
Bukan sekadar jualan, market day di SD Muri mengajarkan anak-anak menghitung modal, melayani pembeli, hingga memasarkan dagangan dengan gaya mereka sendiri.
Tagar.co – Suasana halaman SD Muhammadiyah 1 (SD Muri) Kebomas, Gresik, Jawa Timur, pada Kamis (25/9/2025) berubah bak pasar mini. Tenda dan meja jualan berjajar, aroma jajanan khas anak-anak menguar, dan teriakan kecil para penjual cilik terdengar bersahutan.
Market Day kembali digelar, menjadi ajang siswa belajar wirausaha sejak dini. Kali ini melibatkan siswa kelas 3 dan 6 sebagai penjual. Sementara adik dan kakak kelas lain menjadi konsumen yang antusias memborong dagangan.
Kegiatan ini bukan sekadar berjualan, tetapi sarana menanamkan kreativitas, kerja sama, dan pengelolaan keuangan pada anak-anak sejak SD.

Aneka Menu Kreatif
Di salah satu meja, para siswa dengan seragam Hizbul Wathan dan celemek oranye berdiri percaya diri. Senyum mereka merekah, tangan sibuk melayani pembeli, sementara di depan tersusun aneka jajanan yang menggoda.
Setiap kelas punya menu khasnya. Kelas 3A membawa pentol, tahu bakso, sosis bakar, dan es Milo. Kelas 3B menawarkan roti bakar, bola rambutan, dan es jelly.
Kelas 6A tampil kreatif dengan puding silky Milo cheese, Gorio cream cheese, dan lidi lumer yang cepat ludes. Tak mau kalah, kelas 6B menyiapkan donat glaze, kebab, telur gulung odeng bakar, serta es teh manis yang ramai diburu pembeli.
Cara promosi mereka pun unik. Ada yang lantang berteriak, ada yang membuat poster kecil, dan ada pula yang polos berseru, “Ayo beli, enak lho!” Celotehan itu membuat suasana makin meriah.
Tangan-tangan mungil pun tampak cekatan menghitung uang, menyerahkan kembalian, dan membungkus makanan. Di balik riuh rendah itu, sorot mata mereka memancarkan keseriusan sekaligus keceriaan.
Dari sinilah anak-anak belajar bahwa jual beli bukan sekadar permainan, melainkan latihan nyata menghadapi kehidupan.

Belajar dari Proses
Usai jualan, setiap stan diajak membuat laporan sederhana tentang modal, harga, pendapatan, hingga keuntungan. Hasil keuntungan dimasukkan ke kas kelas masing-masing. Dari sini, siswa belajar bahwa wirausaha juga berarti disiplin, mencatat, dan mengelola hasil.
Meski lelah, rasa puas jelas terpancar. “Aku capek setelah jualan, tapi senang,” ujar Syakira Jauhara Zahrani, siswi kelas 6.
Temannya, Alodia Dwinta Raudhatul Jannah. menimpali, “Ya itu rasanya orang yang bekerja cari uang!” Spontan gelak tawa pun pecah, menjadi penutup manis sebuah pengalaman belajar yang tak terlupakan.
Market Day di SD Muri membuktikan bahwa pendidikan kewirausahaan bisa dimulai sejak dini, dengan cara sederhana, penuh tawa, tapi sarat makna. (#)
Jurnalis Saidah Yuliana Wahyuni Penyunting Mohammad Nurfatoni












