Opini

Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

148
×

Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Serangan terhadap Iran membuka kembali perdebatan lama tentang kolonialisme modern dan perjuangan Palestina. Di tengah konflik yang memanas, narasi perlawanan justru menemukan resonansi baru di dunia.

Oleh Ulul Albab; Akademisi dan Pengamat Dunia Islam; Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Jika konflik ini dibaca secara sempit sebagai perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, maka kita akan kehilangan gambaran besar yang sesungguhnya. Perang ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari konfigurasi geopolitik yang lebih luas yang selama beberapa dekade membentuk dinamika Timur Tengah.

Baca juga: Serangan ke Iran dan Retaknya Solidaritas Dunia Islam

Sejak berdirinya negara Israel pada 1948, kawasan ini berada dalam ketegangan yang terus-menerus antara proyek kolonialisme modern dengan aspirasi kemerdekaan bangsa Palestina. Pendudukan wilayah Palestina, ekspansi permukiman ilegal, blokade Gaza, serta operasi militer berulang terhadap masyarakat sipil telah menjadikan konflik ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan paling panjang dalam sejarah modern.

Dalam konteks itu, muncul apa yang oleh banyak pengamat geopolitik disebut sebagai “Axis of Resistance” atau sumbu perlawanan. Istilah ini merujuk pada jaringan negara dan aktor non-negara di Timur Tengah yang secara konsisten menentang dominasi Israel dan kebijakan geopolitik Amerika Serikat di kawasan.

Iran menempati posisi sentral dalam konfigurasi tersebut.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran memosisikan dirinya sebagai salah satu kekuatan regional yang paling vokal dalam mendukung perjuangan Palestina. Dukungan ini tidak hanya bersifat retoris, tetapi juga mencakup dukungan politik, diplomatik, dan dalam beberapa kasus dukungan strategis terhadap kelompok-kelompok yang menentang pendudukan Israel.

Baca Juga:  Hedging tanpa Jaring: Risiko Besar di Balik Strategi Indonesia

Karena itu, konflik antara Iran dan Israel tidak pernah sepenuhnya berdiri sebagai konflik bilateral. Ia selalu terkait dengan persoalan yang lebih luas: masa depan Palestina dan arsitektur kekuasaan di Timur Tengah.

Ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, banyak pengamat melihatnya sebagai upaya untuk melemahkan salah satu pilar utama dari sumbu perlawanan tersebut. Logika geopolitiknya cukup sederhana: jika Iran dapat dilemahkan, maka jaringan perlawanan terhadap dominasi Israel di kawasan juga akan ikut melemah.

Namun dinamika perang yang sedang berlangsung justru memperlihatkan kemungkinan yang sebaliknya.

Alih-alih melemahkan Iran, agresi militer justru memperkuat narasi solidaritas regional terhadap perlawanan. Di berbagai kota di Timur Tengah, demonstrasi besar muncul sebagai bentuk dukungan terhadap Iran sekaligus sebagai ekspresi kemarahan terhadap agresi militer yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat.

Dalam politik internasional, legitimasi moral sering kali menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding kekuatan militer. Negara yang dianggap sebagai korban agresi sering kali memperoleh simpati internasional yang lebih luas, bahkan dari negara-negara yang sebelumnya bersikap netral.

Baca Juga:  MUI Berduka atas Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei, Kutuk Serangan Israel–AS

Fenomena ini juga terlihat dalam konflik yang sedang berlangsung. Banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mulai menyuarakan keprihatinan terhadap eskalasi perang yang dipicu oleh serangan awal terhadap Iran.

Dengan kata lain, agresi militer tersebut berpotensi menghasilkan konsekuensi geopolitik yang tidak diinginkan oleh para perancangnya.

Iran, yang sebelumnya sering diposisikan sebagai aktor yang terisolasi dalam sistem internasional, justru memperoleh ruang baru untuk membangun legitimasi politik sebagai negara yang mempertahankan kedaulatannya dari serangan eksternal.

Dalam sejarah, dinamika seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Banyak negara yang justru memperoleh legitimasi politik yang lebih besar setelah berhasil bertahan dari tekanan militer eksternal.

Contohnya dapat dilihat pada Vietnam pada dekade 1970-an atau Lebanon pada konflik 2006. Dalam kedua kasus tersebut, ketahanan terhadap agresi militer justru memperkuat posisi politik aktor yang diserang.

Hal yang sama berpotensi terjadi dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Jika Iran mampu mempertahankan stabilitas internalnya dan terus menunjukkan kapasitas militernya untuk membalas serangan, maka narasi geopolitik kawasan dapat berubah secara signifikan.

Iran tidak lagi dipandang sekadar sebagai negara yang berada di bawah tekanan sanksi internasional, tetapi sebagai kekuatan regional yang memiliki kemampuan untuk menantang dominasi strategis lama.

Dalam perspektif yang lebih luas, konflik ini juga membuka kembali perdebatan global tentang kolonialisme modern. Selama beberapa dekade, dunia menyaksikan bagaimana konflik Palestina sering kali terjebak dalam kebuntuan diplomatik yang panjang.

Baca Juga:  Selat Hormuz: Saklar Stabilitas Dunia

Namun setiap kali terjadi eskalasi konflik di kawasan, persoalan tersebut kembali muncul ke permukaan sebagai isu moral yang tidak dapat diabaikan.

Perang yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel pada akhirnya membawa kita kembali pada pertanyaan mendasar yang telah lama menggantung dalam politik internasional: apakah dunia benar-benar konsisten dalam menegakkan prinsip keadilan dan kedaulatan bangsa?

Bagi masyarakat dunia yang menjunjung tinggi nilai keadilan, jawaban atas pertanyaan tersebut seharusnya cukup jelas. Penjajahan tidak dapat dibenarkan, agresi terhadap kedaulatan negara tidak dapat diterima, dan perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh kemerdekaannya tidak boleh diabaikan.

Dalam konteks inilah konflik yang sedang berlangsung harus dibaca.

Bukan sekadar perang antara negara, melainkan bagian dari pergulatan sejarah yang lebih panjang antara dominasi dan perlawanan.

Dari Gaza hingga Teheran, dari Beirut hingga berbagai kota di dunia Islam, narasi perlawanan terhadap kolonialisme modern terus menemukan resonansinya.

Dan sejarah sering kali menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, kekuatan yang bertahan bukanlah mereka yang paling kuat secara militer, tetapi mereka yang paling kuat dalam mempertahankan legitimasi moral perjuangannya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni