Feature

Siswa Mugeb Sulap Galon Bekas Jadi Pot Kangkung Organik

71
×

Siswa Mugeb Sulap Galon Bekas Jadi Pot Kangkung Organik

Sebarkan artikel ini
Siswa kelas III Mugeb belajar gaya hidup berkelanjutan dengan menyulap galon bekas menjadi pot kangkung organik bersama DLH Gresik melalui praktik menanam, 3R, dan kepedulian lingkungan.
Siswa kelas III mengolah galon bekas. (Tagar.co/Ilmi Zahrotin Faidzullah Al Hamidy)

Siswa kelas III Mugeb belajar gaya hidup berkelanjutan dengan menyulap galon bekas menjadi pot kangkung organik bersama DLH Gresik melalui praktik menanam, 3R, dan kepedulian lingkungan.

Tagar.co — Sinar matahari pagi menyengat kulit, namun antusiasme terpancar jelas dari wajah-wajah mungil siswa kelas III SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School). Kamis, 22 Januari 2026, halaman sekolah berubah menjadi “laboratorium alam” yang riuh.

Anak-anak itu tidak sedang berkejaran, melainkan sibuk mengerumuni wadah-wadah plastik berwarna-warni. Mereka sedang menjalankan misi penting: menabung oksigen untuk masa depan melalui kegiatan Guest Teacher.

Pihak sekolah sengaja menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik untuk menanamkan kesadaran ekologis sejak dini. Maya Iswatie, Kepala Bidang Pertanaman dan Dekorasi DLH Kabupaten Gresik, hadir langsung menjadi mentor bagi para “pahlawan cilik” lingkungan ini. Dengan bahasa yang ringan namun sarat makna, Maya membuka wawasan siswa bahwa penghijauan bukan sekadar menancapkan bibit ke tanah.

“Menanam pohon sama dengan menabung untuk masa depan. Mengingat sumber daya alam bumi yang terbatas, kita harus bijak dalam mengelola energi dan menjaga kesehatan lingkungan,” tegas Maya di hadapan para siswa yang menyimak dengan saksama. Baginya, setiap helai daun yang tumbuh adalah investasi nyawa bagi bumi yang kian menua.

Baca Juga:  Bidik Rp25 Miliar, Lazismu Gresik Dorong Inovasi Sosial dan Luncurkan Mobil Zakat Keliling

Tiga Pilar Gaya Hidup Berkelanjutan

Maya tidak hanya bicara soal cangkul dan tanah. Ia membawa konsep besar mengenai gaya hidup berkelanjutan ke ruang kelas. Menurutnya, menjaga bumi harus berpijak pada tiga pilar utama.

Pertama, lingkungan yang bersih dan segar. Kedua, aspek sosial yang memungkinkan manusia hidup berdampingan dengan harmonis. Ketiga, aspek ekonomi yang berkaitan erat dengan pola konsumsi.

“Sering bertambahnya barang yang kita beli, maka akan menimbulkan sampah. Itu memengaruhi gaya hidup dan ekonomi kita,” jelas Maya.

Ia memotivasi para siswa untuk mulai menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) dalam keseharian. Pesan ini bukan sekadar teori, melainkan bekal agar anak-anak tidak menjadi penyumbang sampah bagi Kabupaten Gresik di masa mendatang.

Aksi Nyata Tanam Kangkung Organik

Usai menyerap teori, saatnya para siswa mengotori tangan. Uniknya, mereka tidak menggunakan pot mahal dari toko. Seminggu sebelumnya, para siswa telah menyiapkan galon bekas yang mereka sulap menjadi pot cantik melalui sentuhan cat warna-warni. Inilah bukti nyata penerapan daur ulang yang mereka pelajari dari DLH.

Baca Juga:  Dua Siswa Spemdalas Lolos Final Matematika dan IPA Olympicad Ke-VIII Makassar

Prosesi menanam mereka mulai dengan penuh semangat. Jemari mungil mereka mulai mengisi tanah ke dalam galon, melubangi media tanam, hingga menyemaikan benih-benih kecil ke dalamnya. Kangkung menjadi pilihan utama karena karakter tumbuhnya yang kilat. Hanya butuh waktu 25 hingga 30 hari dengan penyiraman rutin, para siswa harapannya sudah bisa menikmati hasil jerih payah mereka.

Melalui kegiatan ini, kata Maya, DLH Kabupaten Gresik menaruh harapan besar agar benih kesadaran lingkungan yang mereka tanam di hati para siswa dapat tumbuh subur. Sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar membaca dan berhitung, melainkan ruang persemaian bagi generasi yang peduli dan beraksi nyata untuk kelestarian bumi secara berkesinambungan. (*)

Jurnalis Ilmi Zahrotin Faidzullah Al Hamidy Penyunting Sayyidah Nuriyah