Feature

Save Sumatra!

73
×

Save Sumatra!

Sebarkan artikel ini
Foto udara kerusakan rumah warga pasca diterjang banjir bandang di Desa Kota Lintang, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Rabu (3/12/2025). (Antara Foto/Syifa Yulinnas/nz])

Banjir bandang di Sumatra bukan sekadar bencana alam; ia adalah peringatan tentang ketidakseimbangan ekosistem yang diperburuk kelalaian manusia. Saatnya bertindak—Save Sumatra.

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Musibah besar kembali menimpa kawasan Sumatra, terutama Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Banjir bandang setelah hujan berhari-hari menelan korban jiwa, merusak lingkungan dan infrastruktur, serta memaksa banyak warga mengungsi.

Baca juga: Bencana Ekologis Indonesia: Saatnya Menjadi Wahabi Lingkungan

Situasi ini menegaskan perlunya kepedulian nyata untuk menyelamatkan Sumatra—Save Sumatra—sebagai seruan moral dan ekologis.

Proses Terjadinya Banjir

Secara alamiah, air mengalami siklus yang berkesinambungan: menguap, menjadi awan, lalu turun sebagai hujan. Proses ini bersifat fisiologis, yaitu mekanisme alami yang juga terjadi dalam tubuh manusia.

Namun, sebagaimana tubuh dapat mengalami gangguan fisiologis dan berubah menjadi kondisi patologis, alam pun dapat mengalami ketidakseimbangan. Ketika curah hujan jauh lebih besar daripada kemampuan bumi menyerap dan menguapkannya kembali, ketimpangan pun muncul. Tanah, hutan, dan pepohonan yang semestinya menjadi reservoir air kehilangan fungsinya; pada titik inilah banjir bandang mudah terjadi.

Baca Juga:  Mengelola Kekuasaan: Antara Amanah dan Godaan

Enam Penyebab Banjir Bandang

Beberapa faktor saling berpadu sehingga banjir bandang terjadi. Alam memberi sinyal, tetapi ulah manusia sering memperburuk dampaknya.

  • Curah hujan yang sangat tinggi.

  • Kebiasaan membuang sampah sembarangan.

  • Penebangan hutan yang tak terkendali.

  • Pembangunan di daerah resapan air.

  • Faktor topografi, yaitu tinggi–rendahnya daratan.

  • Volume air yang terlalu besar dalam waktu singkat.

Kecil Sebagai Kawan, Besar sebagai Lawan

Sejak sekolah kita diajarkan peribahasa: kecil sebagai kawan, besar sebagai lawan. Kalimat sederhana namun terasa sangat relevan hari ini. Ada tiga unsur alam—air, api, dan angin—yang dalam porsi kecil sangat bermanfaat bagi kehidupan. Air untuk minum, api untuk memasak, dan angin untuk kenyamanan.

Tetapi ketika volumenya membesar, ketiganya berubah menjadi ancaman. Air menjadi banjir, angin menjadi angin puting beliung, dan api menjadi kebakaran. Musibah dapat terjadi di mana saja; sebab itu setiap daerah harus menyiapkan diri sebaik mungkin serta meningkatkan kesadaran bersama dalam menjaga alam.

Penyakit yang Mengintai Saat Banjir Bandang

Banjir bandang umumnya membawa lumpur dalam jumlah besar, dan kondisi ini memicu berbagai penyakit serta cedera, antara lain:

  • Aspirasi cairan atau lumpur ke saluran napas, yang dapat menyebabkan sesak hingga kematian.

  • Trauma tubuh akibat benturan material yang terbawa arus.

  • Infeksi saluran napas akut.

  • Infeksi kulit.

  • Gangguan pencernaan.

Baca Juga:  Menelisik Resep Kemajuan Cina: Catatan Perjalanan ke Shenzhen

Upaya Pencegahan Banjir

Mencegah banjir bandang tidak dapat dilakukan dengan langkah-langkah parsial. Ia membutuhkan pendekatan menyeluruh.

  • Menjaga tanah, tumbuhan, dan hutan agar tetap berfungsi sebagai reservoir air.

  • Memastikan sungai dan selokan tetap berfungsi sebagai drainase yang baik.

  • Mengelola sampah dengan benar agar tidak menyumbat aliran sungai.

  • Menguatkan komitmen pemerintah dan masyarakat untuk menjaga alam sebagai amanah ciptaan Allah.

Penutup

Bencana adalah ruang untuk introspeksi, sekaligus peringatan agar kita lebih sungguh-sungguh menjaga kelestarian alam. Ia mendorong kita mempersiapkan diri lebih baik agar dampaknya tidak semakin berat. Di balik semua peristiwa ini, kita diingatkan bahwa ada kekuatan Maha Besar yang mengatur kehidupan.

Banjarmasin, 5 Desember 2025.

Penyunting Mohammad Nurfatoni