Feature

Pengrajin Barongan dan Pecut Butuh Modal

54
×

Pengrajin Barongan dan Pecut Butuh Modal

Sebarkan artikel ini
Pengrajin barongan ini belajar dari Lampung dibawa ke desanya. Niatnya ingin melestarikan kesenian tradsional kuda lumping.
Rifki Eka Firmansyah sedang membuat pecut. Koleksi barongan di sampingnya. (Tagar.co/Kuswantoro)

Pengrajin barongan dan pecut ini belajar dari Lampung dibawa ke desanya. Niatnya ingin melestarikan kesenian tradisional kuda lumping.

Tagar.co – Rifki Eka Firmansyah (18), warga Dusun Iburojo Halimo RT 1 RW 8, Desa Kaliuling, Kecamatan Tempursari, Lumajang, punya cerita soal kesenian kuda lumping.

Dia bercerita bagaimana bisa menjadi pengrajin barongan dan pecut. Duaperlengkapan utama ini untuk pertunjukan kuda lumping.

“Saya bisa buat barong dan pecut, tetapi masih terkendala alat. Jadi belum maksimal,” kata Rifki saat ditemui di rumahnya, Senin (18/8/2025).

Rifki mengaku menjadi pengrajin pecut secara otodidak. Awalnya ia hanya melihat tayangan di YouTube, lalu mencoba-coba sendiri hingga bisa menghasilkan karya.

Kalau membuat barongan, ia belajar dari temannya saat bekerja di Lampung.

“Saya memang tertarik dengan dunia kesenian, sekaligus hobi membuat peralatan ini,” ucapnya.

Dia menyampaikan, pecut masih bisa dibuat dengan alat seadanya. Tinggal mengasah keterampilan, membeli benang wol, lalu dirajut, hasilnya sudah bisa dipakai. Namun membuat barongan, ia harus menabung untuk membeli alat pahat.

Baca Juga:  Bupati Hadiri Pembagian Kado Ramadan Lazismu Lumajang

“Ilmu yang saya dapat dari Lampung nanti bisa saya implementasikan di sini. Saya lagi mencoba merintis, selain karena cinta kesenian tradisional juga untuk menambah pendapatan,” katanya.

Menurut Rifki, harga pecut bervariasi. Ada yang tembus Rp700 ribu. Ada yang Rp250 ribu. Paling murah Rp150 ribu ukuran kecil, tergantung modelnya.

Harga barongan lebih mahal. Satu barongan bisa dihargai Rp2 juta, Rp1,5 juta, atau Rp1 juta, menyesuaikan tingkat kesulitan dan detail pembuatannya. Dia suka bentuk barongan kepala naga.

Ia menambahkan, pengerjaan barongan paling lambat bisa memakan waktu dua bulan. Rifki juga pernah mendapat pengalaman mengerjakan barongan untuk beberapa grup kuda lumping, seperti Candra Buana, Tri Budaya Sakti, dan Eka Budaya milik orang Lampung, saat ia masih bekerja di sana.

“Saya belajar ini selama satu tahun di Lampung sambil nyambi kerja. Karena waktu itu sempat putus sekolah ikut tante di Lampung. Ternyata kerja itu butuh ijazah dan keterampilan, sehingga saya pulang ke Jawa dan sekarang melanjutkan sekolah lagi di SMA Trisula Tempursari,” ujarnya.

Baca Juga:  Sebanyak 28 Relawan Penjaga Lintasan KA Terima Kado Ramadan

“Selain itu saya juga senang tari-menari, dan cita-cita saya nanti ingin kuliah di bidang kesenian,” ungkapnya.

Rifki juga berharap ada dukungan dari pemerintah desa, agar kesenian ini tidak punah. Menurutnya, di Iburojo Halimo banyak anak muda yang suka pada kesenian sehingga potensinya sangat besar.

“Ini perlu dipupuk dan didorong semua pihak. Kalau bisa diimplementasikan, saya kira potensi wisata kesenian juga akan menarik wisatawan luar datang ke desa kita. Dengan begitu Desa Kaliuling bisa lebih dikenal di luar sana,” ujarnya.

Bagi Rifki, kesenian tradisional bukan sekadar hiburan, tapi warisan bangsa yang harus dijaga. “Potensi dipasarkan keluar itu ada. Kerajinan seperti ini masih banyak peminatnya, terutama pencinta seni kuda lumping. Jadi perlu kita lestarikan,” ujarnya.

Pecut yang dibuat Rifki terbuat dari bahan sederhana. Sebagian besar didapat dari lingkungan sekitar. Sementara barongan membutuhkan waktu lebih lama. Ada proses membentuk topeng, rangka, melapisi, hingga mengecat agar tampak hidup di panggung.

Meski terbatas, semangat pengrajin Rifki tak surut. Ia yakin jika ada dukungan peralatan, kerajinan ini bisa berkembang lebih jauh. Bahkan bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi pemuda di kampung.

Baca Juga:  Elpiji Langka, Laporan Rakyat saat Halalbihalal dengan Bupati

Dusun Iburojo memang dikenal sebagai salah satu basis kesenian kuda lumping. Dengan kehadiran Rifki, harapan untuk melanjutkan tradisi itu tetap menyala. (#)

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto