
Di tangan mahasiswa UMM, limbah kulit buah dan sayur tak lagi jadi masalah. Lewat program KKN Berdampak, mereka menyulapnya menjadi ecoenzyme serbaguna yang kini menjadi ikon baru Dusun Mondoroko.
Tagar.co – Di bawah langit cerah Dusun Mondoroko, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampak sibuk mengaduk ember besar berisi potongan kulit buah, air, dan gula merah.
Di antara aroma fermentasi yang menyeruak, mereka berdiskusi hangat dengan ibu-ibu warga setempat. Momen itu menjadi penanda lahirnya satu inisiatif berdampak: peresmian Kampung Ecoenzyme, 6 Agustus 2025.
Baca juga: Berbekal Bibit Tanaman, UMM Berangkatkan 3.010 Mahasiswa KKN Berdampak ke Pelosok Negeri
Program ini merupakan bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN Berdampak) UMM yang bertujuan menanamkan kepedulian sosial sekaligus mendorong inovasi berbasis masalah di lapangan. Di Mondoroko, masalah itu berupa tumpukan limbah organik dari rumah tangga, pertanian, hingga pasar desa.
“Semua berawal dari kesadaran kami bahwa di kampung ini banyak limbah organik yang melimpah, baik dari pertanian, peternakan, maupun pedagang. Dari situ, kami berpikir untuk mengolahnya menjadi ecoenzyme,” ujar Pandu Hiro Zaisan, Loordinator KKN Mondoroko.

Ecoenzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti sisa buah dan sayuran, dicampur dengan gula merah dan air. Dalam waktu sekitar tiga bulan, cairan ini siap digunakan untuk berbagai keperluan: mulai dari pupuk organik, pengharum ruangan, cairan pel, hingga sabun cuci.
Produk hasil olahan mahasiswa dan warga ini dikemas dalam botol dan paket yang menarik, diberi nama Eco Enzyme Talam, singkatan dari Tata Lingkungan Aman dan Mandiri. Ada Eco Enzyme Talam berwarna cokelat gelap dengan tutup hijau, berdiri di antara paket-paket plastik berisi cairan pembersih, spray, dan cairan multiguna lainnya.
Di label botol tertulis manfaat, cara penggunaan, hingga peringatan: “Tidak Boleh Diminum.” Produk ini dikembangkan tidak hanya untuk pemanfaatan rumah tangga, tetapi juga sebagai langkah awal wirausaha lingkungan.
“Warga kami ajari satu per satu, RT demi RT, terutama para ibu rumah tangga. Harapannya, selain mengurangi limbah, ini bisa menjadi peluang ekonomi baru,” imbuh Pandu, mahasiswa Manajemen UMM.
Antusiasme warga terlihat jelas. Dalam pelatihan yang digelar di balai dusun, para ibu dengan sigap memotong limbah sayur, menimbang gula merah, lalu mencampurnya dalam jerigen-jerigen besar. Tidak sekadar teori, mahasiswa KKN juga menyiapkan poster panduan, membuat label produk, dan menyusun skema pemasaran sederhana.

Kepala Dusun Mondoroko, Solehudin, menyambut baik inisiatif ini. “Kami sangat mengapresiasi mahasiswa UMM. Program seperti ini harus berlanjut, jangan berhenti ketika KKN selesai. Kalau dimonitor terus, dampaknya bisa luar biasa,” tuturnya.
Apresiasi juga datang dari Wakil Rektor IV UMM, Dr. M. Salis Yuniardi, M.Psi., Psikolog, yang secara langsung meninjau lokasi KKN. Ia menegaskan bahwa UMM tetap berkomitmen menjalankan program KKN meski beberapa perguruan tinggi lain mulai meninggalkannya.
“Kami ingin mahasiswa UMM tidak hanya lulus sebagai sarjana, tapi juga hadir sebagai solusi di tengah masyarakat. KKN Berdampak adalah ruang pembelajaran nyata, bukan hanya untuk belajar hidup bermasyarakat, tapi juga berinovasi,” katanya.
Menurut Salis, keberadaan program seperti Kampung Ecoenzyme menjadi bentuk konkret dari arahan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), yang menuntut perguruan tinggi hadir dan berdampak langsung pada masyarakat.
“Setiap lokasi harus punya program unggulan. Bukan sekadar mengajar mengaji atau bantu lomba Agustusan, tapi harus ada program yang benar-benar tidak akan berjalan kalau tidak ada mahasiswa. Kampung Ecoenzyme ini adalah contoh bagus,” pungkasnya.
Dengan semangat kolaboratif dan keberlanjutan, mahasiswa KKN UMM telah membuktikan bahwa limbah bukanlah akhir, melainkan awal dari perubahan—dari sampah menjadi berkah, dari fermentasi menjadi ekonomi, dari desa menjadi inspirasi. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












