Feature

Menembus Gelap, Meraih Terang: Kisah Gadis Difabel Netra Juara MTQ

39
×

Menembus Gelap, Meraih Terang: Kisah Gadis Difabel Netra Juara MTQ

Sebarkan artikel ini
Wanda Nur Nabilah (kiri) dan Windi Nur Fadilah di ruang lomba cabang disabilitas MTQ Ke-5 PDM Gresik, Perguruan Muhammadiyah Cerme Gresik, Jawa Timur, Ahad, 12 Oktober 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Tanpa penglihatan, tapi penuh cahaya. Windi Nur Fadilah dan Wanda Nur Nabilah datang sendiri ke ajang MTQ Ke-5 PDM Gresik, membawa semangat, doa ibu, dan keyakinan bahwa Allah menuntun setiap langkah.

Tagar.co – Langit Surabaya siang itu, Sabtu (11/10/2025), begitu terik. Namun panas menyengat tak mengendurkan semangat dua gadis tunanetra asal Kedamean, Gresik.

Dengan langkah mantap dan senyum yang tak pernah lepas, Windi Nur Fadilah dan Wanda Nur Nabilah berjalan menembus hiruk pikuk kota menuju Perguruan Muhammadiyah Cerme, Gresik—tempat digelarnya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-5 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik.

Baca juga: Juara MTQ Ke-5 PDM Gresik Cabang Disabilitas Diumumkan

Dua mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu berangkat tanpa pendamping. Hidup di asrama kampus telah menempa kemandirian mereka. Kali ini, kemandirian itu diuji dalam perjalanan menuju ajang bergengsi.

“Kami sudah besar, tidak mau merepotkan ibu,” ujar Wanda, mahasiswi Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), sambil tersenyum. Dengan percaya diri, mereka memesan taksi daring melalui gawai. Semua berjalan lancar. “Bapak sopirnya juga asik, ngajak ngobrol banyak sepanjang jalan,” timpal Windi dengan tawa ringan.

Baca Juga:  Balon Kecil di Tangan Nafasya

Kasih Ibu, Langkah Iman

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedamean, Iman, sempat meminta Nur Sianah (42)—ibu dari Wanda dan Windi—untuk mendampingi kedua putrinya. Ia khawatir perjalanan jauh tanpa pendamping akan menyulitkan mereka. Namun, semangat dua gadis itu ternyata menular kepada sang ibu.

“Pak sopir grab sempat bingung, ada penutupan jalan waktu hampir sampai, alhamdulillah Pak Iman langsung bisa menemukan kami,” kenang Wanda.

Nur Sianah, yang sehari-hari bekerja di sawah, menyusul putri-putrinya ke lokasi lomba dengan sepeda motor. “Anak-anak berangkat dari asrama, saya dari rumah. Ketemu di sana,” ujarnya.

Ia mendampingi keduanya sepanjang kegiatan dengan penuh kesabaran, duduk di barisan penonton sambil sesekali menatap panggung dengan mata berbinar.

Wanda Nur Nabilah (kanan) bersama sang ibu Nur Sianah setelah menerima tropi juara lomba cabang disabilitas MTQ Ke-5 PDM Gresik, Perguruan Muhammadiyah Cerme Gresik, Jawa Timur, Ahad, 12 Oktober 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Langit Teduh di Hari Pengumuman

Ahad (12/10/25) sore, langit Cerme terasa teduh. Di puncak acara, suasana mendadak hening ketika Ketua Panitia Pelaksana MTQ Ke-5 PDM Gresik, Hasan Abidin, M.Pd.I., mulai membacakan nama-nama pemenang. Suara lantangnya bergema di aula:

“Juara pertama cabang disabilitas tahfiz tunanetra diraih oleh peserta dengan nomor 5407, atas nama Wanda Nur Nabilah.”

Baca Juga:  Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi

Sejenak, Wanda tertegun. Lalu, air mata Nur Sianah menetes. Ia berdiri, memeluk putrinya erat. Dalam tatap mata keduanya, terpantul rasa syukur yang tak terucap.

Dengan langkah yakin, Wanda naik ke panggung kehormatan menerima trofi kemenangan, diiringi tepuk tangan seluruh hadirin. “Senang sekali, tidak menyangka bisa jadi juara,” katanya lirih.

Dari Kedamean untuk Al-Qur’an

Bagi Wanda, kemenangan ini bukan yang pertama. Tahun 2020 ia juga meraih gelar juara tahfiz dalam lomba tingkat PWM Jawa Timur. Namun kemenangan kali ini terasa berbeda—karena ditempuh dengan perjuangan, kemandirian, dan keberanian.

Kisah Wanda dan Windi menjadi pengingat bahwa cahaya Al-Qur’an mampu menuntun siapa pun, bahkan di tengah keterbatasan penglihatan. Mereka datang bukan hanya membawa suara lantunan ayat suci, tapi juga membawa pesan keteguhan iman dan cinta pada ilmu.

Di balik gemerlap MTQ Ke-5 PDM Gresik, dua gadis tunanetra dari Kedamean itu mengajarkan makna sejati dari kata “melihat”: bukan dengan mata, tapi dengan hati.

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni