Riyadh, ibu kota Arab Saudi, sukses menggelar Esports World Cup. Dari hadiah ratusan juta dolar, konser artis dunia, hingga catur yang masuk daftar cabang, pesta gim ini menandai strategi ambisius Saudi membangun ekonomi digital global.
Catatan Ahmadie Thaha; Kolumnis
Tagar.co – Wahai pembaca yang budiman dan agak heran. Siapa sangka negara yang dulu bikin kita membayangkan padang pasir, unta, dan fatwa serius, sekarang juga bisa bikin lampu neon, panggung mega, dan gamer berdiri tegap menenteng mouse seperti punggawa zaman now?
Riyadh, ibu kota Arab Saudi, baru saja menjadi tuan rumah pesta besar gim kelas dunia. Ini menegaskan satu hal: dunia berubah cepat, dan Saudi sedang sibuk menulis ulang naskah masa depan ekonominya lewat joystick dan livestream.
Di panggung utama itu berlangsung Esports World Cup (EWC). Ini festival multipekan berisi cabang-cabang turnamen populer dan acara publik. Bahkan ada konser artis internasional—yang diposisikan bukan sekadar “turnamen” tapi proyek geopolitik-kultural dalam paket hiburan besar-besaran.
Baca juga: Move On-nya Tom Lembong
Ada hadiah ratusan juta dolar, sponsor besar, dan nama-nama penyelenggara serta operator turnamen yang biasa muncul di kalender esport global. Singkatnya: ini bukan sekadar LAN party; inilah konser, karnaval, dan ekonomi kreatif yang dimasukkan ke mesin negara berbentuk kerajaan.
Yang membuat para tetangga (dan para tetua) mendelik: untuk pertama kalinya catur—ya, permainan meja klasik yang sejak lama dianggap “beradab” dan agak terhormat—masuk ke dalam gelaran EWC. Ia didapuk sebagai cabang kompetitif modern, lengkap dengan kontrol waktu cepat, siaran TV yang dinamis, dan hadiah besar.
Partner besar seperti Chess.com ikut serta, dan profil pemain yang muncul bukan hanya GM tradisional, tetapi juga nama-nama yang punya daya tarik media—termasuk Magnus Carlsen yang tampil sebagai magnet penonton. Catur kini bertemu format esport: jam cepat, production value tinggi, dan audiens yang haus aksi kilat.
Sebuah catatan etimologis yang manis: orang Arab lama menyebut catur syatranj (atau di lidah populer kadang terdengar sathranj)—warisan kata dari Persia yang ia sendiri mendapatkannya dari bahasa India kuno, chaturanga. Indonesia pun menyebutnya catur.
Jadi ketika seorang komentator menyebut sathranj di Riyadh modern, sebenarnya itu seperti perayaan kultural: permainan tua yang menempuh ribuan tahun, kini berdentang di layar LED seukuran papan reklame. Sejarahnya panjang; transformasinya kini mengikuti arus ekonomi digital.
Dari sisi data, komunitas gamer dunia kini diperkirakan mencapai 3,2–3,4 miliar orang—hampir setengah populasi bumi. Pasarnya? Jangan kaget. Berbagai proyeksi menyebut angka yang mencengangkan.
Untuk tahun 2025, ada yang memprediksi pasarnya mendekati USD 200 miliar, ada yang lebih optimistis di kisaran USD 236,9 miliar hingga USD 269,06 miliar. Bahkan ada yang menempatkannya di USD 303,47 miliar atau setinggi USD 362,65 miliar.
Perbedaan ini bukan karena analisnya kebanyakan kopi, melainkan karena metode, cakupan, dan segmen yang dihitung berbeda. Yang nyaris pasti: mobile gaming menjadi primadona, menyumbang lebih dari separuh pendapatan global, didorong oleh penetrasi telepon pintar dan internet yang makin luas.
Pergeseran dari penjualan fisik ke digital makin kencang, sementara teknologi seperti Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) berhasil menambah daya pikat, menarik pemain baru lintas generasi. Anak-anak era kini begitu dimanjakan oleh gim yang tiada habisnya.
Singkatnya, ini pasar yang bukan sekadar tumbuh, tetapi meledak—dan siapa yang telat masuk hanya akan jadi penonton di bangku belakang.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini tidak bisa dianggap remeh. Pasar gim kita bernilai USD 4–5 miliar, dengan penetrasi mobile gaming yang luar biasa tinggi. Jumlah pemain mobile menempatkan Indonesia dalam barisan teratas di Asia Tenggara.
Ekosistem esport lokal pun tumbuh—tim, penyelenggara, caster, dan influencer gaming bermunculan. Tetapi kalau dibandingkan dengan skala modal dan infrastruktur acara seperti Riyadh, jaraknya masih seperti beda lapangan futsal dengan stadion internasional.
Nah, apa yang bisa kita pelajari dari “showcase” Riyadh ini? Pertama, bangun infrastruktur acara dan siaran yang kuat. Livestreaming itu ibarat kamera CCTV di warung kopi: semua yang terjadi terlihat jelas.
Kalau koneksi macet atau suara komentator hilang di tengah pertandingan, penonton dunia langsung jadi juri yang kejam. Produksi yang rapi bukan sekadar gengsi, tetapi investasi reputasi.
Kedua, kembangkan jalur pembibitan talenta. Jangan cuma jago menyewa bintang asing untuk numpang lewat. Bangun akademi, berikan beasiswa, dan gelar liga pelajar.
Riyadh tidak sekadar membeli pemain, mereka memamerkan sistem yang memproduksi pemain. Kalau kita hanya mengandalkan “impor dadakan”, prestasi kita akan seperti kembang api tahun baru—indah sebentar, lalu hilang.
Ketiga, jaga ekosistem kreatifnya. Esport bukan cuma soal pemain dan piala. Ada pengembang lokal, pembuat konten, peneliti psikologi gim, sampai biro iklan yang mencari celah promosi lewat turnamen. Semua ini butuh ekosistem yang sehat dan saling dukung. Tanpa itu, industri ini akan meledak sesaat lalu meredup tanpa bekas.
Keempat, pastikan regulasi yang sehat. Dunia esport penuh potensi masalah: perlindungan anak, jam main berlebihan, sengketa hak cipta, sampai pajak yang bikin sponsor ogah datang.
Riyadh mungkin menaruh uang besar, tetapi kita tidak bisa meniru hanya dari sisi dompet. Kita perlu strategi jangka panjang supaya ekosistem ini bukan hanya tren semusim.
Intinya, kesuksesan esport bukanlah hasil dari satu acara megah atau uang hadiah besar, tetapi buah dari perencanaan matang, investasi pada manusia, dan keberanian membangun fondasi yang kokoh.
Infrastruktur siaran membuat dunia percaya, pembibitan talenta memberi masa depan, ekosistem kreatif menumbuhkan inovasi, dan regulasi menjaga keberlanjutan. Tanpa itu semua, kemegahan hanya akan jadi album foto nostalgia di media sosial.
Kalau Indonesia ingin masuk gelanggang global, kita harus berhenti bermimpi jadi juara dengan modal “asal main” dan “asal ramai.”
Dunia esport adalah industri miliaran dolar yang bergerak cepat, tempat reputasi dibangun dari konsistensi dan profesionalisme, bukan sekadar euforia sesaat.
Riyadh sudah menunjukkan jalannya; tinggal kita berani atau tidak melangkah di lintasan yang sama—tentu dengan gaya kita sendiri, tanpa kehilangan rasa dan jati diri.
Karena di dunia kompetisi, seperti di papan syatranj, yang menang bukan yang paling ribut, melainkan yang paling siap menapak jejak selangkah lebih maju.
Cak AT – Ahmadie Thaha
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 16/8/2025













