Feature

Tiga Guru Smamda Sidoarjo Bawa Inovasi Pembelajaran Kreatif ke Olympicad Makassar

68
×

Tiga Guru Smamda Sidoarjo Bawa Inovasi Pembelajaran Kreatif ke Olympicad Makassar

Sebarkan artikel ini
Tiga guru Smamda Sidoarjo peserta lomba Inovasi Pembelajaran di Olympicad 2026. Dari kiri ke kanan: Silwana Mumthaza, Risha Iffatur Rahmah, dan Suwidiyanti. (Tagar.co/Istimewa)

Mengusung board game kepanduan, matematika berbasis budaya, hingga model berpikir kritis berbantuan AI, guru-guru Smamda memburu prestasi di ajang nasional.

Tagar.co – Kontingen SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda) resmi memulai perjuangan mereka di ajang Olympicad 2026 yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (13/2/2026). Sebanyak 72 peserta yang terdiri atas siswa dan guru pendamping mengikuti 26 cabang lomba. Sejak pagi hingga malam, seluruh peserta menjalani babak penyisihan yang menjadi penentu langkah ke tahap berikutnya.

Baca juga: Haedar Nashir: Penguasaan Iptek Harus Dituntun Akhlak

Salah satu perhatian utama datang dari tiga guru Smamda yang tampil di kategori Inovasi Pembelajaran. Mereka adalah Silwana Mumthaza (guru Biologi), Risa Iffatur Rahmah (guru Bahasa Indonesia), dan Suwidiyanti (guru Matematika). Ketiganya mempresentasikan gagasan pembelajaran inovatif di hadapan dewan juri, dengan fokus pada kelayakan, kebermanfaatan, serta relevansi bagi proses belajar siswa di tingkat SMA.

Tiga Karya Inovasi

Silwana Mumthaza menghadirkan inovasi berupa Sage Scout Adventure Game, sebuah board game kepanduan yang mengintegrasikan nilai karakter ke dalam proses pembelajaran. Terinspirasi dari permainan monopoli, media ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus menantang bagi siswa.

Baca Juga:  Antusiasme Tinggi Warnai Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo, Ribuan Warga Sambut Din Syamsuddin

Dalam permainan tersebut, siswa diajak menyelesaikan berbagai tantangan keterampilan kepanduan, mulai dari tali-temali, pertolongan pertama kegawatdaruratan (PPGD), semaphore, penjelajahan, morse, hingga berbagai sandi lainnya. Melalui pendekatan berbasis permainan ini, pembelajaran menjadi lebih interaktif sekaligus menanamkan nilai kepemimpinan, kolaborasi, dan kerja sama antarpeserta didik.

Sementara itu, Suwidiyanti memperkenalkan inovasi Mopercomka (Monopoli Permutasi Kombinasi Karakter Budaya). Media pembelajaran ini menggabungkan konsep matematika—khususnya permutasi dan kombinasi—ke dalam permainan edukatif berbasis budaya dan nilai keislaman. Guru yang akrab disapa Bu Dian tersebut menjelaskan bahwa inovasinya dikembangkan dengan pendekatan deep learning dan diperkuat teknologi digital melalui platform Canva Sites sebagai media interaktif.

Menurutnya, Mopercomka tidak hanya mengejar penguasaan kognitif siswa, tetapi juga mendorong pembentukan karakter secara holistik. Integrasi konsep, konteks budaya, dan nilai-nilai pembelajaran diharapkan selaras dengan penguatan profil lulusan yang komprehensif.

Di bidang Bahasa Indonesia, Risa Iffatur Rahmah menghadirkan model Evinmaai sebagai prototipe pembelajaran berpikir kritis. Model ini memanfaatkan materi hikayat sebagai medium refleksi nilai yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Baca Juga:  Buku Dua Bahasa Diluncurkan di Milad 50 Tahun Smamda Emas

Evinmaai dikembangkan dari perpaduan pendekatan CTL dan ADI, dengan empat fase pembelajaran utama: eksplorasi nilai kehidupan dari cerita hikayat, pembelajaran mandiri berbasis AI, evaluasi melalui literatur dan diskusi kelompok, serta rekonstruksi tulisan sebagai solusi atas persoalan aktual.

Pendekatan tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami teks sastra secara teoritis, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan realitas sosial dan perspektif keislaman.

Partisipasi tiga guru Smamda dalam ajang ini menjadi bukti kuat upaya sekolah dalam mendorong inovasi pedagogis. Lebih dari sekadar kompetisi, keikutsertaan mereka mencerminkan komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan tantangan zaman.

Harapan besar pun disematkan kepada ketiga inovator tersebut. Selain membidik prestasi di Olympicad 2026, karya yang mereka tampilkan menjadi representasi kompetensi profesional guru yang terus berkembang demi kualitas pendidikan yang lebih baik. (#)

Jurnalsi Siti Agustini Penyunting Mohammad Nurfatoni