Feature

Menkeu Purbaya: IHSG Anjlok Itu Biasa, Ekonomi Bisa Pulih Cepat

36
×

Menkeu Purbaya: IHSG Anjlok Itu Biasa, Ekonomi Bisa Pulih Cepat

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dicegat wartawan usai dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin 8 September 2025. (Foto kompas.com)

Usai dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin (8/9), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung menanggapi gejolak pasar. Ia menegaskan pengalaman panjangnya di dunia ekonomi membuatnya yakin mampu membalik perlambatan dan mengejar target pertumbuhan ambisius hingga 8 persen.

Tagar.co – Suasana Istana Negara Jakarta, 8 September 2025 sore masih hangat setelah Presiden Prabowo Subianto resmi melantik jajaran menteri baru Kabinet Merah Putih hasil reshuffle jilid kedua.

Salah satu yang paling disorot adalah Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom senior yang dipercaya menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

Baca juga: Sri Mulyani Lengser, Purbaya Yudhi Sadewa Naik Jadi Menteri Keuangan, Ini Sosoknya

Begitu keluar dari ruang pelantikan, Purbaya langsung dicegat wartawan. Pertanyaan demi pertanyaan seputar ekonomi pun dilontarkan, mulai dari arah kebijakan hingga kondisi pasar yang sempat bergejolak.

Dalam keterangannya, Purbaya mengaku masih menyesuaikan diri dengan amanah barunya. Ia menegaskan pesan utama dari Presiden adalah membalik arah ekonomi agar tumbuh lebih cepat. “Ciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, secepat mungkin. Itu yang akan kita kerjakan ke depan,” katanya.

Kenangan dengan Anggito Abimanyu

Dalam kesempatan itu, Purbaya juga menyinggung pengalamannya sebagai orang pasar sejak awal 2000-an. Ia menyebut nama ekonom senior Anggito Abimanyu, yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, sebagai salah satu tokoh yang pernah menjadi atasannya.

“Saya orang pasar. Sejak tahun 2000, 15 tahun lebih. Teman Pak Anggito, dulu di mana-mana yang Pak Anggito karena dia majikan dulu, saya di pasar. Tapi saya sudah kenal pasar cukup lama. Di sini juga tim cukup kuat, Pak Anggito di pasar cukup lama,” ujarnya.

Ia menambahkan, tim yang mendukungnya di Kementerian Keuangan juga memiliki pengalaman panjang di bidang pasar. Hal ini, kata Purbaya, memperkuat keyakinannya bahwa tantangan mempercepat pertumbuhan ekonomi bisa dihadapi bersama.

Selain Anggito, ia juga menyebut sejumlah nama lain yang menjadi teman diskusi dan kolega dalam perjalanan panjang di dunia ekonomi. Menurutnya, pengalaman bersama para ekonom senior itu menjadi modal penting dalam menghadapi amanah baru sebagai Menteri Keuangan.

Menjawab Keresahan Masyarakat

Lebih jauh, Purbaya mengaitkan gejolak pasar dengan perlambatan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Kondisi ini, menurutnya, turut menjadi latar belakang maraknya aksi demonstrasi beberapa waktu terakhir.

“Selama ini ada perlambatan ekonomi karena berbagai hal. Dan keributan demo-demo itu sebetulnya karena masyarakat merasa ekonomi melambat dan tertekan. Nah, sekarang kita harus balikan dengan cepat. Dalam seminggu-dua minggu pasti akan pulih,” jelasnya.

Baca juga: Haedar Nashir: Menteri Baru Harus Punya Empati, Jangan Sakiti Rakyat

Ia menegaskan, penurunan IHSG tidak perlu ditakuti. “Kalau IHSG anjlok itu biasa. Jangan takut. Saya sudah 15 tahun lebih di pasar. Jadi saya tahu betul bagaimana memperbaiki ekonomi,” katanya.

Purbaya juga mengingatkan bahwa perlambatan mulai terasa sejak pertengahan tahun. “Sejak bulan Mei, Juni, Juli, Agustus ke sini, ada indikasi ada sesuatu yang nggak lancar, sehingga ekonomi cenderung melambat di kuartal ketiga. Itulah makanya ketika ada gejolak sedikit, orang gampang terpacu,” paparnya.

Meski begitu, ia optimistis pemerintah memiliki cukup sumber daya untuk mengatasinya. “Kita punya senjata cukup banyak, uang cukup banyak, hanya belum dibelanjakan secara optimal. Saya akan cek dulu,” tambahnya.

Target Tinggi dari Presiden

Purbaya mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memberikan arahan langsung setelah pelantikan. Presiden menekankan pentingnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.

“Saya bilang, berapa kita capai yang 8% itu. Presiden bilang, jangan lama-lama, secepatnya. Ya, kita cobalah,” katanya.

Arahan tersebut disampaikan Presiden dalam rapat singkat di Istana sesaat setelah pengucapan sumpah jabatan. “Barusan. Barusan setelah pelantikan ada meeting di sana dengan para pejabat,” jelas Purbaya.

Meski demikian, ia realistis menilai bahwa target tersebut tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. “Kalau tahun ini 8 persen agak sulit. Tapi dua sampai tiga tahun ke depan ada peluang. Yang penting kita balikin dulu pertumbuhan ke 6 persen lebih, baru kemudian kita kejar lebih tinggi,” tambahnya.

Purbaya pun tidak menutupi perasaannya saat mendengar target itu. “Ya, saya deg-degan. Berat banget. Tapi Presiden cukup agresif,” ujarnya.

Deg-degan, tapi Berbekal Pengalaman

Purbaya tidak menutupi bahwa tuntutan besar tersebut membuatnya merasa tertekan.

“Ya, saya deg-degan. Berat banget. Tapi Presiden cukup agresif,” ujarnya.

Namun, ia segera menegaskan bahwa pengalaman panjangnya di dunia ekonomi menjadi modal utama. “Saya sudah 25 tahun jadi ekonom. Lebih dari 10 tahun jadi tim tank-nya SBY, lima tahun di Komite Ekonomi Nasional, lalu beberapa tahun di KSP. Saya juga membantu Pak Jokowi dalam mengatasi krisis 2020 Covid-19. Jadi saya di samping Pak Jokowi waktu itu,” jelasnya.

Dengan pengalaman itu, Purbaya yakin mampu menjalankan amanah barunya. “Jadi pengalaman saya cukup. Anda nggak usah khawatir,” tegasnya.

Ia bahkan menambahkan optimismenya terhadap prospek ekonomi Indonesia. “Masa depan kita akan cerah. Domestic demand kita kuat. Asal kita kendalikan dengan baik, kita bisa tumbuh dengan baik. 90 persen domestic demand. Masa kita takut?” ucapnya.

Strategi Awal Percepatan Ekonomi

Ditanya soal strategi, Purbaya menjelaskan langkah pertamanya adalah mempercepat penyerapan anggaran.

“Kita punya uang cukup banyak, hanya belum dibelanjakan optimal. Kalau penyerapan melambat, kita akan bentuk tim khusus, seperti yang dulu pernah dilakukan di era SBY dan awal pemerintahan Jokowi. Itu problem biasa yang kita sudah tahu bagaimana memperbaikinya,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa masih ada pengelolaan uang negara yang belum optimal. “Kita akan perbaiki itu. Jadi walaupun anggarannya keserap, kita akan pastikan dananya tidak mengganggu sistem perbankan kita,” ujarnya.

Purbaya juga mengingatkan bahwa strategi serupa sudah beberapa kali ditempuh dalam pengalaman krisis sebelumnya. “Pengalaman itu kita kerjakan tahun 2021, 2020, 2015, 2008, 2009. Jadi Anda nggak usah takut,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya menghidupkan dua mesin pertumbuhan sekaligus, yaitu pemerintah dan swasta.

“Zaman SBY private sector jalan, pemerintah belum optimal. Zaman Pak Jokowi pemerintah yang kencang, tapi private sector agak melemah. Ke depan kita akan hidupkan dua-duanya. Dengan begitu, 6–7 persen tidak terlalu susah dicapai,” jelasnya.

Ia menutup dengan menyampaikan pesan khusus dari Presiden Prabowo. “Pesannya jelas, ciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik, sejahterakan rakyat semaksimal mungkin. Kita nggak boleh gagal dengan program mensejahterakan rakyat ini,” ujarnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni