
Tagar.co – FGD (Forum Group Discussion) bersama calon wali murid tahun ajaran 2026/2027 berlangsung di SD Muhammadiyah Gresik Kampus B, Sabtu (7/2/2026).
Acara ini bersamaan dengan observasi calon murid baru berupa tes tulis, daya ingat dan konsentrasi, motorik halus, motorik kasar, tes mengaji, serta pengukuran seragam di SD Mugres.
FGD menghadirkan Dewi Musdalifah sebagai pembicara. Dia menyampaikan di zaman modern ini melahirkan generasi stroberi.
”Generasi ini tampak cantik di luar namun dalamnya sangat lembek, seperti buah stroberi. Saya khawatir hal tersebut ada pada diri anak-anak saya,” tutur Dewi.
Dia menyebutkan, umumnya generasi stroberi dari kalangan generasi Z. Yaitu generasi muda kelahiran tahun 1995-2012.
Ciri generasi ini, sambung dia, memiliki kreativitas tinggi tetapi mentalnya sangat rapuh.
”Salah satu penyebabnya adalah pola asuh yang otoriter dan over protective ditambah pula dengan pengaruh media sosial sehingga menciptakan pribadi yang memiliki resilience rendah,” katanya.
Dia menyampaikan, pentingnya menjalin komunikasi dengan anak sejak dini, mampu membentuk pribadi anak yang lebih tangguh.
”Diusahakan anak mau mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkan tanpa merasa adanya benteng antara dirinya dengan orang tua,” ujarnya.

Menurut dia, membentuk kedekatan antara orang tua dan anak agar tidak ada benteng dengan memberikan pengasuhan efektif. Selalu memberikan afirmasi positif, percaya proses anak, menjaga rasa percaya diri.
Hal tersebut, kata dia, dapat dilakukan dengan mengajaknya belajar sambil bermain dan melatih kemandirian anak dengan rutin dan konsisten
Dijelaskan, dalam gaya belajar, anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Anak laki-laki cenderung menggunakan otak kanan dan lebih menyukai sesuatu yang bersifat visual, imajinatif, eksploratif, dan gerak fisik.
Anak perempuan cenderung menggunakan otak kanan dan kiri seimbang yang lebih menyukai sesuatu yang analitik berupa angka dan huruf.
Dewi juga menjelaskan, anak usia 6-7 tahun adalah manusia yang sedang membangun rasa aman, dan makna diri.
”Apa yang diterima anak secara berulang di hari ini itu akan menjadi pola dalam otak anak dan akan membentuk bagaimana anak melihat dunia,” tutur Dewi.
Karena itu orang tua diminta memperhatikan perkembangan anak usia SD yang memasuki masa transisi penting menuju kemandirian.
Hal tersebut ditandai dengan munculnya pemikiran yang logis, perkembangan emosi kompleks, dan fokusnya pada persahabatan.
Pada usia tersebut, lanjut dia, mereka mulai memahami aturan, mengekspresikan emosi dan peka terhadap kritik.
Secara kognitif anak usia 6-7 tahun (kisaran umum usia anak sekolah dasar), sudah mampu berpikir secara abstrak dan memiliki kemampuan baca, tulis, dan hitung (calistung). (#)
Jurnalis Nadia Fajrianti Penyunting Sugeng Purwanto












