
Komunitas Madrasah Cinta lahir dari semangat para orang tua TK Aisyiyah IV Kota Probolinggo untuk belajar menjadi pendidik sejati di rumah—tempat pertama membentuk iman, kasih, dan karakter anak.
Tagar.co — Sebuah komunitas kecil bernama Madrasah Cinta tumbuh dari ruang sederhana: hati para orang tua yang ingin belajar menjadi pendidik sejati bagi anak-anak mereka.
Komunitas ini lahir dari inisiatif Paguyuban Kelompok B2 TK Aisyiyah IV Kota Probolinggo, dengan semangat menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi generasi saleh dan salehah.
Ide itu bermula dari komunikasi hangat antara wali kelas kelompok B2, Izza El Mila, dan Chintia Bella Marbehiga, ibunda ananda Nabila Nur Syaima. Chintia—yang juga mantan guru TK—menggerakkan para walimurid untuk membentuk ruang belajar bersama yang diberi nama Madrasah Cinta.
Baca juga: Guru PAUD Aisyiyah Kota Probolinggo Menyemai Pembelajaran Mendalam
“Pertemuan dilakukan setiap Ahad kedua tiap bulan. Temanya seputar cara mendidik anak, agar orang tua punya bekal mengantarkan anak-anak menjadi generasi yang beriman dan berakhlak,” tutur Chintia Bella Marbehiga.
Pertemuan rutin ini dikemas dalam bentuk silaturahmi dari rumah ke rumah. Suasana akrab dan kekeluargaan mengalir di setiap pertemuan, menjadikan komunitas ini tidak hanya wadah belajar, tetapi juga tempat berbagi cerita, saling menguatkan, dan menumbuhkan cinta dalam mendidik anak.
Kegiatan perdana berlangsung pada September lalu di rumah Fatoni, orang tua ananda Fatin ‘Asyqil Majanillah. Sejak saat itu, relasi antara guru dan orang tua kian hangat. Kepala TK Aisyiyah IV, Ahmad Yani Hariyani, S.Pd., menyambut baik inisiatif tersebut.
“Silakan, agar semakin erat jalinan orang tua dan guru. Usahakan istiqamah sampai anak-anak kelompok B2 lulus,” pesannya memberi semangat.

Fungsi Rumah dalam Perspektif Islam
Pada pertemuan kedua, giliran rumah Dina Istriani, ibunda ananda Malik, menjadi tempat silaturahim. Kali ini, Indah Nurhidayati, Koordinator Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Probolinggo, hadir sebagai narasumber dengan topik Fungsi Rumah dalam Perspektif Islam.
Indah membuka sesi dengan pertanyaan sederhana namun menggugah, “Semakin bertambah usia anak, apakah permasalahannya semakin sedikit atau semakin rumit?”
Pertanyaan itu mengantarkan para orang tua untuk merenungkan pentingnya membangun fondasi iman dari rumah. Ia lalu menjelaskan empat fungsi rumah dalam Islam.
Pertama, rumah sebagai tempat ketenangan (sakinah)—ruang aman dan nyaman di mana suami-istri saling melengkapi, bersabar, dan menjauhkan kemarahan di depan anak-anak.
Kedua, rumah sebagai tempat ibadah, tempat orang tua menjadi teladan dalam salat berjemaah, berzikir, dan mengaji bersama keluarga.
Ketiga, rumah sebagai madrasah (tempat pendidikan). Indah menegaskan pentingnya peran ayah sebagai kepala keluarga, dan istri yang menaati suami sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ia mengutip hadis riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Hibban:
“Apabila seorang wanita mengerjakan salat lima waktu, berpuasa Ramadan, menjaga kehormatan diri, dan menaati suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana pun yang ia kehendaki.”
Dan keempat, rumah sebagai benteng pertahanan, yang melindungi keluarga dari kerusakan moral dan ancaman akhlak zaman.
“Jangan rendahkan suami di hadapan anak,” tandas Indah tegas namun lembut.

Anak-Anak Pun Belajar Bersama
Menariknya, kegiatan Madrasah Cinta ini tidak hanya diperuntukkan bagi orang tua. Anak-anak juga ikut belajar bersama. Sementara para orang tua menyimak materi, anak-anak mengerjakan tugas yang telah disiapkan oleh guru kelas.
Mereka membaca doa, murajaah surat-surat pendek, dan ayat pilihan—dipandu dengan sabar oleh para guru.
“Snack ringan kami siapkan sebagai hadiah kecil agar anak-anak sabar dan tidak mengganggu orang tua yang sedang belajar,” kata Chintia tersenyum.
Sebagai tuan rumah, Dina Istriani mengucapkan terima kasih penuh kehangatan kepada semua walimurid yang hadir.
“Terima kasih sudah rawuh di rumah saya. Sampai jumpa bulan depan, semoga tambah guyub dan berkah,” ujarnya tulus.
Dari rumah ke rumah, dari hati ke hati, Madrasah Cinta terus bertumbuh. Ia menjadi oase bagi para orang tua yang ingin belajar dengan cinta—tentang bagaimana mendidik, memahami, dan menemani anak-anak dalam perjalanan panjang menuju kebaikan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












