Feature

Dari OSN ke ITB: Jalan Terjal Anak Penjual Es Menembus Kampus Impian

43
×

Dari OSN ke ITB: Jalan Terjal Anak Penjual Es Menembus Kampus Impian

Sebarkan artikel ini
Avan Ferdiansyah Hilmi dan deretan piala yang berhasil dia raih

Avan Ferdiansyah Hilmi menapaki jalan prestasi sejak kecil. Lahir dari keluarga sederhana—penjual es keliling—ia mengejar mimpi lewat OSN dan kini diterima di Fakultas Kebumian ITB lewat jalur prestasi.

Tagar.co – Di ruang tamu rumah sederhana di Ponorogo Jawa Timur itu, ratusan piala berjajar rapi. Sekilas menyerupai toko piala, tetapi sesungguhnya itu adalah jejak perjuangan dan kerja keras seorang anak muda bernama Avan Ferdiansyah Hilmi.

Sejak SD hingga SMA, Avan mengukir prestasi demi prestasi yang akhirnya mengantarnya ke kampus impiannya: Institut Teknologi Bandung (ITB).

Lahir pada 6 April 2006, Avan adalah siswa SMA Negeri 1 Ponorogo yang dikenal tak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter. Lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), ia berhasil diterima di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB—pilihan yang dilandasi kecintaannya pada bidang kebumian saat mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Baca juga: 10 Medali dari Kolam Renang: Prestasi Cemerlang Atlet Smamsatu di Porprov 2025

“Saya tertarik ikut lomba sejak kelas 2 SD. Awalnya sering kalah, tapi saya ingin melatih keberanian. Baru di kelas 5 SD saya mulai bisa juara,” kisah Avan, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Selasa (15/7/25) sore.

Baca Juga:  Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah Atasi Kekurangan Guru

Langkah itu terus berlanjut hingga SMP dan SMA. Bidang biologi dan ilmu kebumian menjadi ladang tempur favoritnya. OSN menjadi mimpi besar yang sejak lama ia kejar. Meskipun sempat gagal di tingkat kabupaten dan provinsi pada jenjang sebelumnya, ia tak menyerah. Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil di bangku SMA, ketika ia berhasil lolos OSN tingkat nasional.

“OSN sangat berbeda. Saya bisa bertemu teman-teman hebat dari seluruh Indonesia. Itu pengalaman yang sangat berharga,” katanya.

Di balik torehan prestasi, Avan hidup dalam keterbatasan ekonomi. Ayah dan ibunya, Eko Yudianto dan Ummi Latifah, berjualan es keliling di sekitar sekolah. Namun, kondisi itu tak menyurutkan semangatnya. Bahkan, justru menjadi penyemangat untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang mimpi.

“Saya benar-benar terkejut saat tahu diterima di ITB. Itu kampus impian saya sejak kelas 10,” ujar Avan. Hingga kini, ia memperkirakan telah meraih lebih dari seratus prestasi, mayoritas di bidang IPA.

Avan Ferdiansyah Hilmi bersama kedua orangtuanya: Eko Yudianto dan Ummi Latifah

Sang ibu, Ummi Latifah, mengaku bangga luar biasa. “Dulu orang mengira saya jualan piala. Padahal semua itu milik Avan. Kami simpan agar bisa jadi kenangan dan penyemangat,” tuturnya haru. Harapannya sederhana: Avan bisa menyelesaikan studi dengan baik dan membanggakan keluarga serta tanah kelahirannya.

Baca Juga:  Di Tengah Keterbatasan, Murid SLB Membuktikan Diri lewat TKA

Avan juga mengapresiasi dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, khususnya Pusat Prestasi Nasional, yang mencatat setiap prestasinya melalui Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT). “Dengan SIMT, prestasi saya bisa terdata dan diakui secara resmi. Kalau belum tercatat, kita bisa ajukan kurasi,” jelasnya.

Lebih dari sekadar deretan piala, Avan juga menjalani rutinitas sehat yang ia sebut sebagai bagian dari Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: bangun sebelum subuh, beribadah, sarapan sehat, belajar ulang pelajaran, hingga tidur tepat waktu.

Tak lupa, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membersamainya: orang tua, guru-guru dari SD hingga SMA, dan Pusat Prestasi Nasional yang terus membuka ruang bagi siswa-siswa berprestasi.

“Saya ingin menyelesaikan kuliah tepat waktu, selalu sehat, dan membanggakan orang tua. Semoga mereka bisa melihat saya sukses dan bermanfaat bagi negara,” ujarnya penuh harap.

Menutup kisahnya, Avan menitip pesan untuk semua pelajar di Indonesia: “Jangan pernah takut mencoba hal baru. Di situlah kamu akan menemukan potensi terbaikmu.” (#)

Baca Juga:  Mendikdasmen Menyalakan Optimisme dari Masjid Agung Ruhama Takengon

Penyunting Mohammad Nurfatoni