FeatureUtama

Haedar Nashir: Kader Muhammadiyah Tak Perlu Takut Berkompetisi

88
×

Haedar Nashir: Kader Muhammadiyah Tak Perlu Takut Berkompetisi

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (keempat dari kanan) bersama Menko PMK Zulkifli Hasan dan tokoh lain Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah di Aula Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (29/1/2026). (Tagar.co/Istimewa)

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa kompetisi merupakan bagian dari dinamika organisasi yang berjalan dalam prinsip kolektif-kolegial.

Tagar.co — Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa kader Muhammadiyah tidak perlu takut berkompetisi dalam organisasi.

Penegasan itu disampaikan saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah di Aula Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Apakah Bunga Bank Otomatis Haram

“Tidak perlu takut berkompetisi di Muhammadiyah, karena ketua umumnya tidak terlibat,” ujar Haedar, yang disambut tepuk tangan peserta Rakornas.

Menurut Haedar, Muhammadiyah berdiri di atas prinsip kolektif-kolegial, bukan pada figur sentral atau dominasi kepentingan tertentu. Dalam kerangka itu, kompetisi yang sehat justru menjadi bagian dari dinamika organisasi sekaligus proses pembaruan dakwah.

Rakornas II LDK PP Muhammadiyah yang digelar untuk kali kedua ini menjadi ajang konsolidasi dakwah komunitas secara nasional. Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang hadir, menandai tetap relevannya dakwah Muhammadiyah di tengah perubahan sosial yang cepat.

Baca Juga:  Ekoteologi Muhammadiyah: Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Dua Kutub Ekstrem

Spirit Al-Maun

Dalam pidatonya, Haedar mengajak peserta menengok kembali akar ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid sejak berdiri pada 1912. Apa yang dijalankan hari ini, kata dia, merupakan kelanjutan dari fondasi yang telah diletakkan para pendiri.

“Fondasi gerakan Muhammadiyah hari ini sudah diletakkan oleh para pendiri. Kita hanya melanjutkan, mengembangkan, dan menyesuaikannya dengan tantangan zaman,” ujarnya.

Salah satu fondasi penting tersebut adalah spirit Al-Maun yang digagas Kiai Ahmad Dahlan. Haedar menegaskan, Al-Ma’un bukan sekadar bacaan teologis, melainkan praksis sosial yang hidup dan inklusif.

“Al-Maun itu bukan milik satu golongan. Orang miskin membutuhkannya, orang kaya pun membutuhkannya. Bahkan mereka yang berada di lapisan atas juga ingin masuk surga,” katanya.

Dari spirit Al-Maun itulah lahir wajah Muhammadiyah yang membumi dan berkemajuan. Berbagai amal usaha—rumah sakit, sekolah, panti asuhan, hingga layanan sosial—menjadi bukti hadirnya dakwah Muhammadiyah dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Haedar juga mengingatkan bahwa tantangan dakwah ke depan semakin kompleks seiring masyarakat yang kian terfragmentasi. Karena itu, pendekatan dakwah tidak bisa lagi bersifat umum. LDK didorong masuk ke segmentasi mikro dengan pendekatan yang fokus dan kontekstual.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

“Dakwah ke depan harus lebih fokus, lebih khusus, dan lebih memahami realitas sosial komunitas yang dihadapi,” ujarnya. Ia menambahkan, dakwah kepada kalangan atas juga penting karena mereka memiliki kegelisahan spiritual yang sama.

Rakornas ini diikuti perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) se-Indonesia, LDK PWM se-Indonesia, serta LDK Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa–Bali. Forum ini diharapkan melahirkan strategi dakwah komunitas yang lebih tajam, inklusif, dan berdampak luas.

Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni