
Bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah lahir kekuatan untuk terus berjuang.
Cerpen oleh Helmi Rohmanto, Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Laren Lamongan dan Ketua Humas Kwarcab HW Laren
Tagar.co – Pagi itu matahari baru saja muncul di ufuk timur. Di sebuah sudut desa kecil, suara gemericik air bercampur dengan bunyi sikat yang menggosok karpet.
Di sana berdiri seorang pria sederhana bernama Arif. Setiap hari ia bekerja sebagai tukang cuci motor dan karpet di pinggir jalan.
Tangannya kasar karena sabun dan air yang tak pernah berhenti menyentuh kulitnya. Bajunya sering basah, kadang juga berbau deterjen. Namun di balik semua itu, Arif menyimpan mimpi besar: melanjutkan pendidikan hingga S2.
Banyak orang yang mengenalnya hanya sebagai tukang cuci motor. Mereka sering berkata, “Ngapain sekolah tinggi-tinggi? Kerjamu juga tetap begini.”
Arif hanya tersenyum. Ia tahu mimpi tidak selalu dimengerti oleh semua orang. Sejak kecil Arif memang berasal dari keluarga sederhana.
Setelah lulus SMA, ia tidak bisa langsung melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Ia memutuskan bekerja apa saja yang halal. Hingga akhirnya ia membuka jasa cuci motor dan karpet kecil-kecilan di depan rumahnya.
Setiap hari ia bekerja dari pagi hingga sore. Tangannya tak pernah berhenti menggosok motor atau karpet pelanggan. Namun ada satu kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan: membaca buku.
Di sela-sela menunggu pelanggan, Arif sering membuka buku atau membaca dari ponselnya. Kadang orang yang lewat melihatnya sambil tersenyum heran.
“Cuci motor kok baca buku tebal begitu,” kata seorang pelanggan suatu hari.
“Saya sedang belajar, Pak,” jawab Arif pelan.
Tahun demi tahun berlalu. Dengan uang yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, Arif akhirnya berhasil mendaftar kuliah S1 di sebuah perguruan tinggi. Ia kuliah sambil tetap bekerja mencuci motor dan karpet.
Pagi hari ia bekerja, malam hari ia kuliah. Kadang tubuhnya sangat lelah, tetapi ia selalu mengingat satu hal: mimpi tidak akan tercapai jika menyerah di tengah jalan.
Perjalanan kuliah Arif tidak mudah. Ada saat di mana ia hampir menyerah karena biaya kuliah yang semakin berat. Tetapi ia selalu percaya bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.
Suatu hari, dosennya berkata sesuatu yang membuatnya semakin semangat. “Kesuksesan tidak ditentukan dari pekerjaan orang tua atau latar belakang ekonomi, tetapi dari tekad dan kerja keras.”
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Arif. Empat tahun kemudian, Arif berhasil menyelesaikan pendidikan S1 dengan baik.
Hari wisuda menjadi hari yang sangat mengharukan bagi keluarganya. Ibunya bahkan menangis ketika melihat anaknya memakai toga.
Namun bagi Arif, perjalanan belum selesai. Ia masih memiliki mimpi yang lebih besar: melanjutkan pendidikan S2.
Arif kembali bekerja lebih giat. Ia menabung dari setiap motor yang ia cuci dan setiap karpet yang ia bersihkan. Tidak ada pekerjaan yang ia anggap rendah. Baginya, semua pekerjaan halal adalah jalan menuju cita-cita.
Usahanya tidak sia-sia. Beberapa waktu kemudian, Arif berhasil mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan S2. Ketika kabar itu sampai ke tetangga dan para pelanggannya, banyak yang terkejut.
“Benarkah Arif yang tukang cuci motor itu kuliah S2?” tanya seseorang.
Ya, benar.
Arif membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal pekerjaan. Seseorang bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat yang paling sederhana.
Kini, meskipun sedang menempuh pendidikan S2, Arif masih sesekali terlihat di tempat cucian motornya. Ia tetap bekerja seperti biasa.
Karena bagi Arif, sabun, air, dan sikat itulah yang telah mengantarkannya menuju mimpi. Dan ia selalu berkata kepada siapa pun yang datang ke tempatnya,
“Jangan pernah malu dengan pekerjaanmu. Selama itu halal, dari situlah mimpi bisa dimulai.”
Cerita Arif menjadi inspirasi bagi banyak orang di desanya. Bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah lahir kekuatan untuk terus berjuang.
Karena mimpi besar sering kali lahir dari tempat yang sederhana. (#)
Penyunting Ichwan Arif.












