
Dalam pejalanan menuju akhirat, iman menuntut dua kehati-hatian: memilih siapa yang kita cintai dan membiasakan kebaikan dalam keseharian. Sebab, manusia kerap diwafatkan bersama cinta dan kebiasaan yang ia rawat sepanjang hidupnya.
Oleh M. Anwar Djaelani
Tagar.co – Orang termulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa. Perhatikan terjemah ayat berikut ini: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (Al-Hujurat: 13).
Inti dari takwa adalah sikap berhati-hati. Yang utama, berhati-hati agar hidup kita senantiasa berpedoman pada syariat Allah. Di antaranya, pertama, berhati-hati dalam memilih orang yang kita cintai. Kedua, berhati-hati dalam memilih kebiasaan atau kesenangan.
Yang Kita Cinta
Akhirat adalah hunian yang abadi. Kelak, pada waktunya, semua akan tinggal di sana. Sementara itu, di akhirat hanya ada dua tempat tinggal, yaitu surga dan neraka. Oleh karena itu, persiapkan diri agar dapat tinggal di surga. Berikut ini, antara lain, dua jalan yang dapat kita pilih.
Pertama, selalu ingatlah bahwa kelak di akhirat kita akan bersama dengan orang yang kita cintai. Perhatikan hadis berikut ini:
“Dari Anas bin Malik, ia mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Saw., ‘Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?’ Beliau Saw. menjawab, ‘Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?’ Orang tersebut menjawab, ‘Aku tidak mempersiapkan hari itu dengan banyak salat, puasa, dan sedekah. Akan tetapi, yang aku persiapkan adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Beliau Saw. bersabda, ‘Kalau begitu, engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’” (Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, cintailah para nabi dan rasul. Cintailah para penerus mereka, yaitu para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin. Cintailah para ulama yang hanif. Cintailah seluruh kaum beriman.
Agar cinta itu tumbuh dan semakin kuat, salah satu caranya adalah dengan banyak membaca. Sejarah dan kisah para nabi dan rasul beserta para penerus perjuangan dakwahnya patut kita dahulukan untuk dibaca. Simak terjemah ayat berikut ini: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal” (Yusuf: 111).
Bersama Kebiasaan
Kedua, milikilah kebiasaan atau kesenangan yang baik. Salah satu caranya ialah dengan rajin membaca kisah-kisah para teladan. Dari situ, akan semakin terasa bahwa kita perlu memiliki keseharian yang baik sebagaimana para teladan tersebut. Intinya, kita harus memiliki kebiasaan yang diridai Allah.
Mari kita cermati hari-hari akhir kehidupan Hamka. Ulama besar itu wafat pada Jumat, 22 Ramadan 1981. Beberapa hari sebelumnya, Hamka menulis artikel berjudul 17 Ramadan di majalah Panji Masyarakat. Isinya mendorong umat agar gemar membaca dan rajin menulis (Hamka, Iman dan Amal Saleh, 1982: 139–144).
Selanjutnya, simak pula tiga kisah menggugah berikut ini.
Pertama, pada 2020, Ustaz Insan Mokoginta wafat ketika melaksanakan salat sunah bakdiah Magrib di salah satu masjid di Tangerang, Banten. Pada hari Jumat itu, pakar kristologi tersebut sedang dalam rangkaian kegiatan dakwah.
Kedua, pada 2021, seorang jemaah pengajian bernama Hamdan Abdat mendadak wafat seusai bertanya kepada penceramah, “Apakah kelak bisa bertemu Rasulullah Saw.?” Peristiwa itu terjadi di Masjid An-Nur, Cilendek, Bogor.
Ketiga, pada 2022, Ustazah Taslimah meninggal dunia saat memimpin salah satu mata acara pengajian di Masjid Al-Barkah As-Syafi’iyah, Tebet, Jakarta Selatan. Beliau wafat setelah membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan terhenti pada Al-Baqarah: 163, yang terjemahnya, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa.”
Menulis sebelum Wafat
Tiga kisah terakhir tersebut mudah kita baca atau tonton di internet. Kini, mari kita kembali fokus pada kisah Hamka. Hingga mendekati hari wafatnya, Hamka masih aktif mengarang dan menulis. Aktivitas ini telah menjadi kebiasaannya selama puluhan tahun.
Hingga menjelang wafat, Hamka masih mampu menghasilkan tulisan. Menulis, bagi Hamka, telah menjadi bagian dari keseharian. Sementara itu, hasil tulisannya sangat bermanfaat bagi dakwah.
Dengan demikian, kita perlu memiliki kebiasaan yang baik. Kita harus menjalani keseharian yang diridai Allah. Semoga dengan cara itu, kelak Allah mewafatkan kita dalam keadaan yang diridai-Nya.
Dalam hal ini, kita teringat ungkapan masyhur: “Seseorang akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaannya.” Ungkapan ini dijumpai dalam Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan Ali ‘Imran [3]: 102, yang terjemahnya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.”
Saat menjelaskan ayat tersebut, Ibnu Katsir menulis: “Barang siapa hidup dalam suatu kebiasaan, maka ia akan mati di atas kebiasaan itu. Barang siapa mati di atas suatu kebiasaan, maka kelak ia akan dibangkitkan di atas kebiasaan tersebut. Kami berlindung kepada Allah dari keadaan sebaliknya.”
Untuk menguatkan pemahaman, berikut ini kutipan penjelasan Ustaz Adi Hidayat dalam salah satu ceramahnya. Menurut beliau, setiap orang akan wafat sesuai dengan kebiasaannya.
Pada 2018, Ustaz Adi Hidayat baru tiba di sebuah masjid untuk mengisi ceramah dan menunaikan salat Subuh. Di pintu masjid, ia mendapat kabar bahwa seorang laki-laki berusia 65 tahun—yang dikenal istikamah menunaikan salat lima waktu di masjid tersebut—mengalami serangan jantung.
Orang tersebut tergeletak di masjid dan telah diupayakan pertolongan pertama. Namun Allah lebih menyayanginya; ia wafat. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa wafat seperti itu tidak mudah didapatkan: wafat di masjid, dalam keadaan terbaik, yakni saat hendak menunaikan salat Subuh, salat yang disaksikan oleh Allah dan para malaikat.
Dari Pembiasaan
Kepada seluruh kaum beriman yang berharap kelak tinggal di surga, pertama, berhati-hatilah—terutama dalam memilih orang-orang yang kita cintai. Cintailah mereka yang kelak memungkinkan kita tetap bersama di akhirat, yakni di surga.
Kedua, berhati-hatilah dalam memilih kebiasaan atau kesenangan. Pastikan kita memiliki kebiasaan yang baik, sehingga pada hari-hari akhir kehidupan pun kebiasaan itulah yang kita jalani. Dalam konteks ini, resapkanlah nasihat Ustaz Adi Hidayat: “Biasakan yang baik-baik, karena dengan itu kita akan diwafatkan.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












