
Negara Arab kebanyakan diam melihat perang Iran-Israel bukan semata perbedaan mazhab Sunni-Syiah, faktor geopolitik, ekonomi, dan stabilitas kawasan juga berpengaruh.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Banyak orang di dunia muslim bertanya: mengapa ketika Iran berkonflik dengan Amerika Serikat atau Israel sebagian besar negara Arab tidak berdiri di belakang Iran?
Bahkan dalam banyak kasus, mereka justru lebih dekat dengan Amerika Serikat.
Bagi sebagian orang, hal ini terlihat seperti pengkhianatan terhadap solidaritas dunia muslim. Namun jika dilihat dari perspektif geopolitik, jawabannya jauh lebih kompleks.
Pertama, hubungan Iran dan dunia Arab sejak lama dipenuhi persaingan kekuatan. Iran bukan negara Arab. Iran adalah negara Persia dengan ambisi besar menjadi kekuatan utama di Timur Tengah.
Sejak Revolusi Iran 1979, Teheran berusaha memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah seperti Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman.
Pemerintah negara Arab memandang langkah ini sebagai upaya ekspansi geopolitik yang mengancam stabilitas kawasan.
Bagi negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, pengaruh Iran bukan sekadar isu ideologi, tetapi juga ancaman terhadap keamanan nasional mereka. Karena itu lobi AS yang menawarkan agar membuka hubungan diplomatik dengan Israel direspons baik tiga negara Arab itu.
Kedua, terdapat dimensi mazhab yang juga sering disebut dalam dinamika kawasan. Sebagian besar negara Arab berpenduduk mayoritas Sunni, sementara Iran merupakan negara dengan mayoritas Syiah terbesar di dunia.
Walaupun konflik Timur Tengah tidak semata-mata ditentukan oleh perbedaan mazhab, realitas ini kadang ikut memengaruhi persepsi politik dan kehati-hatian antarnegara.
Di beberapa kawasan Teluk, pemerintah berupaya menjaga stabilitas internal sehingga mereka sangat sensitif terhadap berbagai pengaruh eksternal yang berpotensi memicu dinamika sosial dan politik di dalam negeri.
Perlindungan Keamanan
Ketiga, hubungan strategis negara-negara Arab dengan Amerika Serikat telah terbentuk selama puluhan tahun.
Banyak negara Teluk menggantungkan keamanan mereka pada payung militer Amerika. Pangkalan militer Amerika tersebar di beberapa negara seperti Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Selain itu, sebagian besar persenjataan militer mereka juga berasal dari Amerika. Dalam situasi seperti ini, sangat sulit bagi negara-negara tersebut untuk secara terbuka berhadapan dengan Washington.
Keempat, faktor ekonomi dan stabilitas kawasan juga memainkan peran penting.
Negara-negara Teluk merupakan pusat produksi energi dunia. Perang besar di Timur Tengah berpotensi menghancurkan infrastruktur minyak, jalur perdagangan, dan stabilitas ekonomi global.
Karena itu, banyak negara Arab memilih pendekatan pragmatis, yakni menjaga hubungan dengan semua pihak sambil menghindari eskalasi konflik yang bisa merusak kawasan.
Dampak Pertama
Menariknya, sikap negara Arab tidak selalu berarti mereka mendukung Israel dan Amerika atau memusuhi Iran sepenuhnya.
Dalam banyak kesempatan, negara-negara Teluk justru berusaha menahan konflik agar tidak meluas. Seperti perang Iran-Israel ini.
Mereka memahami bahwa perang besar antara Iran, Amerika Serikat, atau Israel akan menjadikan wilayah mereka sebagai medan dampak pertama.
Dengan demikian, sikap negara-negara Arab terhadap Iran bukan semata soal agama atau solidaritas umat.
Ini adalah hasil perhitungan politik, keamanan, dan ekonomi yang sangat rumit.
Timur Tengah adalah panggung geopolitik di mana setiap negara harus menyeimbangkan kepentingan nasionalnya dengan realitas kekuatan global.
Realitas ini menunjukkan satu hal penting bahwa dalam politik internasional, kepentingan nasional sering kali lebih menentukan daripada sentimen ideologis atau solidaritas identitas.
Dunia muslim, seperti kawasan lain di dunia, juga bergerak dalam logika kekuatan, keamanan, dan strategi.
Memahami dinamika ini membantu kita melihat konflik Timur Tengah dengan lebih jernih, tidak sekadar hitam putih, tetapi sebagai jaringan kepentingan yang saling bersilangan.
Studi Kasus: Konflik Yaman
Salah satu contoh yang sering disebut dalam dinamika ini adalah konflik di Yaman.
Kelompok Houthi di Yaman diketahui memiliki hubungan politik dan militer dengan Iran.
Sementara koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi justru memerangi kelompok tersebut. Perang ini memperlihatkan dengan jelas bagaimana negara Arab memandang pengaruh Iran sebagai ancaman strategis di wilayah mereka.
Bagi Arab Saudi dan sekutunya, kemenangan Houthi yang dekat dengan Iran akan memperluas pengaruh Teheran tepat di perbatasan mereka.
Dari sudut pandang geopolitik, ini dianggap berbahaya bagi keseimbangan kekuatan di kawasan Teluk.
Karena itulah beberapa negara Arab memilih berkoalisi secara militer untuk menahan pengaruh tersebut.
Contoh lain terlihat di Lebanon melalui keberadaan Hizbullah, kelompok yang juga memiliki hubungan erat dengan Iran.
Bagi sebagian negara Arab, keberadaan kelompok bersenjata yang memiliki loyalitas ideologis kepada Iran menimbulkan kekhawatiran akan munculnya jaringan kekuatan non-negara yang dapat mempengaruhi politik regional.
Terjebak Rivalitas
Dari berbagai dinamika tersebut, terlihat bahwa politik Timur Tengah tidak bisa dipahami hanya melalui kacamata agama atau solidaritas umat semata.
Realitas politik menunjukkan bahwa negara akan selalu memprioritaskan keamanan dan kepentingan nasionalnya.
Dalam banyak kasus, pemerintah harus membuat keputusan yang tidak populer di mata publik demi menjaga stabilitas negara mereka.
Di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa dunia muslim masih terfragmentasi oleh kepentingan geopolitik yang berbeda-beda.
Alih-alih bergerak sebagai satu blok kekuatan, negara-negara di kawasan sering kali terjebak dalam rivalitas regional yang berkepanjangan.
Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa persatuan dunia Islam bukan hanya persoalan retorika, tetapi membutuhkan kepercayaan politik, stabilitas kawasan, serta kesediaan untuk mengurangi rivalitas kekuasaan.
Pada akhirnya, sikap negara-negara Arab terhadap Iran mencerminkan realitas keras dalam politik internasional. Kepentingan nasional hampir selalu berada di atas sentimen ideologis.
Timur Tengah adalah kawasan yang penuh dengan sejarah, rivalitas, dan kepentingan strategis yang saling bertabrakan.
Memahami hal ini membantu kita melihat konflik yang terjadi dengan lebih objektif.
Dunia tidak selalu bergerak berdasarkan idealisme, tetapi sering kali ditentukan oleh perhitungan kekuatan, keamanan, dan kepentingan jangka panjang.
Kesadaran ini penting agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam narasi sederhana yang melihat konflik global hanya dari satu sudut pandang.
Dengan memahami kompleksitasnya, kita dapat melihat bahwa setiap keputusan politik di kawasan tersebut lahir dari realitas geopolitik yang jauh lebih dalam daripada yang tampak di permukaan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












