Telaah

Kesalehan Sejati dan Bahaya Merasa Sempurna

35
×

Kesalehan Sejati dan Bahaya Merasa Sempurna

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Merasa cukup dalam kesalehan justru awal dari kesombongan. Orang saleh sejati selalu merasa kurang, terus berintrospeksi, dan berharap hanya pada rahmat Allah.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Merasa diri telah sempurna dalam kesalehan justru merupakan pintu awal dari kesombongan. Orang saleh sejati tidak menganggap dirinya saleh. Mereka selalu merasa kurang, merasa masih jauh dari sempurna, dan selalu khawatir amalnya tidak diterima.

Inilah hakikat tawadu—sikap merendahkan hati yang menjadi ciri orang-orang beriman sejati.

Baca juga: Tergoda Gaya, Lupa Syukur: Bahaya Tren dalam Kehidupan Modern

Dalam pandangan Islam, kesalehan bukan sekadar penampilan atau pengakuan, melainkan ketulusan hati yang selalu mendekat kepada Allah dengan penuh harap dan rasa takut.

Orang yang benar-benar saleh tidak pernah merasa aman dari dosa, bahkan ketika amalnya banyak, ia tetap menganggap dirinya penuh kekurangan.

Takut Amal Tidak Diterima

Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah dan amal) dengan hati yang takut, karena mereka yakin akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu’minun: 60)

Baca Juga:  Menunda Tobat, Menunda Selamat

Ayat ini menegaskan bahwa orang beriman, meskipun beramal banyak, tetap merasa takut kalau-kalau amal mereka tidak diterima. Inilah sifat orang saleh sejati. Mereka tidak berbangga diri, bahkan selalu introspeksi dan berharap rahmat Allah.

Amal Bukan Jaminan Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ

“Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:

وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِفَضْلٍ مِنْهُ وَرَحْمَةٍ

“Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.”

Hadis ini menegaskan bahwa bahkan Rasulullah ﷺ tidak mengandalkan amal, melainkan rahmat Allah. Maka bagaimana mungkin kita merasa cukup dan aman?

Tawadu Vs. Kesombongan

Sifat tawadu lahir dari kesadaran bahwa segala kebaikan adalah karunia Allah, bukan hasil murni usaha kita. Kesombongan muncul saat seseorang merasa amalnya sudah cukup, lalu meremehkan orang lain. Padahal Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Barang siapa yang tawadu karena Allah, maka Allah akan meninggikannya.” (H.R. Muslim)

Tawadu tidak sama dengan rendah diri berlebihan, tetapi menyadari posisi kita di hadapan Allah. Orang saleh sejati justru merasa khawatir amalnya tidak sepadan dengan nikmat Allah. Mereka selalu berdoa:

Baca Juga:  Waktu Mustajab Hari Jumat

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 127)

Doa para Nabi

Ayat ini mengajarkan bahwa bahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, setelah membangun Ka’bah, tidak merasa bangga, justru berdoa agar amal mereka diterima.

Ciri orang saleh bukan pada ucapan “saya saleh” atau merasa lebih baik dari orang lain. Justru mereka menundukkan kepala, mengakui banyak kekurangan, dan terus memperbaiki diri. Itulah mengapa ulama salaf berkata: “Jika engkau melihat seseorang menganggap dirinya sudah saleh, ketahuilah ia sedang tertipu.”

Kesadaran akan Dosa

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam sabdanya:

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Seandainya kalian tidak berdosa, niscaya Allah akan membinasakan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.” (H.R. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa manusia pasti punya salah, sehingga tidak patut sombong. Justru kesadaran akan dosa mendorong kita untuk istighfar dan tawadu.

Baca Juga:  Doa untuk Memperindah Akhlak

Jangan Pernah Merasa Cukup

Kesalehan yang sejati bukan dinilai dari pengakuan, melainkan dari kerendahan hati. Orang yang menganggap dirinya sudah saleh justru jauh dari kesalehan. Sementara mereka yang selalu merasa kurang, itulah yang dekat dengan Allah. Sebab tawadu adalah mahkota yang tidak terlihat, namun membuat pemiliknya mulia di sisi-Nya.

Maka jangan pernah merasa cukup. Jangan berhenti memperbaiki diri. Karena setan akan membisikkan rasa puas agar kita lalai. Teruslah memohon:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.”

Penutup

Ingatlah, semakin tinggi iman, semakin besar rasa takut dan rendah hati kepada Allah. Ulama berkata: “Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling banyak merasa tidak aman dari dosa-dosanya.”

Jangan pernah menganggap diri sudah cukup saleh. Karena yang merasa cukup, sesungguhnya sedang kekurangan. Yang merasa sempurna, sejatinya sedang jauh dari kesempurnaan. Maka jadilah hamba yang selalu merasa butuh ampunan Allah, karena di situlah letak kemuliaan sejati. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni