Opini

111 Santri Al-Ittifaqiah Belajar ke Al-Azhar

42
×

111 Santri Al-Ittifaqiah Belajar ke Al-Azhar

Sebarkan artikel ini
Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah kembali memecahkan rekornya sendiri dengan mengirim 111 santri ke Universitas Al-Azhar, Mesir, menandai babak baru transformasi pendidikan Islam Indonesia.

Catatan oleh Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Luar biasa. Seratus sebelas — bukan sembarang angka, tetapi sebuah parade akademik yang bisa membuat kalender hijriah pun tersipu malu. Begitulah Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah di Indralaya, Ogan Ilir, Sumatra Selatan menutup tahun ini dengan gegap gempita: melepaskan 111 santrinya menuju Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Untuk kita yang terbiasa melihat kuota kampus negeri saja penuh drama dan air mata, angka 111 itu semacam “jinombo pendidikan”. Angka itu dua kali lipat dari pengiriman mahasiswa ke sana tahun lalu, seolah-olah Ittifaqiah sedang berkata, “Kami bukan main-main. Ini bukan rombongan wisata religi. Ini ekspor intelektual.”

Baca juga: Di Tengah Ketatnya Visa Mesir, 87 Santri eLKISI Mojokerto Berangkat ke Al-Azhar

Momen pelepasan mahasantri yang sudah diterima kuliah di Al-Azhar itu bukan sekadar seremoni penuh jubah hitam dan sorban putih. Itu bukti bahwa pendidikan pesantren era modern tidak lagi berkutat pada stereotip sandal jepit dan kitab kuning saja. Ada kurikulum, standar mutu, dan disiplin akademik yang dipersiapkan dengan serius.

Baca Juga:  Astagfirullah Guru Agama

Ittifaqiah memberi peluang kuliah di sana bukan dengan janji manis, tetapi lewat global education dan quality assurance. Untuk ini, pesantren dengan delapan ribu santri itu menyediakan program spesialis “Kelas Excellent Al-Azhar” selama tiga tahun yang tiketnya langsung bebas tes, seperti kelas VIP bandara.

Ia menyediakan pula Program Haromain yang menerima lulusan SMA sampai SMK, cukup dengan pembinaan intensif beberapa waktu sebelum tes resmi dari pihak Mesir. Pembinaan mereka mencakup bimbingan terstruktur, penyiapan bahasa, akademik, spiritual, sampai life skill — lengkap seperti paket haji plus.

Mengapa Al-Azhar

Namun pertanyaan yang lebih menggelitik sesungguhnya begini: mengapa Al-Azhar? Apakah hanya karena ia terdengar prestisius di telinga orang tua? Atau karena Negeri Piramida itu dianggap kiblat ilmu agama?

Indonesia punya ratusan kampus Islam, puluhan pesantren raksasa, dan ribuan program beasiswa. Tetapi Al-Azhar bukan sekadar kampus, ia institusi yang berusia lebih lama daripada republik-republik modern.

Ia pernah menjadi pusat intelektual Islam dunia — tempat lahirnya tokoh-tokoh seperti Hassan al-Banna, Yusuf al-Qaradhawi, Thaha Husein, dan Muhammad Abduh. Para ulama kita pun banyak yang pulang dari sana membawa ilmu dan status legitimasinya.

Baca Juga:  Bebek Amerika dan Ujian Politik Bebas Aktif

Tidak heran jika Kementerian Agama pun rutin mengirimkan putra bangsa belajar di Azhar. Tahun ini, 1.223 peserta dinyatakan lulus seleksi nasional. Utusan Ittifaqiah berada di luar rombongan ini. Bayangkan, jika satu kelas berisi 40 anak, maka kita butuh sekitar 30 ruang kelas untuk menampung semuanya.

Pemerintah melihat ini bukan sekadar pencapaian, melainkan investasi kepemimpinan keagamaan masa depan. Menurut Dirjen Pendis, ini strategi membentuk figur ulama intelektual yang mampu menjembatani tradisi klasik dan dunia modern — karena dunia agama sekarang bukan lagi hanya ceramah, tetapi juga diplomasi, sains, literasi digital, dan geopolitik.

Ittifaqiah paham betul arah angin sejarah itu. Mereka mengirim santri bukan untuk meramaikan foto grup di depan Masjid Al-Azhar, tetapi untuk masuk arena kompetisi global. Tradisi ini sudah berjalan lama. Ratusan alumninya kini menimba ilmu di Kairo.

Mereka berangkat tidak hanya dari Sumatra Selatan, tetapi dari Jawa Timur, Kalimantan, Jambi, Lampung, hingga Bangka Belitung. Dari kampung kecil Indralaya, sebuah pesantren berbicara sejajar dengan problem dan masa depan dunia Islam.

Namun mari kita bertanya lebih jauh. Apakah Al-Azhar masih menjadi kiblat pendidikan agama? Sebagian akan berkata: iya, karena legitimasi keilmuan klasik itu tetap kuat. Yang lain berkata: dunia Islam sudah beragam, pusat-pusat keilmuan baru bermunculan di Turki, Saudi, Qatar, dan lainnya.

Baca Juga:  Buku Tipis Panduan Melawan Tirani

Maka mungkin jawabannya bukan soal kiblat, tetapi perpaduan: belajar di Al-Azhar bukan sekadar memompa identitas keilmuan, tetapi membangun jaringan, perspektif, dan kemampuan membaca realitas dunia Islam kontemporer.

Transformasi Pendidikan Pesantren

Di balik angka 111 itu, sesungguhnya kita sedang melihat transformasi pendidikan pesantren Indonesia. Dari lembaga yang dulu cuma dianggap “alternatif”, kini menjadi institusi yang mampu mengirim barisan intelektual ke panggung internasional. Dari ruang-ruang mengaji hingga aula keberangkatan internasional.

Dari kampung kecil menuju universitas tertua di dunia Islam, perjalanan ini terasa seperti metafora kehidupan kita sendiri: ilmu bukan sekadar tujuan, tetapi perjalanan panjang yang penuh tantangan, doa, dan harapan.

Angka-angka yang tampak kering berubah menjadi jejak pencapaian. Dan seratus sebelas anak muda itu menjadi bukti bahwa masa depan pendidikan Islam Indonesia bukan hanya mimpi, tetapi sedang tumbuh — diam-diam namun pasti, dari Indralaya sampai Kairo, dari pesantren hingga dunia. Semoga. (#)

Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 12/12/2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni