Feature

Pendidikan, Kesehatan, SDM: Tiga Wajah Pembangunan Jatim 2025 dalam Sorotan ICMI

57
×

Pendidikan, Kesehatan, SDM: Tiga Wajah Pembangunan Jatim 2025 dalam Sorotan ICMI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

ICMI Jawa Timur menyoroti kinerja Pemprov Jatim 2025 di tiga sektor krusial—pendidikan, kesehatan, dan kualitas SDM—yang menentukan apakah pertumbuhan ekonomi mampu berubah menjadi produktivitas jangka panjang.

Kajian akhir tahun ICMI Jawa Timur tentang kinerja Pemprov Jatim 2025 seri ketiga mengulas pendidikan, kesehatan, dan kualitas SDM

Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Memasuki seri ketiga kajian tahunan 2025, ICMI Jawa Timur menggeser sorotan dari mesin ekonomi ke mesin manusia, yakni pendidikan, kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia.

Di sektor inilah pembangunan beralih dari sekadar angka menuju masa depan—menentukan apakah pertumbuhan hari ini dapat terkonversi menjadi produktivitas besok.

Baca juga: Kajian ICMI atas Kinerja Pemprov Jatim 2025 di Bidang Industri, Perdagangan, dan Ekspor

Jawa Timur memiliki keunggulan skala: jumlah penduduk besar, jaringan satuan pendidikan luas, dan fasilitas kesehatan yang tersebar. Namun, tantangan klasiknya tetap sama, yaitu mutu layanan yang belum selalu seiring dengan besarnya sistem.

Pendidikan: Cakupan Kuat, Kualitas Masih Beragam

Secara kuantitatif, Jawa Timur tampil kokoh. Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan dasar dan menengah tinggi dan relatif sejajar dengan nasional. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat mendekati 8,8–8,9 tahun, sementara Harapan Lama Sekolah (HLS) berada di kisaran 13 tahun—indikator akses pendidikan yang membaik (BPS; Kemendikbudristek).

Baca Juga:  Ramadan dan Jalan Mengenal Allah: Tafakur dari Surat Al-Hadid

Namun, indikator kualitas memberi catatan penting. Hasil Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) serta capaian literasi dan numerasi masih menunjukkan ketimpangan antarkabupaten/kota, terutama antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Sekolah di daerah agraris dan kepulauan cenderung tertinggal dalam kompetensi dasar, meskipun partisipasi sekolah sudah tinggi. Artinya, agenda pemerataan akses harus dilanjutkan dengan pemerataan kualitas.

Kesehatan: Perluasan Akses, Tantangan Efektivitas

Di sektor kesehatan, Usia Harapan Hidup (UHH) Jawa Timur berada di kisaran 74 tahun, relatif setara dengan rerata nasional (BPS). Cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tinggi, menandakan akses finansial layanan kesehatan semakin inklusif (BPJS Kesehatan).

Sejumlah indikator kesehatan dasar menunjukkan perbaikan bertahap, termasuk penurunan angka stunting, meski laju penurunannya belum selalu merata. Tantangan terbesar tidak lagi terbatas pada ketersediaan layanan, tetapi juga pada kualitas layanan primer, distribusi tenaga kesehatan, serta kesinambungan upaya promotif–preventif. Kenaikan beban penyakit tidak menular menuntut penyesuaian sistem pelayanan di puskesmas hingga rumah sakit rujukan (Kemenkes).

Kualitas SDM: IPM Naik, Produktivitas Menunggu Lompatan

Kombinasi pendidikan dan kesehatan terefleksi dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada 2025, IPM Jawa Timur berada pada kisaran 74–75, sedikit di bawah rerata nasional tetapi menunjukkan tren peningkatan konsisten (BPS; UNDP Indonesia). Ini menandakan fondasi SDM membaik, meski masih menyisakan jarak dengan provinsi yang mencatat lompatan pendidikan dan inovasi lebih cepat.

Baca Juga:  Kampus Bukan Pabrik Tenaga Kerja

Isu krusial terletak pada link and match pendidikan dan pasar kerja. Lulusan pendidikan menengah dan vokasi belum sepenuhnya terserap pada pekerjaan berproduktivitas tinggi, selaras dengan temuan sektor industri pada seri 2. Tanpa penyelarasan kurikulum, pelatihan vokasi adaptif, dan sertifikasi kompetensi yang relevan, perbaikan IPM berisiko tidak segera berubah menjadi kenaikan produktivitas regional.

Penilaian ICMI Jawa Timur

Dengan mempertimbangkan akses yang kuat namun kualitas yang belum merata, ICMI Jawa Timur menempatkan sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Kualitas SDM pada 2025 dalam kategori: Prestasi Sedang (Fondasi kokoh, lompatan mutu belum merata.)

Predikat ini mengakui keberhasilan perluasan layanan dan perbaikan indikator dasar, sekaligus menegaskan perlunya reformasi lanjutan yang menitikberatkan pada kualitas, kesetaraan wilayah, dan keterkaitan dengan produktivitas ekonomi.

Catatan Strategis ICMI Jawa Timur

  1. Pemerataan mutu pendidikan berbasis wilayah melalui intervensi kualitas guru, manajemen sekolah, dan pembelajaran digital adaptif.

  2. Penguatan layanan primer kesehatan (promotif–preventif) untuk menekan beban penyakit dan ketimpangan layanan.

  3. Penyelarasan pendidikan dan industri melalui vokasi adaptif, sertifikasi kompetensi, dan kemitraan dunia usaha.

  4. Target lompatan IPM dengan fokus peningkatan kualitas, bukan hanya cakupan layanan.

Baca Juga:  Tiga Tanda Al-Qur’an Telah Menerangi Hati Seseorang

Pendidikan dan kesehatan tidak cukup diukur dari luasnya jaringan. Ukurannya adalah seberapa jauh keduanya mengangkat martabat kerja dan kualitas hidup warga. Pada 2025, Jawa Timur telah membangun fondasi; tantangan berikutnya adalah memastikan fondasi tersebut menopang rumah yang kokoh dan berkeadilan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni