
Musykercab PCNA Brondong menjadi ruang refleksi dan konsolidasi kader, merumuskan langkah strategis, sekaligus meneguhkan komitmen menghadirkan gerakan Nasyiatul Aisyiyah yang progresif, berdampak, dan berkelanjutan bagi umat.
Tagar.co — Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Brondong, Lamongan, Jawa Timur, menggelar Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) bertema “Refleksi dan Aktualisasi Menuju Progresivitas Nasyiah Brondong” pada lima hari jelang Ramadan, Jumat (13/2/26).
Forum ini menjadi momentum refleksi, evaluasi, sekaligus penyusunan langkah strategis untuk mendorong gerakan Nasyiatul Aisyiyah yang berkemajuan dan berdampak luas bagi umat.
Baca juga: Kado Nasyiah: Cara PRNA Jompong Brondong Memaknai Kemerdekaan
Sejak pagi, Gedung Dakwah Muhammadiyah Brondong dipenuhi kader perempuan muda berkerudung kuning gading dan batik khas. Ada pemandangan berbeda dalam penyediaan konsumsi. Panitia tidak menyiapkan snack kotak; sebagai gantinya tersedia jajanan dan air galon di meja depan. Seluruh peserta membawa kotak makan dan tumbler pribadi sebagai upaya meminimalkan sampah plastik.
Peserta Musykercab terdiri atas ketua, sekretaris, dan bendahara dari 20 Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) se-Kecamatan Brondong. Turut hadir Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Brondong Drs. Mat Iskan, Ketua PDNA Lamongan Arika Karim, S.HI., S.Pd., serta tamu undangan dari Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Lamongan.
Acara dimulai pukul 09.00 dengan pembacaan Al-Qur’an, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars Nasyiatul Aisyiyah. Setelah itu, rangkaian sambutan menguatkan arah gerak organisasi.
Ketua Umum PCNA Brondong Musfiroh, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran peserta merupakan wujud syukur atas nikmat kebersamaan dan kesempatan berkhidmat di persyarikatan.
Ia mengakui dua tahun perjalanan kepemimpinan menghadirkan dua rasa sekaligus: syukur atas capaian dan khawatir sebagai bentuk kesadaran terhadap tanggung jawab dan tantangan.
“Musykercab ini menjadi media untuk memperbaiki diri, mengevaluasi kekurangan selama dua tahun terakhir, serta menyusun langkah perbaikan ke depan. Maka nanti akan ada laporan dari masing-masing ranting,” ujarnya.
Ia menegaskan, ranting merupakan ujung tombak keberhasilan organisasi.
Sementara itu, Ketua PDNA Lamongan Arika Karim menyoroti pentingnya kader-kader yang tetap bertahan dan istiqamah. Menurutnya, meskipun sering kali diisi orang-orang yang sama, merekalah fondasi penguat gerakan di tingkat ranting.
“Tanpa penguat tersebut, ranting bisa roboh karena tidak ada yang menjaga dan menggerakkan,” tegasnya.
Arika juga mengingatkan keistimewaan bulan Ramadan. Ia menuturkan bahwa kesiapan batin menjadi kunci agar ibadah terasa nikmat.
“Na mari na wes, klambi anyar wes awe-awe,” ujarnya, menggambarkan bahwa kesiapan lahiriah saja tidak cukup tanpa kebersihan hati.
Sambutan penutup disampaikan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Brondong Drs. Mat Iskan. Ia mengapresiasi terselenggaranya Musykercab sebagai indikator tata kelola organisasi yang baik. Ia berharap forum ini menghasilkan keputusan dan program yang benar-benar membawa kemajuan.
Mat Iskan juga menegaskan bahwa peserta yang hadir adalah orang-orang yang mencintai persyarikatan. Ia mengutip Al-Anfal ayat 24 sebagai pengingat untuk memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya ketika diseru kepada sesuatu yang memberi kehidupan.
Ia menambahkan, aktivis organisasi harus berperan sebagai teknisi dan praktisi—bukan sekadar penggagas konsep, tetapi pelaku nyata di lapangan.
“Misalnya seperti bengkel yang meluruskan yang bengkok, jika patah dilas sehingga sembuh. Sedangkan praktisi yang memberikan solusi terbaik atau mengorganisirnya,” jelasnya.
Setelah sesi sambutan, agenda dilanjutkan dengan sidang pleno dan laporan masing-masing ranting, meliputi data kader, program rutin dan unggulan, serta berbagai kendala di lapangan. Forum kemudian ditutup dengan pembahasan rencana program kerja untuk satu tahun ke depan masa kepemimpinan. (#)
Jurnalis Zulfatus Salima Penyunting Mohammad Nurfatoni












