Opini

Seberapa Besar Dunia Mendukung Iran?

141
×

Seberapa Besar Dunia Mendukung Iran?

Sebarkan artikel ini
Demonstrasi menentang serangan AS–Israel terhadap Iran di San Francisco. (Foto Al-Jazeerah English @AJEnglish)

Retorika solidaritas bergema di berbagai forum internasional, tetapi politik global jarang sesederhana memilih kawan atau lawan.

Oleh Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

Ketika Iran diserang oleh Amerika Serikat dan Israel, reaksi dunia ternyata tidak seragam. Tidak ada satu suara global yang benar-benar bulat. Dunia terbelah antara yang mendukung, yang mengkritik, dan yang memilih bersikap hati-hati.

Situasi ini memperlihatkan satu kenyataan penting: dalam geopolitik modern, dukungan internasional jarang murni didasarkan pada pertimbangan moral. Hampir selalu ada kepentingan strategis di baliknya.

Pendukung Iran

Di satu sisi, sejumlah negara secara terbuka mengecam serangan terhadap Iran. Banyak negara di kawasan Global South, seperti China, Pakistan, Brasil, Turki, dan Afrika Selatan, menilai tindakan militer tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional serta bentuk intervensi sepihak yang berbahaya bagi stabilitas dunia.

Baca juga: Di Balik Ketahanan Iran Menghadapi Gempuran Amerika

Beberapa negara bahkan menggunakan istilah yang cukup keras. Mereka menyebut operasi militer itu sebagai tindakan “imperialis” yang dapat memperburuk ketegangan global.

China, misalnya, menyatakan bahwa Iran memiliki hak untuk mempertahankan kedaulatannya dan menyerukan agar Barat menahan Israel dari eskalasi lebih lanjut. Pakistan dan Malaysia juga mengutuk serangan tersebut serta menyerukan penghentian kekerasan dan kembalinya semua pihak ke jalur diplomasi.

Baca Juga:  Selat Hormuz: Saklar Stabilitas Dunia

Bagi negara-negara ini, persoalannya bukan sekadar Iran. Yang mereka khawatirkan adalah preseden bahwa kekuatan militer besar dapat menyerang negara lain tanpa legitimasi internasional yang jelas.

Pendukung AS–Israel

Namun dukungan dunia terhadap Iran juga tidak sepenuhnya solid. Beberapa negara Barat justru mendukung langkah Amerika dan Israel. Kanada, Australia, dan beberapa sekutu Barat lainnya menyatakan dukungan terhadap operasi tersebut dengan alasan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

NATO sendiri menyatakan bahwa Iran merupakan ancaman keamanan dan menunjukkan sikap yang pada dasarnya mendukung tindakan Amerika.

Di mata negara-negara ini, konflik dengan Iran bukan sekadar perang regional, tetapi bagian dari upaya mencegah proliferasi nuklir dan menjaga keamanan sekutu mereka di Timur Tengah.

Bersikap Hati-Hati

Yang menarik justru sikap sebagian besar negara di dunia. Mereka tidak secara eksplisit mendukung Iran, tetapi juga tidak sepenuhnya mendukung serangan Amerika.

Uni Eropa, misalnya, memilih posisi yang sangat hati-hati. Para pemimpin Eropa menyerukan maximum restraint dan meminta semua pihak kembali ke meja perundingan.

Baca Juga:  Kesibukan Kehidupan Modern: Bahaya Menunda Salat

Bahkan beberapa negara Eropa mengkritik tindakan militer sepihak karena berpotensi memperburuk stabilitas kawasan.

Sikap ini menunjukkan dilema yang dihadapi banyak negara. Mereka khawatir terhadap program nuklir Iran, tetapi pada saat yang sama juga khawatir terhadap eskalasi perang yang dapat mengguncang ekonomi global.

Sikap Negara di Kawasan Teluk

Di kawasan Timur Tengah sendiri, situasinya bahkan lebih kompleks. Beberapa negara Teluk memiliki hubungan yang tegang dengan Iran. Mereka khawatir konflik ini dapat meluas ke wilayah mereka.

Setelah serangan Iran terhadap beberapa pangkalan di kawasan, negara-negara Teluk bahkan mengkritik tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan.

Namun pada saat yang sama, mereka juga tidak sepenuhnya nyaman dengan eskalasi militer yang dipicu oleh Amerika dan Israel. Banyak negara di kawasan lebih memilih stabilitas daripada konfrontasi terbuka.

Reaksi Masyarakat Global

Hal lain yang menarik adalah reaksi masyarakat global. Di beberapa negara, termasuk di Amerika Serikat sendiri, muncul demonstrasi yang menentang serangan terhadap Iran dan pembunuhan pemimpin tertinggi Iran.

Protes ini menunjukkan bahwa bahkan di dalam negara Barat sekalipun, opini publik mengenai konflik tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Baca Juga:  Ramadan di Tanah Suci: Saat Cuaca Bersahabat dan Panggilan Ibadah kian Dekat

Dukungan Itu Tidak Solid

Semua ini menunjukkan satu kenyataan geopolitik yang penting. Iran memang memiliki sejumlah pendukung di dunia internasional, tetapi dukungan itu tidak cukup kuat untuk membentuk koalisi global seperti yang dimiliki Amerika Serikat.

Sebaliknya, banyak negara memilih posisi tengah: tidak mendukung perang, tetapi juga tidak sepenuhnya berpihak kepada Iran.

Dalam politik internasional, posisi seperti ini sering disebut sebagai strategic neutrality. Negara-negara ingin menjaga hubungan dengan semua pihak tanpa terjebak dalam konflik besar.

Karena itu, jika pertanyaannya adalah seberapa besar dunia mendukung Iran, jawabannya: dukungan itu ada, tetapi tidak solid.

Iran memiliki simpati politik di sebagian dunia, terutama di kawasan Global South, tetapi tidak memiliki koalisi militer internasional yang kuat. Sebagian besar negara lebih memilih satu hal yang sederhana namun sangat penting, yaitu menghindari perang besar di Timur Tengah.

Sebab mereka tahu, jika konflik ini benar-benar meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Iran, Amerika, atau Israel. Dampaknya akan dirasakan oleh seluruh dunia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni