Feature

Gresik, Magnet Industri dan Lokomotif Ekonomi Jawa Timur

63
×

Gresik, Magnet Industri dan Lokomotif Ekonomi Jawa Timur

Sebarkan artikel ini
Gresik tidak hanya dikenal sebagai kota santri tapi juga kota industri yang memiliki potensi besar. (Foto UMG: Kota Gresik dengan ikon Masjid Agung)

Di bibir pantai utara Jawa, Gresik menyimpan potensi ekonomi luar biasa—ibarat bunga desa yang diperebutkan, layaknya konsumen iPhone yang rela mengantre. Namun, mampukah potensi ini berjalan seiring dengan pemerataan? 

Bagian pertama dari dua tulisan Beni Dwi Komara tentang Kota Gresik.

Tagar.co – Kabupaten Gresik telah menjelma menjadi pusat industri strategis berskala nasional dan internasional yang memberikan kontribusi monumental bagi perekonomian regional maupun nasional.

Baca artikel terkait: Paradoks Gresik: Siapa yang Menikmati Kilau Industri?

Dengan kontribusi lebih dari 70 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mencapai Rp2,4 triliun pada 2023, sektor industri bukan hanya menjadi penggerak utama ekonomi, tetapi juga penopang kehidupan ratusan ribu tenaga kerja di wilayah ini.

Dominasi industri terlihat dari keberadaan perusahaan-perusahaan raksasa di kawasan industri Gresik, mulai dari korporasi multinasional hingga BUMN strategis.

Pusat Operasi Perusahaan Global

Di tataran internasional, Gresik menjadi basis operasi beberapa perusahaan global yang memberi dampak ekonomi signifikan. PT Smelting, perusahaan patungan antara Freeport-McMoRan dan Mitsubishi Materials, menjadi tulang punggung industri pengolahan tembaga nasional.

Baca Juga:  Teknik Industri UMG Dorong Keberlanjutan Sarung Tenun lewat Rekayasa Cerdas

Dengan produksi mencapai 300.000 ton katoda tembaga per tahun, perusahaan ini menyumbang sekitar 15 persen nilai ekspor mineral Indonesia, setara US$2 miliar.

Baca juga:

Kawasan Industri JIIPE (Java Integrated Industrial and Port Estate) yang menelan investasi US$3,5 miliar menjadi magnet bagi lebih dari 50 perusahaan multinasional, seperti Otsuka Chemical dari Jepang dan Nippon Steel.

Kehadiran mereka menciptakan efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Kontribusi pajak dari perusahaan-perusahaan PMA ini mencapai Rp1,1 triliun per tahun atau 45 persen dari total PAD Gresik, belum termasuk penerimaan negara bukan pajak dari aktivitas pelabuhan industri yang menembus Rp800 miliar per tahun.

Peran Strategis Perusahaan Nasional

Sementara itu, perusahaan nasional, terutama BUMN, memainkan peran penting dalam menjaga ketahanan industri. PT Semen Gresik—yang kini tergabung dalam PT Semen Indonesia (Persero) Tbk—merupakan produsen semen terbesar di Indonesia.

Meskipun kini Gresik lebih berperan sebagai pusat pemasaran, dengan kapasitas produksi 30 juta ton per tahun (menguasai 40 persen pasar nasional), perusahaan ini masih memberi kontribusi ekonomi hingga Rp500 miliar per tahun.

Baca Juga:  Akademisi Muhammadiyah Wanti-Wanti Dampak Impor AS pada Jaminan Halal

PT Petrokimia Gresik, salah satu pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara, memproduksi 3,5 juta ton pupuk per tahun. Keberadaannya menjadi penopang ketahanan pangan nasional.

Efek Pengganda Ekonomi

Industri-industri besar ini menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang luar biasa. Sektor formal industri menyerap lebih dari 150.000 tenaga kerja langsung. Di sisi lain, lebih dari 3.000 UMKM di bidang logistik, jasa, dan suku cadang tumbuh subur sebagai penunjang aktivitas industri besar.

Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol Gresik–Jakarta dan pengembangan pelabuhan ikut terdorong oleh kebutuhan distribusi produk. Di bidang inovasi, Gresik menjadi pusat pengembangan teknologi industri mutakhir—mulai dari penerapan teknologi flash smelting oleh PT Smelting (salah satu yang termodern di Asia), pengembangan kawasan industri hijau JIIPE dengan sistem zero waste, hingga inovasi co-processing limbah sebagai bahan bakar alternatif oleh PT Semen Gresik.

Tantangan dan Strategi ke Depan

Meski potensinya besar, Gresik tetap menghadapi tantangan serius. Fluktuasi harga komoditas global kerap memengaruhi kinerja smelter dan pabrik kimia. Untuk mengantisipasinya, Pemerintah Kabupaten Gresik bersama para pemangku kepentingan menyusun strategi jangka panjang, seperti:

  • Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Bungah

  • Pemberian insentif bagi industri hijau dan renewable energy

  • Peningkatan kualitas SDM melalui lembaga pendidikan seperti Politeknik Semen Gresik

Baca Juga:  Kembali ke Desa KKN, Mahasiswi PIAUD UMG Gelar Seminar Parenting

Dengan kontribusi 25 persen terhadap PDRB Jawa Timur, transformasi Gresik dari kota penyangga Surabaya menjadi pusat manufaktur berkelas dunia menjadi bukti nyata keberhasilan integrasi industri nasional dan internasional yang berkelanjutan serta inklusif.

Ke depan, Gresik diproyeksikan tetap menjadi lokomotif industri di kawasan timur Indonesia dengan terus menarik investasi bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni