Opini

Ekosistem Baik: Khotbah Yusril dan Kritik yang Terselip Rapi

26
×

Ekosistem Baik: Khotbah Yusril dan Kritik yang Terselip Rapi

Sebarkan artikel ini
Yusril Ihza Mahendra sebagai khatib Jumat di Masjid Al-Hijrah, Kantor Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan pada 14 November 2025 (Sumber YouTube YIM)

Dalam khotbah Jumat yang mengejutkan, Yusril Ihza Mahendra mengajak jemaah merenungi nasib orang baik di sistem yang bengkok—seraya menegaskan bahwa kebaikan tak cukup tanpa ekosistem yang menegakkannya.

Catatan oleh Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Konon, di tengah hiruk-pikuk kabinet baru yang lebih mirip rombongan ekspedisi Himalaya —ada yang sibuk pasang tenda kementerian, ada yang gelagapan cari oksigen politik— muncul satu sosok yang tampak seperti anomali: Yusril Ihza Mahendra.

Dia seorang menteri koordinator yang, alih-alih mengumpulkan briefing dari staf ahli, malah berkumpul dengan jemaah untuk khotbah Jumat. Lelaki asal Belitung ini, kata sebagian orang, kalau berdiri di mimbar, seperti bayang-bayang Natsir muda sedang mampir sebentar dari masa lalu.

Benar saja. Pertengahan November kemarin, ketika sebagian pejabat sudah sibuk memikirkan akhir tahun—proyek belum cair, laporan belum rapi—Yusril justru berdiri di mimbar Masjid Al-Hijrah, di lingkungan kantornya di kompleks Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kuningan, Jakarta.

Baca juga: Fatwa MUI dan Sensasi Pajak Seadil Zakat

Tempat yang sehari-hari penuh dengan urusan paspor, deportasi, dan tetek-bengek pemasyarakatan itu tiap Jumat mendadak menjadi tempat kontemplasi moral. Kalau sistem imigrasi sering membuat orang hilang kesabaran, khutbah justru mengajak jamaah mencari kesabaran yang mungkin hilang.

Judul khotbahnya sederhana tapi menyentak: Untuk Apa Kita Menjadi Orang Baik? Ini semacam pertanyaan yang biasanya hanya muncul saat kita baru saja ditilang padahal sudah pakai helm dobel, atau ketika melihat maling koruptor senyum-senyum di TV.

Yusril memadatkan khotbahnya dengan pengamatan yang begitu manusiawi: hidup sering berperilaku absurd. Orang baik kadang tumbang lebih cepat, sementara orang jahat bisa hidup nyaman, penuh endorsement duniawi. Seolah-olah alam semesta sedang bercanda, atau mungkin server kehidupan sedang error.

Namun di sinilah Yusril mengunci pesan moralnya. Katanya, kalau ukuran hidup hanya hasil dunia, tentu pertanyaan itu jadi menyakitkan. Tapi Islam—sejak masa awalnya—sudah menancapkan dua jangkar yang membuat manusia tidak hanyut oleh drama dunia: iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir.

Baca Juga:  Berkah di Jantung Apple

Dua pilar yang membuat seseorang tetap memilih baik meskipun dunia sering tidak ramah pada kebaikan.

Memutar Ulang Sejarah

Yusril memulai khotbahnya mengacu Tarikh Al-Thabari, dengan memutar ulang babak-babak sejarah Islam yang sering kita dengar, tetapi jarang kita resapi dengan serius. Apalagi di tengah suasana kantor yang pintunya lebih sering berderit karena keluar-masuknya berkas daripada keluar-masuknya hidayah.

Ia mengingatkan jemaah pada masa ketika Nabi Muhammad Saw. memulai perjuangannya dengan pengikut yang bisa dihitung lebih cepat dari jumlah staf ahli menko. Mereka segelintir orang Makkah yang setia meski diejek, dicemooh, dikepung hoaks, dan diboikot sosial-ekonomi oleh elite Quraisy.

Kemudian ia mengisahkan bagaimana tekanan itu memaksa Nabi meminta sekitar seratus Muslim berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), mencari perlindungan pada Raja Najasyi yang adil. Ini sebuah eksodus kecil tapi monumental, seperti rapat kabinet yang beralih dari gedung A ke gedung B.

Hijrah itu bukan sekadar “pindah lokasi”, melainkan strategi moral dan spiritual: bukti bahwa kebaikan butuh tempat yang memungkinkan ia tumbuh. Nabi tak hanya mengajarkan sabar dan tawakal, tapi juga mencari ekosistem di mana kebenaran tak dibungkam dan keadilan mendapat ruang bernapas.

Dari pengalaman hijrah ke Habasyah itulah Nabi kemudian pada akhirnya memutuskan mengajak seluruh warga Muslim berhijrah ke Madinah. Bagi Yusril, perjalanan umat Islam adalah perjalanan membangun sistem yang adil —bukan hanya membangun pribadi yang saleh.

Garis Merah

Dengan cerdik Yusril kemudian menarik garis merah dari peristiwa itu ke inti khotbahnya: bahwa menjadi orang baik saja tidak cukup jika struktur sosial dan politik tidak menopang. Sama seperti kaum Muslim awal yang saleh, tetapi tetap tertindas di Makkah karena sistemnya bengkok.

Begitu pula halnya hari ini. Individu sebaik apa pun akan kesulitan hidup jika hukum pincang, birokrasi gemuk namun lelet, dan lembaga tidak mampu melindungi yang benar. Maka tugas generasi sekarang sama seperti generasi sahabat dulu: mempertahankan kebaikan diri, sekaligus memperjuangkan ekosistem yang membuat kebaikan tidak mati muda.

Baca Juga:  Kalkulasi Geopolitik Prabowo: Membaca Peta Lama di Medan Baru?

Khotbah itu pun bergerak. Dari moralitas individu menuju peta besar kehidupan sosial. Di sinilah letak menariknya. Yusril bukan sekadar dai, ia menko yang mengurusi hukum, HAM, imigrasi, dan pemasyarakatan—empat bidang yang kalau satu saja macet, rasa keadilan masyarakat bisa masuk ICU.

Contoh Kecil

Maka saat ia mengatakan bahwa “dalam sistem yang buruk, orang baik bisa frustrasi; dalam sistem yang baik, orang jahat dipaksa jadi baik”, itu bukan kalimat filosofis belaka. Itu pengalaman birokrasi, diagnosis teknokrat yang sudah makan asam garam regulasi dari zaman Orde Baru sampai era Reformasi.

Bayangkan analogi sederhana dari kehidupan sehari-hari yang ia sampaikan: kalau kantin kementerian kacau, antrean panjang, pembayaran berbelit, dan makanannya suka habis duluan, maka orang paling sabar pun lama-lama ingin teriak juga.

Tapi kalau sistem kantin rapi, antre jelas, makanan terdistribusi baik, maka orang yang tadinya suka serobot pun terpaksa ikut tertib. Kebaikan, kata Yusril, bukan hanya soal karakter pribadi; ia butuh ekosistem. Ia harus diperjuangkan dalam bentuk aturan, lembaga, dan konsistensi.

Khotbah Masjid dan Khotbah Negara

Di titik ini khotbah itu terasa sebagai dua khotbah dalam satu tubuh: khotbah masjid dan khotbah negara. Di satu sisi ia mengingatkan jamaah bahwa kebaikan pribadi tetap prioritas. Di sisi lain, sebagai pejabat, ia sedang menegaskan PR besar pemerintah.

Negara mesti membangun sistem yang tak membuat orang baik merasa sia-sia. Ketika Yusril mengatakan bahwa kebaikan harus tegak dalam sistem yang benar, ia seolah sedang menebalkan garis batas tanggung jawab: “Kita boleh saleh di sajadah, tapi negara harus saleh di meja kebijakan.”

Baca Juga:  Infus Muhammadiyah: Dari Cairan Medis ke Kedaulatan Bangsa

Dan betapa ironi negeri ini sering kita temukan di situ: banyak orang baik tersangkut aturan tak masuk akal, sementara orang nakal pandai berenang di celah regulasi. Maka khotbah Yusril, meskipun dibungkus tutur lembut, sejatinya adalah kritik halus.

Khotbahnya juga pengingat keras bahwa moralitas publik tidak akan tegak jika sistemnya bengkok. Di akhir khotbahnya ia kemudian mengajak jemaah melihat kebaikan secara lebih luas. Ia menegaskan bahwa menjadi baik bukan jaminan mulusnya hidup.

Bahwa pahala bukan selalu berupa jabatan atau proyek, tetapi ketenangan hati dan kejelasan tujuan. Bahwa dunia memang sering tidak adil, tetapi keadilan akhirat pasti. Dan bahwa tugas manusia adalah terus memperbaiki diri —dan bila punya kuasa, memperbaiki sistem.

Pada akhirnya kita diajak merenung: orang baik pun bisa kalah, bisa lelah, bisa kecewa. Tapi justru karena dunia sering kacau, kebaikan jadi relevan. Tanpa kebaikan, hidup kita hanya tinggal perebutan antrean dan rebutan mikrofon. Namun tanpa sistem yang benar, kebaikan pun hanya jadi berita harian yang cepat menguap.

Maka mungkin itu alasan Yusril berdiri di mimbar dan di ruang rapat sekaligus. Di satu tempat ia mengajak orang menjadi baik, di tempat lain ia mengupayakan agar kebaikan itu punya rumah, atap, dan pagar. Sebab orang baik tanpa sistem hanya jadi legenda; tapi sistem baik tanpa orang baik hanya jadi alat baru bagi mereka yang licik.

Dan dari khotbah hari itu, kita belajar satu hal: dunia boleh tak adil, tapi manusia tidak boleh menyerah untuk menjadi baik—dan bertugas memastikan agar sistem ikut membaik. Dari tragedi ketidakadilan lahir hikmah, dari antrean panjang lahir kesabaran, dan dari khotbah singkat di hari Jumat lahir renungan panjang tentang bagaimana negara seharusnya berjalan. (#)

Ma’had Tadabbur Al-Qur’an, 28 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni