukuran besar akan terasa nikmat jika dibothok, masakan sejenis pepes ikan yang dibungkus daun pisang dengan ramuan bumbu keluak hitam. Aroma sedap keluak menjadikan daging lele lebih nikmat untuk disantap. Keluak adalah biji buah kepayang (Pangium edule), bahan bumbu masakan yang digunakan untuk membuat rawon.
Saat perjalanan ke berbagai pulau, jika sudah mulai bosan dengan menu masakan hotel tempat menginap, menu pecel lele selalu menjadi pilihan. Selain lele, biasanya terdapat menu ikan-ikan lain. Tidak jarang tersedia pula menu soto ayam Lamongan dan rawon. Kalau sudah begitu, aku merasa seperti sedang berada di kampung sendiri.
Kawan-kawanku yang sedang tiduran di bawah rimbunnya pohon jati terkejut melihat kami datang membawa cukup banyak ikan. Bergegas kami menghidupkan perapian, menanak nasi, dan menyiapkan sambal. Ikan dan udang kami panggang di atas perapian. Harum aromanya mengusik hidung kami, membuat perut kami memanggil-manggil minta diisi makanan.
Para penduduk yang hendak mandi sore ke sendang terlihat keheranan menyaksikan kami membakar ikan. Bergegas mereka menghampiri kami dan mengingatkan agar kami tidak celaka karena mengambil ikan di sumber mata air. Kami hanya mengangguk mendengarkan. Kami tidak berani membantahnya. Kami sadar, kami juga harus menghormati keyakinan masyarakat setempat—keyakinan akan pohon keramat dan misteri ular cabe penunggunya.
Kelak, kami mulai paham, legenda hutan angker yang banyak dipenuhi makhluk halus perlu dihormati. Bukan untuk diyakini mentah-mentah, namun di baliknya tersimpan usaha menjaga kearifan lokal agar masyarakat menjaga kelestarian hutan, sehingga tidak menimbulkan bencana demi bencana akibat ulah dan ketamakan manusia.
Perlahan, kisah tentang pohon angker mulai dianggap mengada-ada. Orang-orang muda menertawakannya. Orang-orang berpendidikan menyebutnya tak rasional. Mereka lupa bahwa mitos tidak pernah dimaksudkan untuk menjelaskan dunia, melainkan untuk menjaga batas agar dunia tidak dilukai.
Aku kembali ke tempat itu bertahun-tahun kemudian. Pohon besar itu masih berdiri, tetapi sepi. Air tetap mengalir, meski tak lagi sedingin dulu. Aku menunggu lama.
Ular cabe itu tak pernah muncul.
Barangkali ia telah pergi.
Barangkali ia diusir.
Atau barangkali, seperti banyak penjaga lain, ia kalah oleh suara yang lebih keras.
Kini aku paham, kisah ular cabe tidak pernah diciptakan untuk menakut-nakuti anak-anak. Ia diciptakan untuk orang dewasa—agar tahu diri. Ia adalah perjanjian diam antara manusia dan alam: bahwa ada yang boleh dimanfaatkan, dan ada yang harus dihormati.
Ular cabe tidak pernah melarang siapa pun mengambil air.
Ia hanya mengingatkan: jangan ambil semuanya.
Dan aku mengerti sekarang, kehancuran alam tidak selalu datang dengan ledakan, melainkan dengan tepuk tangan ketamakan manusia.
Gerimis kembali membasahi bumi …
Ciputat, 10 Rajab 1447
Penyunting Mohammad Nurfatoni












