Opini

Keadilan Transportasi yang Berhenti sebelum Sukabumi

61
×

Keadilan Transportasi yang Berhenti sebelum Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi KRL Commuter Line.(Wikimedia Commons/Davee Jonesey via kompas.com)

KRL melaju nyaman hingga Rangkasbitung, tetapi perjalanan menuju Sukabumi justru memanjang dan mahal. Di sanalah keadilan transportasi terasa tertinggal di peron.

Catatan oleh Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Kadang keadilan terasa seperti tiket kereta: tercetak rapi, sah secara hukum, tetapi ketika dipakai, rasanya miring ke satu sisi. Secara teori semua warga setara, tetapi begitu duduk di bangku peron, keadilan itu mendadak berubah menjadi soal jarak dan dompet.

Bayangkan saja. Kereta Rel Listrik (KRL) jurusan Jakarta–Rangkasbitung, sekitar delapan puluh kilometer, tarifnya ramah, jinak, bersahabat seperti saudara sepupu yang datang membawa oleh-oleh. Bahkan Stasiun Rangkasbitung kini tampak megah.

Baca juga: OTT Berulang: Pilkada Diganti, Korupsi Berhenti?

Namun, ketika tujuan bergeser ke Sukabumi—yang jaraknya bahkan tidak jauh-jauh amat—ceritanya berubah total. Penumpang harus membayar tiket KRL, lalu masih harus menambah tiket kereta lokal Rp55 ribu, atau Rp85 ribu jika ingin duduk agak berkelas.

Itu pun belum cukup. Masih ada ritual jalan kaki dari Stasiun Bogor Kota ke Stasiun Paledang, melewati jembatan layang panjang yang rasanya seperti prosesi haji mini: niatnya mulia, keringatnya tumpah, dan yang terucap biasanya sederhana—“Kapan ini nyambung?”

Di titik itulah keadilan transportasi berubah menjadi humor pahit. Lucu jika diceritakan di warung kopi, tetapi getir ketika dijalani oleh buruh, mahasiswa, dan warga biasa yang hanya ingin pulang dengan ongkos wajar. Sesak di dada.

Baca Juga:  Sinners: Horor Sejarah yang Bangkit di Layar Lebar

Padahal Sukabumi bukan daerah asing di peta peradaban. Ia dingin, hijau, dan tenang. Alamnya seperti obat penenang bagi warga Jakarta yang hidupnya terlalu sering diganggu klakson dan lampu merah. Pantainya panjang, gunungnya ramah, kulinernya maknyus.

Sukabumi adalah alternatif logis bagi kawasan wisata Puncak yang kini lebih mirip monumen kemacetan nasional. Sayangnya, menuju Sukabumi—yang dulu menjadi tempat peristirahatan bule-bule Belanda—masih terasa seperti ujian kesabaran tingkat akhir.

Bukan karena rel keretanya tidak ada, melainkan karena kebijakan seolah belum sepakat apakah Sukabumi itu bagian dari denyut Jabodetabek atau kota jauh yang cukup disapa lewat wacana. Padahal, ia dekat, jaraknya tidak jauh berbeda dengan Rangkasbitung.

Ironisnya, jalurnya nyata. Keretanya melintas. Orangnya banyak. Tetapi sistemnya seperti ragu pada dirinya sendiri. Rel Bogor–Sukabumi seakan hanya dianggap jalur lewat, bukan jalur hidup. Seolah-olah kereta boleh melintas, tetapi rakyat jangan berharap terlalu jauh.

Maka pertanyaan lama pun kembali muncul: mengapa KRL bisa berhenti nyaman di Rangkasbitung, tetapi untuk sampai ke Sukabumi terasa seperti mimpi yang dianggap terlalu ambisius? KRL seolah hanya boleh berhenti nyaman sampai Bogor Kota.

Baca Juga:  Keberanian di Podium, Ujian di Konstitusi

Di tengah keganjilan itulah suara Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, terdengar lebih jernih dari biasanya. Ia tidak sedang berpidato politik, melainkan berbicara sebagai kepala daerah yang membaca denyut warganya.

Ia mendorong perpanjangan layanan KRL, percepatan jalur ganda, dan konektivitas yang lebih manusiawi. Pada 19 Januari 2026, ia menemui Direktur Jenderal Perhubungan Darat di Jakarta, mengusulkan percepatan pembangunan double track dari Cicurug hingga Kota Sukabumi.

Bukan sekadar mimpi. Ia menyampaikan proposal konkret. Dan rupanya, angin sejarah sedang berembus pelan ke arah yang sama.

Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, dalam rapat Komisi XI DPR RI, membeberkan rencana besar elektrifikasi jalur kereta api nasional.

PT KAI dijadwalkan menerima suntikan Penyertaan Modal Negara sebesar Rp1,8 triliun. Dari dana itu, jalur KRL direncanakan diperpanjang hingga Cikampek, Rangkasbitung—dan ya, Sukabumi.

Angkanya besar. Bahasanya teknokratis. Namun, maknanya sederhana: negara sebenarnya mampu, jika mau.

Bahkan Dony dengan gamblang menyebut bahwa elektrifikasi kereta bukan hanya soal transportasi, melainkan strategi membangun pusat-pusat pertumbuhan kota baru di sepanjang rel.

Kereta bukan lagi sekadar alat pindah badan, melainkan pemicu hidupnya ekonomi, UMKM, pariwisata, dan peradaban lokal.

Maka terasa janggal jika Sukabumi—yang sudah menyiapkan pos penjagaan perlintasan dari APBD, menata keselamatan manual di titik-titik rawan, bahkan bersiap menyambut kereta wisata Jaka Lalana—justru dibiarkan menunggu terlalu lama.

Baca Juga:  Rahasia Panjang Umur Ada pada Telomer

Pemerintah kota sudah berdiri di peron, membawa koper kesiapan. Yang belum naik ke kereta hanyalah kecepatan kebijakan di tingkat pusat dan provinsi.

Sebab rel tanpa keberpihakan hanyalah besi panjang. Ia baru menjadi peradaban ketika tarifnya adil dan layanannya ramah pada rakyat kecil.

KRL yang masuk Sukabumi bukan sekadar soal murahnya tiket, melainkan soal pesan moral negara kepada warganya: bahwa keindahan daerah tidak boleh dikunci oleh mahalnya akses, dan jarak tidak harus selalu identik dengan penderitaan dompet.

Kelak, mungkin kita akan menertawakan masa ketika orang Jakarta harus berjalan jauh hanya untuk berpindah stasiun demi menuju Sukabumi. Seperti hari ini kita menertawakan karcis karton dan loket kayu.

Namun, tawa itu baru akan lahir jika hari ini ada keberanian untuk menarik tuas perubahan.

Karena pada akhirnya, keadilan transportasi bukan soal kereta ke mana, melainkan sejauh apa negara mau ikut menemani perjalanan warganya. Dari selembar tiket, kita belajar satu hal penting: kadang yang paling mahal bukan jaraknya, melainkan keberpihakan. (#)

Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 21 Januari 2026

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…