Feature

Ketika Apresiasi Memeluk Perjalanan Mengajarku

35
×

Ketika Apresiasi Memeluk Perjalanan Mengajarku

Sebarkan artikel ini
Penulis bersama Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Gresik M. Fadoli Aziz, M.Pd. (Tagar.co/Istimewa)

Tak pernah saya bayangkan bahwa perjalanan mengajar yang penuh keheningan dan ketekunan ini akhirnya dijawab dengan sebuah apresiasi yang begitu hangat.

Oleh Ria Rizaniyah, S.Pd., Guru Matematika SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas), Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Ada momen-momen dalam hidup yang datang tanpa diduga, tetapi meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini menjadi salah satu momen istimewa dalam perjalanan saya sebagai pendidik.

Pada apel resmi Forum Guru Muhammadiyah Gresik bersama Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Gresik, Selasa (25/11/25), saya menerima anugerah Guru Berprestasi Terbaik Tingkat SMP Muhammadiyah Kabupaten Gresik.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan beberapa capaian, di antaranya Juara 1 Lomba Video Pembelajaran Inovatif Festival Faqih Usman Ke-9 serta keterlibatan saya sebagai penulis Buku Bilingual Holistik Integratif yang diterbitkan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dua capaian ini menjadi penilaian utama dan menguatkan amanah penghargaan tersebut.

Pagi itu, saya melangkah dengan penuh syukur. Di hadapan guru-guru hebat dari berbagai sekolah Muhammadiyah, saya merasakan bahwa perjalanan saya sedang dipeluk apresiasi yang tulus. Terima kasih saya sampaikan kepada Kepala SMP Muhammadiyah 12 GKB Yugo Triawanto, M.Si., beserta jajaran, para ustaz-ustazah, keluarga, sahabat, dan anak-anak kelas 7–9 Spemdalas yang selalu memberi dukungan terbaik.

Baca Juga:  Tampilan Ramadan Penuh Cinta Siswa Spemdalas Meriahkan Iftar Ning Berlian

Selama mengajar di Spemdalas, saya belajar bahwa mengajar bukan sekadar tentang angka, rumus, atau penilaian. Mengajar adalah tentang hati. Saya percaya setiap anak membawa cahayanya sendiri, dan tugas saya adalah membantu mereka menemukan cahaya itu. Karena itu, saya selalu berusaha menghadirkan pembelajaran matematika yang mendalam, bermakna, kreatif, dan dekat dengan kehidupan mereka.

Penulis bersama penerima penghargaan lainnya (Tagar.co/Istimewa)

Buku Bilingual Holistik Integratif

Salah satu perjalanan yang sangat berkesan adalah proses seleksi penulisan Buku Bilingual Holistik Integratif. Dari ratusan pendaftar se-Indonesia, saya terpilih menjadi salah satu penulis. Kami mengikuti proses penulisan di BBPMP Semarang, menyusun naskah yang berupaya mengintegrasikan ilmu, iman, dan bahasa dalam pembelajaran modern.

Dalam buku itu, saya menulis bab “Menghitung Nilai Kehidupan dengan Aritmatika Sosial”, “Pencarian Kebenaran melalui Aljabar dan Syariat”, serta “Menuju Saldo Amal Plus” untuk materi bilangan bulat.

Ketika buku tersebut akhirnya terbit dan digunakan di sekolah-sekolah Muhammadiyah pada tahun pelajaran 2025–2026, semua lelah terasa terbayar. Kini, kami juga sedang menyiapkan versi nasional agar buku ini dapat digunakan secara lebih luas di seluruh Indonesia.

Baca Juga:  Quran Time, Cara Spemdalas Menghidupkan Pagi dengan Al-Quran

Bagi saya, matematika bukan hanya tentang logika, tetapi juga tentang logika hati. Saya ingin siswa belajar dengan sadar (mindful), menemukan makna (meaningful), dan menikmati proses belajar dengan gembira (joyful).

Jika mereka mampu menemukan hikmah di balik angka, maka matematika akan menjadi jalan menuju kedewasaan berpikir.

Penghargaan ini meneguhkan kembali panggilan jiwa saya: bahwa menjadi guru adalah perjalanan panjang yang penuh berkah. Selama dijalani dengan hati, setiap langkahnya akan selalu berarti. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni