Telaah

Hidup Hanya Tiga Hari: Pelajaran dari Hasan Al-Basri

205
×

Hidup Hanya Tiga Hari: Pelajaran dari Hasan Al-Basri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Dunia hanya persinggahan. Hasan Al-Basri berpesan, jangan terjebak pada penyesalan dan jangan terlena pada angan. Yang menentukan bekalmu hanyalah langkah yang kau pilih hari ini.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Hidup ini hakikatnya singkat. Waktu berputar tanpa jeda, meninggalkan kenangan di belakang, harapan di depan, dan kesempatan berharga di hadapan kita. Tiga hari yang dimaksud Hasan Al-Basri—kemarin, besok, dan hari ini—menjadi cermin bagaimana seharusnya kita mengatur hati, langkah, dan amal.

Kemarin adalah masa yang telah menjadi sejarah. Ia tidak akan kembali, meski kita menyesal atau meratap. Semua kesalahan yang terjadi hanya bisa diperbaiki dengan taubat, bukan diulang dari awal. Allah Swt. berfirman:

 إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 70)

Kemarin menyimpan pelajaran, baik dari kegagalan maupun keberhasilan. Namun ia tak boleh menjadi beban yang mengikat langkah. Rasulullah Saw. bersabda:

Baca Juga:  Niat yang Terlewat, Puasa Tetap Sah?

 إِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ

“Jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu sore. Dan jika engkau berada di waktu sore, jangan menunggu pagi.” (H.R. Bukhari)

Besok adalah masa yang belum tentu kita temui. Betapa banyak orang yang berencana untuk esok, namun tak pernah menginjakkan kaki di hari itu. Harapan boleh kita susun, tetapi kepastian hanya milik Allah Swt. Firman-Nya:

وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Lukman: 34)

Orang yang bijak tak menjual waktunya kepada angan-angan. Ia mengisi setiap kesempatan dengan persiapan menuju akhirat. Sebab esok mungkin tak ada, dan kematian datang tanpa undangan. Rasulullah Saw. bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari)

Baca Juga:  Waktu Mustajab Hari Jumat

Hari ini adalah satu-satunya milik kita. Inilah ladang untuk menanam amal, sebelum senja menutup waktu. Hari ini adalah tempat kita menabung kebaikan, memperbaiki kesalahan, dan memanfaatkan napas yang Allah izinkan. Allah Swt. berfirman:

 فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Al-Baqarah: 148)

Menghargai hari ini berarti mengisinya dengan zikir, ibadah, kerja yang halal, dan akhlak mulia. Nabi Saw. bersabda:

« اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, luangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR. Hakim)

Seorang mukmin sejati selalu menutup hari dengan evaluasi. Umar bin Khattab radiyallahuanhu berkata:

« حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا »

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Kesadaran bahwa dunia ini hanya tiga hari mengajarkan kita untuk tidak terjebak pada penyesalan masa lalu, tidak terlena oleh harapan masa depan, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan masa kini. Tiga hari ini adalah lingkaran yang terus bergerak; kemarin menjauh, besok misteri, dan hari ini adalah emas yang harus diolah.

Baca Juga:  Hukum Menunda Qada Puasa Ramadan

Hidup yang berkah bukanlah hidup yang panjang umurnya semata, tetapi yang dipenuhi amal saleh. Setiap detik yang kita lalui adalah modal yang akan diminta pertanggungjawabannya. Nabi Saw. mengingatkan:

« لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ… »

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ditanya tentang empat hal…” (H.R. Tirmidzi), di antaranya umur, untuk apa dihabiskan.

Maka, marilah kita isi hari ini dengan amal terbaik. Jangan biarkan ia berlalu seperti angin yang tak berbekas. Kita tidak tahu apakah besok masih diberi kesempatan atau justru menjadi awal dari kehidupan akhirat kita. Dunia hanyalah persinggahan, sedang kampung akhirat adalah tempat kembali.

Seperti kata Hasan Al-Basri yang tertulis pada gambar itu: dunia ini hanya tiga hari. Kemarin telah pergi dan tak akan kembali, besok belum tentu kita jumpai, dan hari ini adalah ladang amal yang nyata. Barang siapa mengisinya dengan kebaikan, ia akan menuai kebahagiaan. Barang siapa menyia-nyiakannya, ia akan menyesal di hadapan Allah Swt. kelak. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…