
Dalam hadis Nabi Saw., kalimat “Innisaimun” diajarkan sebagai respons ketika seseorang diprovokasi. Di situlah puasa menjadi sekolah kesabaran yang membentuk karakter dan kematangan emosi.
Serial Ramadan (19); Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani
Tagar.co – Bagi banyak orang, puasa identik dengan menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib. Namun Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa inti puasa justru terletak pada kemampuan mengendalikan lisan, meredam emosi, dan menahan diri dari konflik.
Karena itu, puasa bukan sekadar ibadah fisik, melainkan pendidikan akhlak yang mendalam.
Baca Serial Ramadan lainnya
Rasulullah Saw. bersabda:
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat gaduh. Jika ada seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi juga pendidikan karakter.
Puasa Tidak Hanya Menahan Lapar
Banyak orang memahami puasa sebatas menahan makan dan minum.
Namun Rasulullah Saw. justru memulai hadis ini dengan larangan terhadap perilaku lisan dan emosi:
-
rafas: ucapan kotor
-
sakhab: keributan dan kemarahan
Dalam penjelasannya, An-Nawawi menyatakan bahwa makna hadis ini adalah menjaga seluruh anggota tubuh dari perilaku yang merusak nilai puasa.
Artinya, puasa adalah latihan pengendalian diri secara menyeluruh.
“Innisaimun”: Kesadaran yang Menahan Diri
Menariknya, Rasulullah Saw. mengajarkan respons yang sangat unik ketika seseorang diprovokasi:
إِنِّي صَائِمٌ
“Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Kalimat ini bukan sekadar pemberitahuan kepada orang lain, tetapi juga pengingat bagi diri sendiri.
Menurut penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani, kalimat ini berfungsi sebagai pengendali emosi agar seseorang tidak terjerumus dalam pertengkaran.
Puasa menciptakan ruang jeda antara emosi dan respons.
Puasa dan Kontrol Emosi
Banyak konflik dalam kehidupan terjadi karena manusia bereaksi terlalu cepat terhadap emosi.
Puasa melatih manusia untuk menunda reaksi.
Ketika lapar, seseorang belajar bersabar.
Ketika marah, ia belajar menahan diri.
Inilah pendidikan karakter yang sangat dalam.
Puasa tidak hanya membentuk hubungan dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan manusia.
Epistemologi Akhlak dalam Puasa
Dalam seri kita sebelumnya:
-
Huda memberi arah
-
Bayinat memberi kejelasan
-
Furqan memberi daya pembeda
-
Istijabah memberi respons
-
Rusyd memberi kematangan
Kini puasa mengajarkan implementasi akhlak.
Pengetahuan tentang kebenaran harus tercermin dalam sikap.
Momentum Hari Ke-19
Hari ke-19 adalah fase menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan.
Pada fase ini, kualitas puasa diuji bukan lagi pada kekuatan fisik, tetapi pada kualitas akhlak.
Apakah lisan lebih terjaga? Apakah emosi lebih stabil? Apakah konflik lebih mudah diredam?
Jika ya, puasa mulai membentuk karakter.
Refleksi
Puasa adalah sekolah kesabaran. Ia melatih manusia untuk tidak selalu mengikuti emosi.
Ketika seseorang mampu menahan diri dari amarah hanya karena Allah, ia sedang membangun karakter yang kuat.
Karena puasa sejati bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari menjadi manusia yang kasar. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












