Feature

Sekolah Harus Menjadi Ruang Tumbuhnya Kreativitas Siswa

113
×

Sekolah Harus Menjadi Ruang Tumbuhnya Kreativitas Siswa

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd., memaparkan materi tentang pentingnya peran guru dalam menumbuhkan kreativitas siswa dan memajukan amal usaha Muhammadiyah pada Kajian dan Iftar di Aula Banun Mansur SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik, Jumat (6/3/2026).  (Tagar.co/Eli Syarifah)

Prof. Syamsul Sodiq mengingatkan sekolah tidak boleh menjadi “penjara belajar”. Pendidikan harus memantik rasa ingin tahu, memberi ruang berpikir, dan menumbuhkan kreativitas siswa sejak usia dini.

Tagar.co — Sekolah harus menjadi ruang yang menumbuhkan kreativitas siswa, bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan. Pesan itu disampaikan Prof. Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd., dalam Kajian dan Iftar yang digelar SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, Jawa Timur, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang mampu memantik rasa ingin tahu, memberi ruang berpikir, serta mendorong siswa berani bertanya dan berkreasi.

Baca juga: Istikamah: Kunci Menjaga Ibadah agar Tidak Musiman

Gagasan tersebut ia sampaikan di hadapan para pimpinan dan pendidik Muhammadiyah yang menghadiri kegiatan Kajian dan Iftar Ramadan 1447 di Aula Lantai Dua Gedung Banun Mansur SD Almadany.

Kegiatan itu dihadiri Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Kebomas, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kedanyang, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Kedanyang, Ikatan Wali Murid (Ikwam) SD Almadany, kepala dan guru TK Aisyiyah 34 GKGA Kedanyang, serta seluruh guru dan karyawan SD Almadany.

Kepala SD Almadany Lilik Isnawati, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi antar-Amal Usaha Muhammadiyah di Kedanyang.

“Semoga melalui kajian ini kita mendapatkan ilmu dan semangat baru untuk bersama-sama memajukan amal usaha Muhammadiyah,” ujarnya.

Baca Juga:  Fikih Sentuhan Lawan Jenis Dibahas di Pengajian PCA Kebomas, Wudu Tetap Sah?

Memantik Kesadaran Guru

Memasuki materi kajian, Prof. Syamsul membuka pemaparannya dengan sejumlah pertanyaan reflektif kepada para peserta.

“Apakah Anda yang berada di ruangan ini bahagia?” tanyanya.

Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan lain, seperti apa yang dimaksud siswa inklusif dan progresif serta bagaimana sosok guru mulia—yang tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pendidik dan dai.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pengantar bagi Syamsul untuk menjelaskan bahwa guru Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kesadaran keislaman peserta didik.

Refleksi Praktik Nilai Islam

Dalam paparannya, Syamsul juga menyinggung hasil penelitian Prof. Hossein Askari dari George Washington University yang mengukur praktik nilai-nilai Islam di berbagai negara.

Hasilnya menunjukkan bahwa negara yang paling mencerminkan nilai-nilai Islam justru bukan negara mayoritas Muslim.

“Negara seperti Selandia Baru dan Swedia justru berada di peringkat atas dalam praktik nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan sosial, sedangkan Indonesia berada di peringkat ke-64,” ujarnya.

Temuan itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa nilai Islam harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, bukan sekadar identitas.

Ia juga menyinggung prediksi Pew Research Center yang memperkirakan bahwa pada tahun 2075 Islam akan menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia.

Sekolah Harus Menumbuhkan Kreativitas

Berbicara tentang pendidikan, Syamsul mengingatkan bahwa sekolah tidak boleh kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang tumbuhnya kreativitas siswa.

Baca Juga:  Pasar Mini di Sekolah: ABC Day Latih Jiwa Wirausaha Murid SD Almadany

Ia menyebut setidaknya ada tiga potret negatif sekolah yang perlu dihindari.

  • Pertama, sekolah bukan tempat sekadar mendongengkan sejarah pengetahuan.
  • Kedua, sekolah bukan tembok penjara yang mengekang kebebasan belajar siswa.
  • Ketiga, sekolah bukan panggung kekuasaan orang dewasa terhadap anak-anak.

Sebaliknya, sekolah harus menjadi ruang yang memantik rasa ingin tahu dan kreativitas siswa.

Syamsul kemudian mengutip penelitian Tony Buzan yang menunjukkan bahwa tingkat kreativitas manusia cenderung menurun seiring bertambahnya usia.

Anak usia TK memiliki kreativitas sekitar 95–98 persen. Saat memasuki SD, tingkat kreativitas turun menjadi sekitar 50–70 persen. Di jenjang SMP dan SMA tinggal 30–50 persen, sedangkan pada orang dewasa bahkan kurang dari 20 persen.

Syamsul yakin SD Almadany adalah sekolah yang didesign berbeda dengan sekolah-sekolah lainya mengembangkan kreativitas siswa.

Mengajar yang Menghidupkan

Untuk menggambarkan metode pembelajaran yang hidup, Syamsul menampilkan beberapa gambar di layar, yaitu burung, gajah, dan Ka’bah.

Para peserta diminta menafsirkan makna setiap gambar. Namun ketika gambar-gambar tersebut dirangkai, muncul kisah penyerangan Ka’bah oleh Raja Abrahah yang diabadikan dalam Surah Al-Fil.

Samsudin, guru Pendidikan Agama Islam SD Almadany, kemudian memandu seluruh peserta untuk melafalkan Surah Al-Fil bersama-sama.

Melalui ilustrasi sederhana itu, Syamsul menunjukkan bahwa proses belajar seharusnya tidak hanya berlangsung satu arah melalui ceramah, tetapi harus melibatkan peserta didik secara aktif.

Baca Juga:  Raker Dikdasmen PRM Kedanyang Ditutup, Ini Hasilnya

“Belajar harus membuat siswa berpikir, bertanya, dan menemukan makna,” ujarnya.

Guru sebagai Pengajar, Pendidik, dan Dai

Syamsul menegaskan bahwa guru Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pendidik dan dai yang menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

Ia mengutip pemikiran K.H. Ahmad Dahlan bahwa keislaman tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi harus tampak dalam perilaku.

“Keislaman bukan hanya Allah ada dalam jiwamu tetapi kehidupan Islam menjadi nyata melalui perilakumu,” ujarnya, mengutip K.H. Ahmad Dahlan.

Sinergi Memajukan AUM

Di akhir pemaparan, Syamsul menekankan pentingnya sinergi dalam memajukan amal usaha Muhammadiyah.

Menurutnya, sinergi memerlukan tiga hal utama: kesepahaman terhadap tujuan bersama, komitmen dan saling percaya terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta prinsip saling melayani.

Ia mengutip pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Mudatsir 6: “Wa lā tamnun tastaktsir” — jangan memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.

“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Tetapi jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama,” ujarnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan iftar atau buka puasa bersama, salat Magrib berjemaah, dan makan bersama dalam suasana kebersamaan. (#)

Jurnalis Eli Syarifah | Penyunting Mohammad Nurfatoni