Cerpen

Bengkel tanpa Suku Cadang Pengganti

37
×

Bengkel tanpa Suku Cadang Pengganti

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Cinta yang tak selesai, kehilangan yang tak terulang, dan hidup yang terus berjalan. Bagi Darsa, bengkel bukan sekadar tempat memperbaiki mesin, tapi tempat belajar memperbaiki hati.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Pagi itu matahari baru saja naik ketika suara truk dan jerit rem mengguncang jalan raya Batuwangi. Seorang pengemudi ojek online perempuan tersenggol truk dan terjun ke parit tanpa pembatas.

Kabar itu menyebar cepat, menembus layar ponsel seorang mekanik bernama Darsa. Di layar itu, ia melihat nama yang tak asing—nama seseorang yang dulu membuatnya tersenyum dengan tulus.

Baca cerpen lainnya: Lemari Kosong Pesantren

Bengkel kecil itu berdiri di tepi jalan Batuwangi, diapit sawah dan gudang pakan ayam. Udara pagi membawa aroma solar, oli, dan kopi hitam yang belum sempat dihabiskan. Darsa baru saja membuka pintu besi bengkelnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk di grup warga desa:

“Kecelakaan depan pabrik kue, ojek online perempuan masuk parit. Meninggal dunia di tempat.”

Ia hampir mengabaikannya, hingga matanya menangkap nama korban: Puji Ariani.
Dunia di sekelilingnya tiba-tiba beku.

Tangannya gemetar saat membuka tautan berita lokal yang memuat foto motor hijau rebah di tepi parit, helm pecah, sandal terlepas. Di bawahnya, kalimat yang membuat napasnya tercekat:

“Korban diketahui baru menjemput anaknya dari pondok.”

Darsa memejamkan mata. Ia tahu siapa Puji. Lima tahun lalu, mereka berdiri berdampingan di tempat yang sama—bengkel itu. Tapi waktu dan pilihan hidup memisahkan mereka dengan cara yang tak pernah ia pahami sepenuhnya.

Puji dulunya bukan pengemudi ojek. Ia perempuan ceria yang sering datang ke bengkel membawa motor Supra tua milik ayahnya. Tiap kali datang, ia selalu memulai percakapan dengan candaan kecil.

“Mas Darsa, motor ini kayak aku. Cepat panas, tapi susah dingin,” katanya sambil terkekeh.

Darsa, yang kala itu baru merintis bengkel, hanya bisa tersenyum malu. Tapi dari tatapan mata mereka, orang-orang bisa menebak ada sesuatu yang belum sempat diucapkan.

Namun kisah itu tak sempat tumbuh. Puji menikah dengan lelaki lain, seorang sopir truk, dan pergi meninggalkan Batuwangi. Darsa tak pernah menyalahkannya. Ia hanya menutup hati, lalu mengubur kenangan itu dalam bunyi palu dan aroma bensin.

Baca Juga:  Doa untuk Memperindah Akhlak

Kini, di hadapannya terparkir mobil kuning yang baru selesai ia perbaiki. Mobil itu punya kisahnya sendiri—hadiah pernikahan yang ternyata palsu, tapi justru mengajarkannya makna kesungguhan. Sejak hari itu, Darsa berubah. Ia berhenti mengukur kebahagiaan dari gengsi. Ia belajar mencintai kerja keras, ketulusan, dan kejujuran.

Dan hari ini, di tengah bengkel yang masih berdebu, berita tentang Puji datang seperti kilatan dari masa lalu yang belum selesai.

Ia duduk di kursi bambu, menatap mobil kuning itu yang berkilau di bawah sinar matahari. Di kaca depannya, bayangan wajahnya memantul—lelaki yang dulu terlalu banyak menyimpan kata.

##

Sore menjelang. Warga Batuwangi ramai menuju rumah duka. Darsa ikut berangkat, menumpang motor bebek tua miliknya. Di sepanjang jalan, ia tak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya mendengar gumaman warga tentang kecelakaan tragis itu:

“Katanya Ibu Puji tersenggol truk pas mau menyalip.”

“Parit di situ dalam, tidak ada pembatas.”

“Anaknya luka parah, tapi selamat.”

Ketika tiba di rumah duka, suara tangis pecah. Darsa melihat peti kayu sederhana di ruang tengah, dikelilingi bunga melati dan kain putih. Di pojok ruangan, seorang anak laki-laki duduk diam, tangannya diperban, matanya merah.

“Ini anak almarhumah?” tanya Darsa pada seorang kerabat.

“Iya,” jawabnya. “Namanya Dika. Masih kelas dua SMP. Katanya tadi malam ibunya berjanji akan mengantar ke pondok lagi usai Subuh. Tapi takdir berkata lain.”

Darsa menatap anak itu lama. Ada sesuatu di wajahnya—garis lembut di alis dan lesung kecil di pipi—yang mengingatkannya pada seseorang.

Malam itu, setelah semua pelayat pulang, Darsa masih duduk di beranda rumah duka. Hujan turun perlahan, membasahi tanah dan bunga-bunga di sekitar nisan baru. Ia menatapnya lama, seolah ingin mengucapkan sesuatu yang tak pernah sempat terucap.

“Puji… kalau waktu bisa diulang, aku tetap ingin memperbaiki semuanya. Tapi mungkin, hidup memang bengkel tanpa suku cadang pengganti.”

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Merawat Cinta setelah Ramadan

Suara hujan menyamarkan air mata yang jatuh di pipinya.

###

Beberapa hari kemudian, Darsa kembali ke bengkelnya. Hidup berjalan lagi, meski ada ruang di dadanya yang terasa kosong. Di pojok bengkel, mobil kuning itu masih terparkir. Ia belum menjualnya meski beberapa orang sudah menawar.

Suatu siang, seorang bocah datang ke bengkelnya. Bocah itu memakai seragam pondok, membawa tas kecil, dan menatap mobil kuning itu dengan kagum.

“Mas, mobilnya keren,” katanya polos.

“Dulu mobil ini hadiah pernikahan,” jawab Darsa. “Tapi sekarang hadiah untuk belajar ikhlas.”

“Ikhlas itu apa, Mas?” tanya bocah itu.

“Kalau kamu kehilangan sesuatu tapi tetap mau memperbaikinya, itu namanya ikhlas.”

Bocah itu mengangguk, lalu tersenyum.

“Mas… aku Dika. Anak Ibu Puji.”

Darsa tertegun. Waktu seakan berhenti sejenak.

“Ayahku sudah lama tidak pulang,” lanjut Dika. “Nenek bilang aku boleh bantu kerja biar tidak bengong di rumah. Mas mau tidak ajari aku memperbaiki motor?”

Darsa menatap bocah itu lama, lalu tersenyum tipis.

“Mau. Tapi kamu harus kuat, ya. Bengkel itu bukan hanya tempat memperbaiki mesin, tapi juga tempat belajar memperbaiki hidup.”

Hari-hari berikutnya berubah. Dika sering datang membantu di bengkel. Ia membersihkan perkakas, belajar mengganti oli, dan tertawa lepas ketika tangannya kotor kena oli. Setiap kali Darsa melihatnya, ia merasa seperti sedang memperbaiki bagian dari hidupnya sendiri yang dulu rusak.

Suatu sore, ketika mereka sedang memperbaiki motor, Dika bertanya,

“Mas, Ibu dulu sering ke sini, ya?”

“Iya,” jawab Darsa pelan. “Waktu motor kakekmu rusak.”

“Terus Ibu suka marah tidak kalau motor lama diperbaikinya?”

“Tidak,” kata Darsa tersenyum. “Dia malah suka bercanda. Katanya, ‘Yang penting mesinnya nyala, biar bisa pulang dengan senyum.’”

Dika menatap langit sore, lalu berbisik pelan,

“Aku juga mau pulang dengan senyum, Mas.”

Kalimat itu menghantam dada Darsa seperti petir kecil yang lembut. Ia tahu, di balik senyum bocah itu, tersimpan rindu yang sama beratnya dengan masa lalu yang belum selesai.

Baca Juga:  Ujian Kejujuran di Alun-Alun Rempah

Beberapa bulan berlalu. Bengkel itu kian ramai. Orang-orang mulai mengenal Darsa dan Dika sebagai “duo mekanik Batuwangi.” Di antara tumpukan alat dan suara mesin, mereka membangun kehidupan baru—bukan dari kebohongan atau gengsi, tapi dari peluh dan kejujuran.

Suatu pagi, seorang sopir truk datang. Wajahnya lelah, matanya sembab. Ia menyerahkan sebuah amplop kepada Darsa.

“Mas… saya suaminya almarhumah Puji. Ini ada sedikit uang asuransi. Katanya dulu istri saya pernah bilang, kalau meninggal, uang ini buat orang yang mau jaga Dika.”

Darsa menerima amplop itu dengan tangan gemetar.

“Saya… tidak tahu harus bilang apa.”

Sopir itu tersenyum getir.

“Bilang saja terima kasih. Karena saya tidak bisa menjadi ayah yang baik.”

Setelah sopir itu pergi, Darsa menatap amplop itu lama. Di dalamnya bukan sekadar uang, tapi juga pengakuan, pengampunan, dan mungkin—takdir yang berputar dengan cara paling lembut.

Ia menatap Dika yang sedang membersihkan baut di pojok bengkel, lalu berkata dalam hati,

“Puji, akhirnya aku tahu. Senyum yang dulu kau ajarkan bukan di depan kamera, tapi di depan hidup yang terus berjalan.”

Mobil kuning di garasi kembali berkilau sore itu, memantulkan wajah Darsa yang tersenyum untuk pertama kali tanpa rasa bersalah.

Namun di kaca belakangnya, samar-samar ia melihat bayangan perempuan berkerudung, tersenyum lembut sebelum perlahan menghilang.

Keesokan harinya, Darsa menemukan catatan kecil terselip di bawah jok mobil kuning itu, tulisan tangan halus dengan tinta hampir pudar:

“Mas Darsa, kalau kau baca ini suatu hari nanti, berarti aku sudah tak bisa datang lagi. Tapi aku titip Dika padamu. Karena aku tahu, kau satu-satunya orang yang tak pernah memoles cintanya dengan dusta.”

Darsa menutup catatan itu pelan. Lalu, untuk pertama kali setelah sekian tahun, ia benar-benar menangis—bukan karena kehilangan, tapi karena akhirnya menemukan alasan untuk terus hidup. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni