
Melalui seminar internasional, Program Studi Teknik Industri UMG membahas integrasi manajemen mutu dan keberlanjutan sebagai strategi menjaga daya saing industri sarung tenun tradisional di tengah modernisasi.
Tagar.co — Upaya menjaga keberlanjutan industri tradisional di tengah arus modernisasi terus menjadi perhatian dunia akademik. Itulah yang tercermin dalam seminar bertajuk “Integrating Quality Management and Sustainability in the Woven Sarong Industry: An Intelligent Engineering Perspective” yang digelar Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Gresik, Jumat (6/1/2026), di Hall UMG.
Baca juga: UMG Dorong Kemandirian Desa di Dawarblandong
Kegiatan akademik berskala internasional ini diinisiasi Program Studi Teknik Industri dan menghadirkan dosen Teknik Industri UMG, Akhmad Wasiur Rizqi, S.T., M.T., sebagai pemateri utama. Seminar ini juga melibatkan kolaborasi internasional bersama INTI International University, Malaysia, melalui kehadiran Prof. Dr. Deshinta Arrova Dewi sebagai mitra diskusi tematik.
Seminar diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta pimpinan Fakultas Teknik UMG. Forum ini menjadi ruang dialog akademik yang membahas bagaimana industri sarung tenun—sebagai salah satu warisan budaya Nusantara—dapat terus bertahan dan berkembang dengan pendekatan rekayasa modern yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Teknik UMG oleh Dr. Misbah, S.T., M.T. menegaskan pentingnya kegiatan semacam ini untuk membuka cakrawala berpikir sivitas akademika. Menurutnya, inovasi teknik tidak cukup hanya mengejar efisiensi dan produktivitas, tetapi juga harus selaras dengan tanggung jawab sosial serta kepedulian terhadap lingkungan.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa teknologi cerdas harus hadir sebagai solusi yang memanusiakan industri, bukan justru menjauhkan nilai-nilai keberlanjutan,” ujarnya.
Pada sesi pemaparan, Akhmad Wasiur Rizqi menekankan urgensi sinergi antara sistem manajemen mutu dan prinsip keberlanjutan, khususnya dalam industri tradisional seperti sarung tenun. Ia menjelaskan bahwa penerapan Quality Management System (QMS) yang dikombinasikan dengan pendekatan sustainable engineering mampu meningkatkan daya saing produk sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan pengrajin.
Menurutnya, teknologi cerdas atau intelligent engineering memiliki peran strategis dalam proses modernisasi industri sarung. Pemanfaatan analisis data, otomasi ringan, serta sistem pemantauan mutu dapat membantu pelaku industri meningkatkan efisiensi tanpa harus meninggalkan karakter tradisionalnya.
“Kuncinya adalah menggunakan teknologi secara cermat dan kontekstual. Dengan begitu, industri tradisional tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” tegasnya.
Melalui seminar internasional ini, UMG menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasi antara dunia akademik dan sektor industri. Upaya tersebut diharapkan dapat berkontribusi nyata dalam pengembangan industri tenun nasional yang berdaya saing, berkelanjutan, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya Indonesia.
Kalau mau, saya bisa langsung bantu memadatkan versi rilis media, menyusun judul-teaser alternatif, atau menguatkan angle keberlanjutan dan warisan budaya biar makin “kena” di media nasional. (#)
Jurnalis Hidayat Penyunting Mohammad Nurfatoni












